Minggu, 12 Januari 2020

6 Orang Ikuti Seleksi Dukun Pandita di Puncak Upacara Kasada

Ada sekitar 6 orang dukun akan mengikuti proses seleksi pemilihan Dukun Pandita. Itu digelar pada puncak upacara Yadnya Kasada, Bromo Kamis (18/7) besok.

Loakasinya di Pura Luhur Poten, Kaldera Gunung Bromo. 6 Orang dukun, akan mengikuti proses seleksi pemilihan Dukun Pandita. Disampaikan Ketua PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia), Kabupaten Probolinggo, Bambang Suprapto mengatakan, 6 dukun yang mengikuti proses seleksi berasal di dua kabupaten di Jawa Timur, yakni Pasuruan dan Malang.

Menurutnya mereka yang diseleksi, akan menjalani proses Murunen atau pengujian. Di mana Murunen sendiri adalah pembacaan mantra-mantra oleh masing-masing dukun.

"Saat pengujian, tiap dukun membaca mantra-mantra berisi tentang ke Yang Maha Kuasaan, Leluhur dan Alam. Apabila mereka dinyatakan lolos ujian, maka bisa jadi Dukun Pandita," jelas Bambang, Rabu (17/7/2019).

Bambang menyampaikan, 6 dukun yang akan mengikuti proses seleksi tahun ini, 2 dukun berasal dari Desa Ledokombo, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo. Dan 4 lainnya berasal dari Desa Sedaeng, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.

Disebutkannya 2 dukun dari Desa Sedaeng, merupakan peserta yang bukan dari keturunan dukun.

"Sekarang siapa saja bisa menjadi Dukun Pandita, asalkan mampu menjalani tugasnya," ujarnya.

Bambang juga menjelaskan, peranan Dukun Pandita bagi Umat Hindu Suku Tengger ada 4 fungsi. Diantaranya menjaga kesucian diri untuk menentukan hari baik ritual, baik individu maupun komunal; menghantarkan dan menyelesaikan setiap ritual serta sebagai sandaran dan pembimbing Umat Hindu.

Sementara keberangkatan warga Suku Tengger dari daerahnya masing-masing, akan dimulai sejak Kamis pagi mulai pukul 01.00 WIB. Mereka selanjutnya berkumpul di Pura Luhur Poten guna melaksanakan ritual, serta pemilihan Dukun Pandita.

Usai ritual dan pemilihan dukun, barulah Warga Suku Tengger akan membawa Ongkek (Hasil Bumi) ke puncak gunung atau bibir kawah Bromo, untuk dilemparkan sebagai sesajen.

Mengenal Istilah 'Transfer In & Out' di Dunia Pemandu Wisata

Dalam dunia pemandu wisata ada istilah transfer 'in dan out' saat membawa wisatawan. Ini penjelasannya.

Menjadi pemandu wisata atau pramuwisata tak hanya membutuhkan keterampilan berbahasa asing saja, tapi lebih dari itu. Teknis itu pun dijelaskan dalam acara pelatihan anak baru oleh Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) DKI Jakarta yang diikuti detikcom Rabu ini (17/7/2019).

Berawal di Stasiun Kereta Api Gambir, sekitar 32 peserta anggota HPI DKI Jakarta telah berkumpul sejak pukul 08.00 WIB sesuai kesepakatan. Turut hadir pula Ketua HPI DKI Jakarta, Revalino Tobing yang ikut mendampingi.

Dijelaskan oleh Revalino, acara pelatihan hari ini khusus diberikan oleh pihak HPI DKI Jakarta untuk menambah ilmu dari para pemandu wisata di luar kelas atau praktek lapangan langsung.

"Materi di diklat kita refresh, bukan di kelas tapi dalam bus, jadi langsung praktek," ujar Revalino.

Agar makin menjiwai, simulasi pun langsung dilakukan di Stasiun Gambir. Yang pertama dilakukan Transfer In atau penjemputan wisatawan di Stasiun Gambir ke bus.

"Skenario pertama Stasiun Gambir-Bandara Sorkarno Hatta T3 (transfer out). Wisatawan Denmark menumpang KA Taksaka dari Stasiun Yogyakarta menuju Stasiun Gambir lalu perjalanan menuju Bandara Soekarno Hatta," ujar Revalino.

Sambil simulasi, para pemandu pun diberi pelajaran bagaimana menyambut calon tamu yang akan mereka guide. Tak lupa juga paging board berisi profil seperti nama tamu, perusahaan penyedia jasa guide dan detil lainnya. Turut hadir juga pemandu wisata senior bernama Erwan yang ikut memberi penjelasan.

"Kita harus mengenal tamu kita sebelumnya, dari negara asal sampai fotonya. Jadi pas ketemu kita bisa langsung tahu dan gak canggung," ujar Erwan.

Setiba tamu di bandara, pemandu pun bisa menawarkan berbagai opsi seperti toilet, makan minum hingga kartu sim card dan lainnya. Namun, sekali lagi pemandu harus lebih peka memperlakukan tamunya.

"Kalau naik kereta misalnya, biasa tamu capek. Siapkan roti atau snack box saat mereka datang," ujar Erwan.

Setelah simulasi bertemu dengan tamu, para pemandu pun mengajak mereka ke bus yang telah menanti. Setelah memasukkan koper, tamu pun dibawa ke Bandara Soekarno Hatta T3. Di jalan, pemandu wisata pun bisa berinovasi dengan memberi informasi terkait tempat wisata yang dilewati dan lainnya.

"Di jalan bisa meng-guide soal tempat wisata yang dilewati. Jangan lupa juga ingatkan tamu akan hp dan barang bawaan lain sebelum meninggalkan bus," ujar Revalino.

Demi Calendar of Event Lebih Baik, Kemenpar Gelar Coaching Clinic

Demi Calender of Event (CoE) yang lebih baik di masa depan, Kemenpar menggelar acara Coaching Clinic. Para kurator profesional pun dilibatkan dalam acara ini.

Setiap tahun, event-event wisata unggulan di Indonesia dikurasi dan dikumpulkan menjadi Calender of Event (CoE). Untuk menghasilkan event wisata yang menarik bagi wisatawan, acara Coaching Clinic pun digelar agar para stakeholder di daerah bisa menggelar event yang berkualitas.

"Ini sudah 3 kali kita adakan. Dari 2017 sudah mulai kita kurasi. Tahun lalu sudah kita lakukan juga, tapi sifatnya lebih umum. Tapi tahun ini, kita lebih spesifik, lebih teknis lagi. Kita harus secara profesional dalam melaksanakan kegiatan," ujar Esthy Reko Astuti, Tenaga Ahli Menteri Bidang Management Calendar Of Events Kemenpar di Sparks Luxe Hotel, Jakarta, Rabu (17/7/2019).

Selama 2 hari ke depan, narasumber berkompeten dari kalangan profesional akan mengisi materi yang berhubungan dengan produksi suatu event. Materi itu antara lain koreografi, komposisi musik, stage management, sounds and lighting, hingga desain kostum dan juga sport tourism.

Menteri Pariwisata Arief Yahya pun tak henti mengingatkan agar event wisata yang masuk ke Calender of Event (CoE) harus memenuhi kriteria 3C, yaitu harus punya commersial value, cultural value dan terakhir, communication (media) value.

"Kriterianya sudah disebutkan, event itu harus punya Cultural Value. Itu jagonya para kurator di sini memilih event mana yang punya nilai kebudayaan kuat. Koreografinya harus level nasional, aransemen level nasional, desainer level nasional. Panggung yang lebar itu harus dimanfaatkan dengan bagus," tegas Arief di lokasi acara.

Selain itu, suatu event wisata juga harus punya Commersial Value alias punya nilai komersil agar bisa 'dijual' ke wisatawan. Karena dengan menggelar suatu event, kita berharap ada wisatawan yang datang untuk melihat event tersebut. Ketika ada wisatawan datang, maka akan ada perputaran uang yang masuk di daerah tersebut.

"Kita bikin event itu bukan buat kita sendiri, tapi untuk ditonton orang lain. Apa nggak boleh bikin event buat ditonton sendiri? Boleh, tapi itu namanya bukan pariwisata. Pariwisata itu kalau ada uang yang masuk ke kita," imbuh Arief.

Terakhir, untuk Communication atau Media Value, Arief meminta agar proporsi anggaran tidak dihabiskan semua untuk penyelenggaraan event, tetapi juga untuk promosi. Kalau bisa jauh hari sebelum event digelar, promosinya harus lebih gencar.

"Anggaran paling besar itu ditaruhnya jangan pas di eventnya. Itu salah. Yang benar itu 50 persen ditaruh di pra event, woro-woronya harus lebih besar daripada eventnya. Contoh, kalau nonton tinju itu kan ramainya sebelum event. Justru serunya itu ngomentarin Mike Tyson sebelum tinju," tutup Arief.

Dalam acara Coaching Clinic ini dihadirkan narasumber yang sangat berpengalaman di bidangnya, antara lain Denny Malik untuk koreografi, Danny "Ceper" Noeranto di bidang stage and show director, Dewi Gontha di bidang konser musik, Jamaludin Mahmood di bidang sport tourism, dan Intan Ayundavira di bidang fashion designer.