Selasa, 14 Januari 2020

Naik Pesawat Serasa Seperti di Neraka

Bayangkan, puluhan orang dalam kondisi mabuk, berteriak-teriak, mencaci sampai muntah di kabin. Inilah pengalaman naik pesawat yang serasa seperti di neraka.

Dirangkum detikcom dari berbagai sumber, Kamis (11/7/2019) Aneta Zukow menceritakan pengalaman terburuknya naik pesawat. Di akhir pekan pada Sabtu (6/7) kemarin, dia naik pesawat Ryanair yang terbang dari Manchester di Inggris ke Zadar di Kroasia.

Dari ratusan penumpang, 70 penumpang di antaranya adalah pria yang pergi bergerombol untuk nonton festival musik Hard Island di Kroasia. Mereka pun benar-benar membuat penerbangan jadi mengerikan!

Beberapa dari mereka bernyanyi dengan suara keras. Ada yang teriak tidak jelas, sampai tertawa terbahak-bahak.

Tak sampai di situ, mereka juga tidak mengindahkan aturan dari awak kabin. Mereka menantang siapa saja di dalam pesawat, bagi yang berani menegur.

Lebih parah lagi, ada dari mereka yang muntah di lorong kabin. Muntahnya berantakan ke mana-mana dan baunya tidak sedap.

"Sungguh, itu rasanya seperti sedang di neraka. Itu adalah penerbangan yang paling mengerikan yang pernah saya alami," kata Aneta Zukow.

Untungnya, pesawat mendarat dengan selamat sampai di tempat tujuan. Langsung saja, petugas bandara dan kepolisian setempat meringkus orang-orang yang berbuat onar tersebut dan diketahui terbang dalam kondisi mabuk.

Para penumpang lain sungguh dibuat shock. Mereka tidak berani berbuat apa-apa. Pihak maskapai Ryanair menjelaskan, penumpang yang mengganggu penerbangan akan diproses secara hukum.

"Awak penerbangan meminta bantuan polisi pada saat kedatangan, setelah sejumlah penumpang menjadi terganggu. Pesawat mendarat dengan normal dan polisi menangkap orang-orang itu," tulis pernyataan Ryanair.

Mengenal Pura Lempuyang Bali yang Bikin Turis Kecewa

Beberapa waktu lalu sempat viral cuitan turis yang kecewa dengan Candi Lempuyang di Bali. Berikut profil dari pura yang sangat populer di Instagram tersebut.

Adalah Polina Marinova, seorang editor di majalah asing Fortune yang mengungkapkan kekecewaannya lewat laman Twitter pribadinya (4/7). Datang dan melihat langsung pura Instagramable tersebut dari dekat, Polina dibuat kecewa akan realita yang ada di balik foto Instagramable di sana.

Sudah bukan rahasia umum, kalau Pura Lempuyang Luhur di Karangasem itu banyak dikunjungi turis yang mencari konten foto. Dalam banyak foto yang dibagikan di media sosial, pura itu kerap dipotret dengan latar Gunung Agung dan refleksi air di bawahnya.

Hanya ketika Polina berkunjung ke sana, gambaran indah akan Pura Lempuyang Luhur yang kerap ia lihat di media sosial buyar dengan realita di lapangan. Ternyata refleksi di bawah pura hanya merupakan efek kaca dan bukan kenyataan di lapangan.

"Harapan dan mimpi saya hancur ketika menemukan bahwa air di bawah 'gerbang surga' nyatanya merupakan efek kaca yang ditaruh di bawah iPhone," cuit Polina.

Cuitan Polina pun viral dan ramai diberitakan media asing seperti News Australia hingga The Insider. Namun, mungkin tak sedikit traveler yang mengenal cerita di balik pura Instagramable tersebut.

Dilihat detikcom dari situs resmi Perpusnas, Kamis (11/7/2019), Pura Lempuyang Luhur merupakan bagian dari Sad Kahyangan Jagad atau merupakan satu dari enam tempat keramat dunia bagi umat Hindu Bali.

Berlokasi di Desa Tista, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, pura yangg berdiri di Bukit Bisnis ini kerap disambangi umat Hindu Bali untuk menyembah Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Festival Sandalwood 2019 Tarik Banyak Turis, Okupansi Hotel Capai 90%

Daya tarik Festival Sandalwood 2019 memang terbukti menjadi magnet kunjungan wisatawan ke suatu daerah. Hal itu terbukti saat H-1 jelang pembukaan festival. Tingkat keterisian (Okupansi) Hotel di Sumba Timur mencapai hingga 90%. Selain itu, festival ini juga ramai diperbincangkan di media sosial hingga menjadi trending topic twitter.

Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Media dan Komunukasi, Don Kardono mengatakan, Festival Sandalwood memang memiliki daya tarik tersendiri, terlebih di event ini juga menawarkan berbagai spot keren yang bisa dinikmati pengunjung.

"Wajar saja jika wisatawan menyukai event ini. Ada beberapa alasan yang membuat mereka hadir, yang paling utama tentunya event ini memang sangat keren. Sangat menarik untuk menjadi objek foto. Kemudian alam Sumba juga menjadi alasan lain wisatawan untuk berkunjung," ujar Kardono dalam keterangannya, Kamis (11/7/2019).

Ketua Tim Pelaksana CoE Kemenpar Esthy Reko Astuty, juga menilai kuatnya daya tarik Festival Sandalwood terlihat dari okupansi hotel.

"Mengacu informasi Dispar Sumba Timur, tingkat okupansi hotel sehari jelang event mencapai 90%. Jumlah ini meningkat 30% dari hari biasa, dimana okupansinya sekitar 60%," terang Esthy.

Dari pergerakan wisatawan di Sumba Timur hingga jelang pembukaan, kata Esthy, wisatawan nusantara mendominasi dengan 90%. Sedangkan wisatawan mancanegara sekitar 10%. Mereka berasal dari Prancis dan Italia.

"Pergerakan wisatawan pada event Festival Sandalwood 2019 sangat positif. Kami berharap event ini juga berdampak positif buat perekonomian. Nilai transaksi yang dihasilkan bisa optimal, dengan begitu, masyarakat akan mendapat manfaat langsung dari event," jelas Esthy lagi.

Sumba Timur saat ini ditopang sedikitnya oleh 8 hotel besar. Posisinya juga dekat dengan venue Festival Sandalwood 2019. Diantaranya, Padadita Beach, Tanto, Elvin, Sacca, hingga Merlin. Komposisi homestaynya Umbo Dhigo, Baim, dan Ama Tukang.

Festival Sandalwood 2019 juga sudah meramaikan dunia maya. Melalui #SumbaTimurFestivalSandalwood2019 dan #FestParade1001Kuda2019. Hastag Sumba Timur Festival Sandalwood 2019 menjadi trending topic Twitter Senin (8/7/2019), dan mampu bersaing dengan beragam isu politik, hiburan, hingga kesehatan.

"Daya tarik besar dimiliki Festival Sandalwood 2019. Sebab, warna budaya dominan di sini. Festival ini memang selalu dinanti dan sangat potensial mendatangkan wisatawan. Saat ini okupansi hotel di Sumba Timur sudah maksimal," kata Kadispar Sumba Timur Umbu Maramba Meha.

Sedangkan hastag #FestParade1001Kuda2019 sudah menjadi trending topic Twitter, Selasa (9/7/2019). Total ada 3.297 postingan yang dihasilkan dengan reach 337.438. Hastag tersebut mendapat 51,54% Retweet, Replay 34,01%, juga 14,45% Like. Responnya positif hingga 74,7% dan 14,9% diantaranya netral.

Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh. Ricky Fauziyani menilai Festival Sandalwood punya prospek bagus dan akan terus memiliki masa depan bagus di masa mendatang. Dengan potensinya, event tersebut akan terus efektif menarik kunjungan wisatawan dan menjadi penggerak ekonomi daerah dan yang terpenting inovasi dan ide segar tetap harus diberikan di tahun berikutnya.

"Sumba Timur ini sangat indah. Festival Sandalwood tentu menjadi media branding optimal. Setelah ini, beragam potensi di Sumba Timur akan optimal dan memberikan manfaat ekonomi yang besar," ujar Arief