Kamis, 16 Januari 2020

Apa Rasanya Jalan Kaki 17 Bulan Menyusuri Tembok Besar China?

Mari kenalan sama Dong Yao-hui. Seorang pria yang jalan kaki 17 bulan menyusuri Tembok Besar China. Bagaimana rasanya?

Dong Yao-hui dan dua temannya, Wu De-yu dan Zhang Yuan-hua mencatatakan tinta sejarah. Mereka adalah orang-orang pertama yang jalan kaki menyusuri Tembok Besar China. Mereka menghabiskan waktu 17 bulan lamanya!

Perjalanan Dong dimulai dari Laolongtou alias Si Kepala Naga Tua di Shanhai Pass pada Mei 1984. Mereka bergerak ke barat menuju rangkaian pegunungan di provinsi Hebei sampai ke Jiayu Pass, pada September 1985. Total jarak yang ditempuh mencapai 8 ribu kilometer.

BBC pernah mewawancarai Dong Yao-hui tentang pengalamannya tersebut. Dirangkum detikcom, Kamis (4/7/2019) berikut petikan wawancaranya:

Apa tantangan terberat menyusuri Tembok China dengan berjalan kaki?

"Kami merasakan panasnya terik matahari sampai salju yang sangat dingin. Tapi, tantangan terberat utamanya adalah dari sisi psikologi," kata Dong yang saat perjalanan itu berusia 25 tahun.

Maksudnya?

"Setiap hari kita melihat pemandangan yang sama, pemandangan yang monoton. Belum lagi, jalurnya yang mendaki dan menurun yang seolah tak habis-habis," ujarnya.

Bagaimana dengan persediaan makanan?

"Ada desa-desa di berbagai bagian Tembok Besar China. Mereka sangat baik kepada kami dan memberikan makan," kata Dong.

Kalau air?

"Itu juga tantangan terberatnya. Untuk mendapat air, kita harus keluar dari jalur utama bahkan sampai menuruni pegunungan atau masuk ke hutan mencari sumber air. Itu cukup menguras energi, jadi kita harus hemat-hemat air," papar Dong.

Bagaimana dengan trek sepanjang perjalan?

"Karena kita tidak ada map dan hanya mengikuti rangkaian Tembok Besar China, jadi kita tidak tahu medan yang akan dihadapi. Beberapa medan sulit dilewati, tapi kami lagi-lagi dibantu warga desa yang kami temui. Mereka menunjukan jalur yang aman dilewati," terangnya.

Bagaimana dengan rekan seperjalanan?

"Wu De-yu adalah teman sekolah saya, yang awalnya memang ide kami berdua berjalan kaki menyusuri Tembok Besar China dan kemudian Zhang Yuan-hua ikut. Wu De-yu orangnya sangat puitis dan tempramental, sedangkan Zhang Yuan-hua bekas tentara. Jadi ya, kita sering beradu argumentasi," jelas Dong sambil tertawa.

Apa tujuan dari jalan kaki menyusuri Tembok Besar China ini?

"Kami ingin mendokumentasikannya, kami ingin menjaga sejarahnya dan kami ingin merawat bangunannya. Saat itu belum banyak buku atau referensi yang menjelaskan tentang Tembok China. Maka kami dalam ekspedisi ini, mendokumentasikan semuanya sampai kehidupan di sekitar Tembok Besar China," ungkap Dong.

Pemandangan di sepanjang jalan, bagus nggak?

"Kita menyisir hampir seluruh bagian utara China. Kami melewati berbagai destinasi terkenal seperti Pegunungan Yan dan Taihang, sampai melihat Gurun Gobi," kenangnya.

Anda menjadi orang pertama yang jalan kaki menyusuri Tembok Besar China, bagaimana rasanya saat finish?

"Semua orang mengucapkan selamat dan kami dianggap pahlawan. Kami menjadi terkenal, tapi bukan itu yang kami mau. Sesuai tujuan kami tadi, perjalanan kami adalah untuk bisa menjaga dan merawat Tembok Besar China," tegas Dong.

Tahun 2014, Dong mendirikan sebuah organisasi bernama Great Wall Society. Tujuannya untuk memelihara Tembok Besar China, sekaligus mengedukasi kepada masyarakat untuk menjaga peninggalan mahakarya tersebut.

Hingga kini, Dong masih terus mempelajari dan mengunjungi Tembok Besar China. Awalnya hanya sekadar penasaran dan sebagai petualangan, kini sudah menjadi jalan hidupnya. Mencintai Tembok Besar China, sampai akhir hayat.

"Saat saya di Tembok Besar China, saat saya menyentuh temboknya, saya seperti berkomunikasi dengan orang-orang di zaman dulu. Bayangkan, berapa banyak tangan untuk membangun Tembok Besar China ini selama ratusan tahun. Saya seperti menyentuh mereka," pungkas Dong.

Menurut NASA, Ini Daratan Bumi yang Mirip Bulan

 Islandia menjadi negara impian beberapa traveler. Selain alam yang cantik, ada sisi lain Islandia yang tidak kamu tahu.

Perjalanan ke Bulan sudah berlangsung sejak lama. Melihat kembali ke belakang, ada satu daratan yang membantu manusia untuk mengenal bulan lebih dekat.

Daratan tersebut adalah Islandia. Negara di sebelah barat laut Eropa dan utara Samudera Atlantik ini menjadi penolong manusia untuk bertahan di bulan.

Bagaimana caranya?

Diintip detikcom dari BBC, Rabu (3/7/2019) Islandia tak begitu saja dipilih. Ada alasan khusus mengapa negara ini dijadikan tempat pelatihan oleh NASA.

Di balik elok auroranya, Islandia adalah daratan yang 80 persen daerahnya tak tersentuh. Lebih dari 60 persen daratannya berbatu, tertutup gurun lava dan gletser.

"Islandia benar-benar terlihat seperti Bulan. Ini memiliki pemandangan dunia lain, terutama di musim panas ketika ada lebih sedikit salju dan es di gurun Arktik utara," kata Orlygur Hnefill orlygsson, Direktur Museum Eksplorasi di Husavik.

Namun bukan cuma sekedar mirip Bulan. Para astronot Apollo dikirim ke sini supaya mereka belajar untuk memilih sampel batuan terbaik yang bisa dibawa kembali ke Bumi.

Bukan cuma Islandia. Para astronot juga diuji di Hawaii dan Meteor Crater, Arizona. Tapi tetap saja, dataran tandus di Islandia diyakini yang paling mirip dengan Bulan, khususnya Husavik.

Tempat latihan astronot kebanyakan adalah Gunung Api Askja dan Kawah Hrossaborg. Kawah ini sudah berusia 10.000 tahun.

"Saya menghabiskan sekitar 10 hari menjelajahi daerah-daerah berapi aktif di Islandia, sebuah tempat yang sangat tandus dan terasa seolah-olah saya sudah berada di Bulan," kenang Al Worden, pilot modul perintah untuk misi Apollo 15 yang pergi ke Bulan pada tahun 1971.

Mengingat ini, sebuah kota bernama Husavik mendirikan sebuah museum khusus Bulan. Wisatawan bisa melihat beberapa sampel batuan bulan yang disumbangkan oleh mantan astronot kepada Kota Husavaik.

Apa Rasanya Jalan Kaki 17 Bulan Menyusuri Tembok Besar China?

Mari kenalan sama Dong Yao-hui. Seorang pria yang jalan kaki 17 bulan menyusuri Tembok Besar China. Bagaimana rasanya?

Dong Yao-hui dan dua temannya, Wu De-yu dan Zhang Yuan-hua mencatatakan tinta sejarah. Mereka adalah orang-orang pertama yang jalan kaki menyusuri Tembok Besar China. Mereka menghabiskan waktu 17 bulan lamanya!

Perjalanan Dong dimulai dari Laolongtou alias Si Kepala Naga Tua di Shanhai Pass pada Mei 1984. Mereka bergerak ke barat menuju rangkaian pegunungan di provinsi Hebei sampai ke Jiayu Pass, pada September 1985. Total jarak yang ditempuh mencapai 8 ribu kilometer.

BBC pernah mewawancarai Dong Yao-hui tentang pengalamannya tersebut. Dirangkum detikcom, Kamis (4/7/2019) berikut petikan wawancaranya:

Apa tantangan terberat menyusuri Tembok China dengan berjalan kaki?

"Kami merasakan panasnya terik matahari sampai salju yang sangat dingin. Tapi, tantangan terberat utamanya adalah dari sisi psikologi," kata Dong yang saat perjalanan itu berusia 25 tahun.

Maksudnya?

"Setiap hari kita melihat pemandangan yang sama, pemandangan yang monoton. Belum lagi, jalurnya yang mendaki dan menurun yang seolah tak habis-habis," ujarnya.

Bagaimana dengan persediaan makanan?

"Ada desa-desa di berbagai bagian Tembok Besar China. Mereka sangat baik kepada kami dan memberikan makan," kata Dong.

Kalau air?

"Itu juga tantangan terberatnya. Untuk mendapat air, kita harus keluar dari jalur utama bahkan sampai menuruni pegunungan atau masuk ke hutan mencari sumber air. Itu cukup menguras energi, jadi kita harus hemat-hemat air," papar Dong.

Bagaimana dengan trek sepanjang perjalan?

"Karena kita tidak ada map dan hanya mengikuti rangkaian Tembok Besar China, jadi kita tidak tahu medan yang akan dihadapi. Beberapa medan sulit dilewati, tapi kami lagi-lagi dibantu warga desa yang kami temui. Mereka menunjukan jalur yang aman dilewati," terangnya.

Bagaimana dengan rekan seperjalanan?

"Wu De-yu adalah teman sekolah saya, yang awalnya memang ide kami berdua berjalan kaki menyusuri Tembok Besar China dan kemudian Zhang Yuan-hua ikut. Wu De-yu orangnya sangat puitis dan tempramental, sedangkan Zhang Yuan-hua bekas tentara. Jadi ya, kita sering beradu argumentasi," jelas Dong sambil tertawa.