Rabu, 15 Januari 2020

Bule-bule Juga Sebal dengan Kelakuan Turis Gembel di Bali

Fenomena turis yang kehabisan ongkos lalu pura-pura gembel, juga bikin sebal turis lainnya yang berlibur di Bali. Apa kata mereka?

"Mereka seharusnya dideportasi, harus buktikan mereka nggak punya uang, dan kalau memang mereka kehabisan uang ya balik ke negaranya daripada ke sini minta uang ke warga lokal itu nggak fair," kata turis asal Australia, Blake Wilson (30) saat ditemui di Pantai Kuta, Badung, Bali, Senin (8/7/2019).

Pria yang liburan ke Bali setiap dua minggu sekali ini pun setuju para turis gembel itu diserahkan ke kedutaannya masing-masing. Wilson menyebut jika kehabisan uang seharusnya para bule itu menghubungi keluarga mereka.

"Mereka harusnya malu karena minta-minta, tidak seharusnya mereka bangga uang minta-minta untuk pergi liburan. Mereka seharusnya minta uang ke keluarganya untuk men-support mereka daripada minta ke warga lokal, mereka kan punya penghasilan lebih besar di negaranya, atau mereka melakukan sesuatu daripada minta uang ke warga lokal," tuturnya.

Teman Wilson, Kye Arthur (26) juga berpendapat sama. Arthur menyebut seharusnya jika kehabisan uang para turis itu sebaiknya pulang ke negaranya daripada bikin onar atau masalah di Bali.

"Mereka harus dikembalikan ke negara asalnya sesimpel itu. Karena kalau kami nggak punya uang kami nggak akan ke Bali itu common sense. Kami pulang bekerja lalu ke sini liburan," cetusnya.

Baru-baru ini Imigrasi Bali menegaskan tak mau lagi mengurus turis-turis gembel di Bali. Itu akan menjadi tanggung jawab kedutaan masing-masing negara asal.

"Di kita, cenderung kalau kita tampung harus memberi makan. Sebenarnya kalau anggaran kita, saya kurang sreg harus kasih makan ke orang yang bersandiwara. Kami cenderung lebih memberikan surat dan bertelepon ke kedutaannya bahwa ada warga negara Anda yang memberikan perlindungan Anda ini saya kirim ke kedutaan," tegas Kabid Intelijen dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas I TPI Ngurah Rai Setyo Budiwardoyo di Denpasar, Bali baru-baru ini.

Hutan 'Bonsai' yang Unik di Timur Indonesia

 Indonesia Timur punya banyak keunikan. Di Kabupaten Timor Tengah Selatan ada hutan mirip bonsai yang ajaib.

Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki kekayaan alam yang patut disyukuri. Tak hanya wisata bahari saja, tapi juga wisata pulau atau pegunungan. Salah satunya seperti hutan bonsai di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Bonsai di tempat ini berumur sekitar ratusan tahun. Dari sini kalian akan melihat pohon-pohon bonsai yang menjulang tinggi dengan lumut-lumut yang bergelantungan di antara batang dan ranting-ranting pohon. Hutan bonsai ini terletak di lereng Gunung Mutis yang merupakan salah satu gunung tertinggi di Pulau Timor. Hutan bonsai ini tepatnya berada di Desa Fatumnasi, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Kawasan ini memiliki ketinggian 1.500-2.500 mdpl dengan suhu rata rata 12-19 Celcius. Daerah Ini juga merupakan daerah terdingin di tengah panas dan teriknya Pulau Timor. Jika kalian berada hutan bonsai ini, kalian juga bisa menikmati bentangan alam yang terhampar di setiap sudut tempat ini. Lereng Mutis ini juga sangat jauh dari hiruk-pikuk keramaian kota, sehingga tempat ini sangat cocok untuk kalian yang ingin menenangkan pikiran saat liburan.

Akses ke kabupaten ini sangatlah mudah. Dari kota Kupang, kalian hanya membutuhkan waktu sekitar 2 jam dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat. Selanjutnya, untuk bisa sampai ke hutan bonsai di lereng Mutis ini, kalian membutuhkan waktu sekitar 2 jam lagi dengan menggunakan kendaraan roda 2 ataupun empat.

Bagaimana sobat, apakah Anda tertarik untuk menikmati hutan bonsai di Kabupaten Timor Tengah Selatan?

Amsterdam, Kota Dosa yang Mau Berubah

Selama ini, Amsterdam dikenal dengan sebutan 'Sin City' alias Kota Dosa. Belakangan, julukan itu pelan-pelan mau dihilangkan.

Amsterdam merupakan destinasi favorit turis di Belanda. Suasana kota yang khas dengan ratusan kanal dan kehidupan masyarakat yang gemar naik sepeda menjadi daya tariknya. Belum lagi, terdapat berbagai atraksi wisata serta aneka penginapan dari kelas backpacker sampai yang mewah.

Merujuk pada julukan Sin City, ada dua hal mengapa Amsterdam disebut seperti itu. Pertama adalah ganja yang dilegalkan, sehingga para turis bebas menghisapnya di berbagai Coffee Shops yang tersedia. Kedua, sudah barang tentu si Red Light District tempat prostitusi yang dilegalkan.

Tak dipungkiri, Red Light District adalah daya tarik utama turis. Banyak turis penasaran, bagaimana sih wisata syahwat di sana?

Red Light District berada di dekat stasiun kereta Amsterdam Centraal. Orang Belanda menyebutnya dengan nama De Wallen, sebab lokasinya seolah tertutup.

Saat saya berkunjung ke Red Light District beberapa waktu lalu, suasananya sangat ramai. Kala itu weekdays, nggak kebayang kalau weekend.

Para pekerja seks menampilkan diri di etalase kaca berwarna merah. Jadi, 300-an rumah bordil punya tampilan depan berupa kaca yang besar seperti etalase dan terbagi berbilik-bilik. Di balik kaca itulah para pekerja seks menjajakan diri.

Mereka berpakaian seksi, menari-nari dan menggoda para pelanggan. Berharap ada yang tergoda dan masuk ke dalam bersamanya. Kemudian berakhir di kamar, yang lokasinya ada di ruang belakang dari etalase tersebut.

Bukan hanya itu, bahkan ada 'Live Porn Show' hingga Museum Prostitusi di dalam Red Light District. Alamak...

Seperti saya bilang tadi, banyak turis yang penasaran tentang Red Light District. Jika di masa lalu pengunjungnya adalah orang-orang yang mau melampiaskan syahwat, maka kini kebanyakan orang-orang yang sebatas datang karena penasaran.

Mereka yang penasaran akan berjalan melihat-lihat para pekerja seks di dalam etalase kaca. Di situlah muncul masalah.

Banyak turis yang masih saja bandel memotret para pekerja seks. Padahal, jelas-jelas itu ada aturan larangannya karena dinilai tidak menghargai privasi dan melecehkan. Asal tahu saja, kegiatan prostitusi di Red Light District sudah dilindungi pemerintah Belanda sejak tahun 1988.

Masalah lainnya adalah turis yang berbuat kurang menyenangkan pada para pekerja seks. Mereka terang-terangan menertawakan atau kelewatan menggodanya, yang dinilai tidak menghormatinya.

Kemudian, banyak pula turis yang berbuat onar akibat mabuk-mabukan kemudian berujung pada baku hantam. Maka jangan kaget, kalau melihat polisi berlalu-lalang di Red Light District demi menjaga keamanan.

Femke Halsema sebagai walikota wanita pertama Amsterdam akan melakukan perubahan. Dia akan merombak kawasan Red Light District dan tidak lagi menjadikannya sebagai destinasi wisata.

'The Future of Window Prostitution in Amsterdam', itulah rancangan yang disiapkannya. Halsema punya beberapa opsi seperti menutup etalase kaca, menyiapkan hotel atau bangunan khusus hingga memindahkan lokalisasi ke tempat lain.

"Bagi banyak pengunjung, pekerja seks telah menjadi daya tarik untuk dilihat. Tapi dalam beberapa kasus, banyak perilaku pengunjung yang mengganggu dan tidak sopan seperti merendahkan martabat wanita," kata Halsema seperti dilansir Reuters, Senin (8/7/2019).

Halsema berharap, pihaknya dapat melindungi melindungi keamanan para pekerja seks. Rencananya, pemerintah Kota Amsterdam akan melakukan pertemuan dengan orang-orang di Red Light District untuk membahasnya lebih lanjut. Sehingga, ada keputusan bersama dan tidak ada yang merasa dirugikan.

Julukan Sin City tampaknya mau dihilangkan dari Amsterdam. Tersirat, tampaknya nanti tidak ada lagi embel-embel wisata syahwat di sana.

Masalah overtourism pun diperhatikan serius. Pemerintah Kota Amsterdam mengaku, kotanya sudah kepenuhan turis sehingga membuat warganya kurang nyaman.

Pemerintah Kota Amsterdam tidak mau lagi mempromosikan pariwisata. Bahkan, mereka mau mengarahkan turis-turis yang datang ke destinasi lainnya di Belanda. Jadi ya, tak melulu Amsterdam.

"Amsterdam dipaksa oleh keadaan sehingga harus berubah," tegas Halsema.