Rabu, 15 Januari 2020

Pendaki Gunung Everest Ini Bikin Rute Baru Sendiri, Gila Apa Ya?

Pendaki ini mulai cari rute baru untuk menggapai puncak Gunung Everest. Apa alasannya?

Seperti dilansir CNN, Senin (8/7/2019), pendaki mencari rute baru untuk menjaga sensasi pendakian Gunung Everest tetap hidup. Tahun ini, pendaki Cory Richards dari Amerika Serikat dan Esteban 'Topo' Mena dari Ekuador mulai berangkat mendaki sebuah couloir atau lereng gunung curam di bagian timur laut tanpa bantuan oksigen atau Sherpa.

Setelah 40 jam, kondisi cuaca memaksa mereka untuk membatalkan upaya pendakian, tetapi mereka akan kembali lagi tahun depan. "Tidak ada yang pernah melakukannya sehingga kita tidak tahu persis apa tantangannya. Dan itu bagian dari daya tariknya," tambahnya.

Gunung Everest berreputasi sebagai destinasi wisata bagi orang kaya dan orang yang kuat fisik, karena hanya sekitar 600 orang (termasuk pemandu dan porter) berhasil mencapai puncak tahun ini. Biaya izin untuk mendakinya dari pintu gerbang Nepal sekitar USD 11.000 atau Rp 154,9 juta per orang.

Sementara itu, lebih dari 200 pendaki Gunung Everest telah meninggal di area puncaknya sejak tahun 1922. Komplikasi kesehatan yang mencakup penyakit ketinggian mengakibatkan efek yang fatal, serangan jantung, stroke, dan radang suhu dingin.

Longsoran salju juga salah satu ancamannya. Rute Richards dan Mena memang penuh dengan bahaya, jalurnya membawa mereka melewati medan yang tak terduga, gletser, sabana es dan sungai kering. Jika Anda jatuh, kata Richards, "Anda tidak akan hidup".

"Kamu akan ada dalam bahaya, itu adalah jurang yang dalam, setiap hujan salju turun akan mengenaimu. Pendakian ini mengikuti sungai es yang mengeras dan sangat rapuh. Jika terjadi sesuatu, Anda mati. Dan, ketegangan itu selalu ada", tambahnya.

Ada sekitar 20 rute ke puncak Gunung Everest, tapi sebagian besar pengunjung dan grup ekspedisi akan mendaki di dua jalur utama. Richards dan Mena seperti banyak pendaki, sedang mencari sensasi baru.

Richards sudah mencapai puncak empat kali, Mena telah mendaki gunung dua kali. Namun para pendaki masih mencari tantangan di gunung.

"Ini adalah satu-satunya tempat tertinggi di planet ini, hanya ada satu," tambah Richards.

"Puncak Gunung Everest punya daya tarik dan tantangan tersendiri bagi beberapa orang yang ingin mencapainya di masa hidup mereka," kata Jake Meyer, seorang pendaki asal Inggris yang menjadi warga Inggris termuda yang mendaki Gunung Everest pada 2005, berusia 21.

"Seiring bertambahnya pengalaman pendaki juga keterampilan, akan ada orang yang benar-benar mencoba hal gila baru dan mendorong sampai batas-batasnya," katanya.

Lebih dari enam dekade setelah Edmund Hillary dan Tenzing Norgay mampu menggapai puncak Gunung Everest tahun 1953. Lalu viral foto-foto pada bulan Mei 2019 yang menunjukkan kepadatan di area puncak.

Selama musim pendakian ini, setidaknya 11 orang tewas saat mencoba mencapai puncak Gunung Everest. Musim pendakian paling mematikan yakni di tahun 2015, ketika serangkaian longsoran salju yang dipicu oleh gempa bumi mengubur 19 pendaki.

Mencairnya es dan salju di Gunung Everest telah memperlihatkan mayat para pendaki di berbagai titik. Upaya pembersihan yang dilaksanakan pada tahun ini telah menurunkan lebih dari 3 ton sampah.

Sedot 100.000 Wisatawan, Perputaran Uang di ACF 2019 Capai 5 Miliar

Aceh Culinary Festival (ACF) 2019 yang telah digelar pada 5-7 Juli 2019 berhasil mendatangkan 100 ribu wisatawan. Adapun perputaran uang selama tiga hari pelaksanaan festival tersebut tercatat mencapai Rp 5 miliar.

"Seperti yang kita harapkan, ACF 2019 mampu menjadi magnet wisatawan. Ini merupakan hasil kerja keras dari seluruh pihak yang bahu-membahu mensukseskan acara," ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Jamaluddin dalam keterangan tertulis, Senin (8/7/2019).

Menurut Jamaluddin, ACF 2019 menyajikan berbagai kuliner khas dari 23 kabupaten dan kota yang ada di Aceh serta berbagai atraksi lainnya yang membuat festival semakin berwarna. Sehingga sejak hari pertama Taman Ratu Safiatuddin Banda Aceh tempat dilangsungkannya festival sudah penuh sesak oleh wisatawan. Berbagai atraksi dan kuliner inilah yang juga mampu mendatangkan wisatawan dari Aceh, berbagai kabupaten dan kota lainnya, maupun mancanegara.

"Tahun ini banyak terobosan yang kita hadirkan. Selain itu kita juga mengundang chef dan penggiat kuliner ternama sehingga ACF 2019 kian diminati wisatawan yang terus berdatangan setiap harinya," papar Jamaluddin.

Jamaluddin mencontohkan acara yang menarik wisatawan seperti Culinary Camp yang berisi 50 sesi demo masak, workshop, dan diskusi mengenai kuliner. Ada juga pertunjukan seni budaya serta live musik dari berbagai band ternama. Ramainya wisatawan yang terus membanjiri festival ini juga membuat penjual kuliner yang menjadi peserta ACF 2019 kebanjiran pembeli.

"Berdasarkan data yang dihimpun panitia dari seluruh teman pengisi acara, perputaran uang di acara ini mencapai Rp 5 milliar selama tiga hari pelaksanaan. Sebuah angka yang boleh dibilang fantastis dan tentunya ini membawa efek positif bagi pengembangan ekonomi masyarakat," ucap Jamaluddin.

Staf Ahli Menteri Pariwisata Bidang Management Calendar of Event (CoE), Esthy Reko Astuti mengakui jika ACF 2019 terus mengalami peningkatan dalam upaya menarik minat wisatawan. Keberadaannya pun kini menjadi salah satu atraksi unggulan wisata halal di Aceh.

"Tahun lalu perputaran ekonomi di ACF sampai Rp 3 miliar dan tahun ini mencapai Rp 5 miliar. Ini tentu peningkatan yang luar biasa terutama membantu perekonomian masyarakat dan inilah seharusnya event digelar. Event wisata harus memiliki daya tarik cultural value, commercial value, serta communication value dalam menarik wisatawan seperti ACF 2019 ini," ungkap Esthy.

Sementara itu Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar, Rizki Handayani mengatakan festival ini harus menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya Aceh. Menurutnya, kuliner tidak semata berkaitan dengan pangan, tetapi juga bagian dari tradisi lokal yang perlu dilestarikan.

"Dan ini jelas laku dijual ke wisatawan mancanegara. Ada banyak cerita dan falsafah hidup yang terkandung di dalam kuliner Aceh. Jadi bukan hanya sekedar makanan semata, ini sangat dicari wisman," kata Rizki.

Adapun Menteri Pariwisata, Arief Yahya menyampaikan jika Aceh cukup jeli membaca peluang, khususnya dalam melihat kuliner sebagai keunggulan potensinya. Menurutnya, penyelenggaraan ACF 2019 memberikan multiplier effect bagi Aceh, baik itu direct impact maupun indirect impact.

"Direct impactnya UMKM meraup laba besar dari penjualan kuliner akibat membludaknya wisatawan sedangkan indirect impactnya nama kuliner Aceh semakin dikenal luas dan ini berdampak promosi pariwisatanya. Atraksi wisata itu yang penting dicreate serius, promosinya juga serius sehingga dampaknya besar bagi perkembangan pariwisata. Ya seperti ACF 2019. Selamat atas suksesnya ACF 2019," kata Arief.