Rabu, 15 Januari 2020

Sedot 100.000 Wisatawan, Perputaran Uang di ACF 2019 Capai 5 Miliar

Aceh Culinary Festival (ACF) 2019 yang telah digelar pada 5-7 Juli 2019 berhasil mendatangkan 100 ribu wisatawan. Adapun perputaran uang selama tiga hari pelaksanaan festival tersebut tercatat mencapai Rp 5 miliar.

"Seperti yang kita harapkan, ACF 2019 mampu menjadi magnet wisatawan. Ini merupakan hasil kerja keras dari seluruh pihak yang bahu-membahu mensukseskan acara," ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Jamaluddin dalam keterangan tertulis, Senin (8/7/2019).

Menurut Jamaluddin, ACF 2019 menyajikan berbagai kuliner khas dari 23 kabupaten dan kota yang ada di Aceh serta berbagai atraksi lainnya yang membuat festival semakin berwarna. Sehingga sejak hari pertama Taman Ratu Safiatuddin Banda Aceh tempat dilangsungkannya festival sudah penuh sesak oleh wisatawan. Berbagai atraksi dan kuliner inilah yang juga mampu mendatangkan wisatawan dari Aceh, berbagai kabupaten dan kota lainnya, maupun mancanegara.

"Tahun ini banyak terobosan yang kita hadirkan. Selain itu kita juga mengundang chef dan penggiat kuliner ternama sehingga ACF 2019 kian diminati wisatawan yang terus berdatangan setiap harinya," papar Jamaluddin.

Jamaluddin mencontohkan acara yang menarik wisatawan seperti Culinary Camp yang berisi 50 sesi demo masak, workshop, dan diskusi mengenai kuliner. Ada juga pertunjukan seni budaya serta live musik dari berbagai band ternama. Ramainya wisatawan yang terus membanjiri festival ini juga membuat penjual kuliner yang menjadi peserta ACF 2019 kebanjiran pembeli.

"Berdasarkan data yang dihimpun panitia dari seluruh teman pengisi acara, perputaran uang di acara ini mencapai Rp 5 milliar selama tiga hari pelaksanaan. Sebuah angka yang boleh dibilang fantastis dan tentunya ini membawa efek positif bagi pengembangan ekonomi masyarakat," ucap Jamaluddin.

Staf Ahli Menteri Pariwisata Bidang Management Calendar of Event (CoE), Esthy Reko Astuti mengakui jika ACF 2019 terus mengalami peningkatan dalam upaya menarik minat wisatawan. Keberadaannya pun kini menjadi salah satu atraksi unggulan wisata halal di Aceh.

"Tahun lalu perputaran ekonomi di ACF sampai Rp 3 miliar dan tahun ini mencapai Rp 5 miliar. Ini tentu peningkatan yang luar biasa terutama membantu perekonomian masyarakat dan inilah seharusnya event digelar. Event wisata harus memiliki daya tarik cultural value, commercial value, serta communication value dalam menarik wisatawan seperti ACF 2019 ini," ungkap Esthy.

Sementara itu Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar, Rizki Handayani mengatakan festival ini harus menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya Aceh. Menurutnya, kuliner tidak semata berkaitan dengan pangan, tetapi juga bagian dari tradisi lokal yang perlu dilestarikan.

"Dan ini jelas laku dijual ke wisatawan mancanegara. Ada banyak cerita dan falsafah hidup yang terkandung di dalam kuliner Aceh. Jadi bukan hanya sekedar makanan semata, ini sangat dicari wisman," kata Rizki.

Adapun Menteri Pariwisata, Arief Yahya menyampaikan jika Aceh cukup jeli membaca peluang, khususnya dalam melihat kuliner sebagai keunggulan potensinya. Menurutnya, penyelenggaraan ACF 2019 memberikan multiplier effect bagi Aceh, baik itu direct impact maupun indirect impact.

"Direct impactnya UMKM meraup laba besar dari penjualan kuliner akibat membludaknya wisatawan sedangkan indirect impactnya nama kuliner Aceh semakin dikenal luas dan ini berdampak promosi pariwisatanya. Atraksi wisata itu yang penting dicreate serius, promosinya juga serius sehingga dampaknya besar bagi perkembangan pariwisata. Ya seperti ACF 2019. Selamat atas suksesnya ACF 2019," kata Arief.

Rentetan Kasus Bule Gembel di Indonesia

Kasus bule gembel tak hanya terjadi tahun ini saja. Telah ada beberapa kasus bule gembel yang kehabisan uang yang merepotkan pariwisata Indonesia.

Kasus bule gembel di Bali menyita perhatian beragam pihak. Mereka yang traveling dan kehabisan uang, kemudian mengemis meminta bantuan kepada penduduk lokal atau siapapun yang mau membiayai mereka.

Dirangkum detikcom, Senin (8/7/2019) fenomena bule kehabisan uang ini bukanlah yang perdana. Bule yang kehabisan uang, mengemis, mengais sampah hingga menumpang di truk juga ada.

1. Bule Bulgaria mengais sampah di Bali

Pada akhir bulan Oktober 2018, Toto bule asal Bulgaria kedapatan mengais sampah di Pantai Sanur Bali. Dia melakukan karena demi menghemat uang supaya dia dapat melanjutkan perjalanannya keliling dunia.

2. Ian luntang lantung di Tangerang

Warga Jabodetabek juga sempat dihebohkan oleh bule yang luntang lantung di Tanggerang pada Maret 2018 lalu. Nama bule ini adalah Ian Whiteley, bule Inggris yang hidup luntang lantung di Tangerang, Banten.

Warga yang kasihan pun sering mentraktir ngopi di salah satu warung kopi. Ian pun menepis bahwa dia tidak hidup luntang lantung, dia hanya sedang mencari istrinya dan dia punya uang dari hasil pensiunannya. Ia mengaku diusir oleh istrinya.

3. Bule Selandia Baru Nebeng Truk ke Cirebon

Pada tanggal 24 Februari 2018, dua orang Warga Negara Asing (WNA) asal Selandia Baru bernasib malang saat sedang pelesiran di Jakarta. Dua bule itu mengaku kehabisan ongkos saat hendak menuju Cirebon, Jawa Barat.

Seperti diinformasikan melalui akun Instagram TMC Polda Metro Jaya, dua bule itu ditemukan di tepi jalan. Kemudian polisi membantu WNA tersebut untuk sampai tujuannya ke Cirebon dengan menaiki sebuah truk.

4. Bule Ceko Tak Bisa Bayar Hotel

Pertengahan September 2017, dua bule Republik Ceko dan Slowakia kehabisan ongkos saat berada di Pekalongan, Jawa Tengah setelah berkeliling ke beberapa tempat wisata di Jawa Timur. Kedua turis bernama Nedomelel Petr, laki-laki asal Republik Ceko dan Bratska Jara perempuan asal Slowekia ini dari Jawa Timur berencana menuju Jakarta dengan bus.

Keberadaan dua bule ini diketahui petugas Kepolisian Resor Pekalongan, setelah mendapatkan laporan dari pihak hotel. Saat keduanya akan meninggalkan hotel ternyata mereka tidak mampu membayar.

Biaya hotel akhirnya digratiskan oleh pengelola. Selain itu, ongkos bus menuju Jakarta juga digratiskan. Polisi Pekalongan bahkan patungan untuk memberi uang saku bagi kedua bule tersebut.

5. Bule dengan kaki gajah di Surabaya

Pada September 2016 lalu, seorang bule asal Jerman Benjamis Holst ditangkap Satpol PP Surabaya karena kedapatan mengemis dengan mengadnalkan kaki gajah. Awalnya dia mengemis di Bali dan kemudian pindah ke Surabaya. Dalam sehari dia bisa mendapatkan Rp 1 juta. Namun uangnya dia gunakan untuk foya-foya.

Sedot 100.000 Wisatawan, Perputaran Uang di ACF 2019 Capai 5 Miliar

Aceh Culinary Festival (ACF) 2019 yang telah digelar pada 5-7 Juli 2019 berhasil mendatangkan 100 ribu wisatawan. Adapun perputaran uang selama tiga hari pelaksanaan festival tersebut tercatat mencapai Rp 5 miliar.

"Seperti yang kita harapkan, ACF 2019 mampu menjadi magnet wisatawan. Ini merupakan hasil kerja keras dari seluruh pihak yang bahu-membahu mensukseskan acara," ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Jamaluddin dalam keterangan tertulis, Senin (8/7/2019).

Menurut Jamaluddin, ACF 2019 menyajikan berbagai kuliner khas dari 23 kabupaten dan kota yang ada di Aceh serta berbagai atraksi lainnya yang membuat festival semakin berwarna. Sehingga sejak hari pertama Taman Ratu Safiatuddin Banda Aceh tempat dilangsungkannya festival sudah penuh sesak oleh wisatawan. Berbagai atraksi dan kuliner inilah yang juga mampu mendatangkan wisatawan dari Aceh, berbagai kabupaten dan kota lainnya, maupun mancanegara.

"Tahun ini banyak terobosan yang kita hadirkan. Selain itu kita juga mengundang chef dan penggiat kuliner ternama sehingga ACF 2019 kian diminati wisatawan yang terus berdatangan setiap harinya," papar Jamaluddin.

Jamaluddin mencontohkan acara yang menarik wisatawan seperti Culinary Camp yang berisi 50 sesi demo masak, workshop, dan diskusi mengenai kuliner. Ada juga pertunjukan seni budaya serta live musik dari berbagai band ternama. Ramainya wisatawan yang terus membanjiri festival ini juga membuat penjual kuliner yang menjadi peserta ACF 2019 kebanjiran pembeli.