Minggu, 12 Januari 2020

Inilah 'Gurun Sahara' di NTT

Tahukah kamu, Nusa Tenggara Timur (NTT) punya lanskap alam berupa gurun pasir yang membentang luas. Serasa di Gurun Sahara saja!

Kabupaten Timor Tengah Selatan, di NTT selalu memiliki pesona alam yang dapat memikat wisatawan untuk berkunjung kekabupaten ini. Salah satunya adalah 'Gurun Sahara' yang eksotis. Gurun ini berada tidak jauh dari salah satu pantai tercantik di NTT, yaitu pantai Oetune. Pantai ini memang terkenal dengan pantai yang memiliki hamparan pasir putih.

Di tepi Pantai inilah terdapat sebuah tempat menyerupai gurun pasir yang membentang. Indah nian!

Dari tepi pantai ini traveler dapat melihat hamparan lautan padang pasir dengan luas mencapai 100 meter persegi di sepanjang pantai. Ketika berada di sini, jangan lewatkan momen berburu sunrise atau sunset yang memesona.

Bagaimana, apakah kalian tertarik untik mengintip keindahan Gurun Pasir ala Kabupaten Timor Tengah Selatan?

Demi Calendar of Event Lebih Baik, Kemenpar Gelar Coaching Clinic

Demi Calender of Event (CoE) yang lebih baik di masa depan, Kemenpar menggelar acara Coaching Clinic. Para kurator profesional pun dilibatkan dalam acara ini.

Setiap tahun, event-event wisata unggulan di Indonesia dikurasi dan dikumpulkan menjadi Calender of Event (CoE). Untuk menghasilkan event wisata yang menarik bagi wisatawan, acara Coaching Clinic pun digelar agar para stakeholder di daerah bisa menggelar event yang berkualitas.

"Ini sudah 3 kali kita adakan. Dari 2017 sudah mulai kita kurasi. Tahun lalu sudah kita lakukan juga, tapi sifatnya lebih umum. Tapi tahun ini, kita lebih spesifik, lebih teknis lagi. Kita harus secara profesional dalam melaksanakan kegiatan," ujar Esthy Reko Astuti, Tenaga Ahli Menteri Bidang Management Calendar Of Events Kemenpar di Sparks Luxe Hotel, Jakarta, Rabu (17/7/2019).

Selama 2 hari ke depan, narasumber berkompeten dari kalangan profesional akan mengisi materi yang berhubungan dengan produksi suatu event. Materi itu antara lain koreografi, komposisi musik, stage management, sounds and lighting, hingga desain kostum dan juga sport tourism.

Menteri Pariwisata Arief Yahya pun tak henti mengingatkan agar event wisata yang masuk ke Calender of Event (CoE) harus memenuhi kriteria 3C, yaitu harus punya commersial value, cultural value dan terakhir, communication (media) value.

"Kriterianya sudah disebutkan, event itu harus punya Cultural Value. Itu jagonya para kurator di sini memilih event mana yang punya nilai kebudayaan kuat. Koreografinya harus level nasional, aransemen level nasional, desainer level nasional. Panggung yang lebar itu harus dimanfaatkan dengan bagus," tegas Arief di lokasi acara.

Selain itu, suatu event wisata juga harus punya Commersial Value alias punya nilai komersil agar bisa 'dijual' ke wisatawan. Karena dengan menggelar suatu event, kita berharap ada wisatawan yang datang untuk melihat event tersebut. Ketika ada wisatawan datang, maka akan ada perputaran uang yang masuk di daerah tersebut.

"Kita bikin event itu bukan buat kita sendiri, tapi untuk ditonton orang lain. Apa nggak boleh bikin event buat ditonton sendiri? Boleh, tapi itu namanya bukan pariwisata. Pariwisata itu kalau ada uang yang masuk ke kita," imbuh Arief.

Terakhir, untuk Communication atau Media Value, Arief meminta agar proporsi anggaran tidak dihabiskan semua untuk penyelenggaraan event, tetapi juga untuk promosi. Kalau bisa jauh hari sebelum event digelar, promosinya harus lebih gencar.

"Anggaran paling besar itu ditaruhnya jangan pas di eventnya. Itu salah. Yang benar itu 50 persen ditaruh di pra event, woro-woronya harus lebih besar daripada eventnya. Contoh, kalau nonton tinju itu kan ramainya sebelum event. Justru serunya itu ngomentarin Mike Tyson sebelum tinju," tutup Arief.

Dalam acara Coaching Clinic ini dihadirkan narasumber yang sangat berpengalaman di bidangnya, antara lain Denny Malik untuk koreografi, Danny "Ceper" Noeranto di bidang stage and show director, Dewi Gontha di bidang konser musik, Jamaludin Mahmood di bidang sport tourism, dan Intan Ayundavira di bidang fashion designer.

Aksi Damai di Labuan Bajo, Tolak Penutupan Pulau Komodo

Warga Desa Komodo menggelar aksi damai di Labuan Bajo, NTT. Mereka menolak wacana penutupan Taman Nasional (TN) Komodo.

Desa Komodo berada di Pulau Komodo yang masuk dalam kawasan TN Komodo. Wacana penutupan pulau tersebut, diprotes oleh warga setempat.

Wacana atau isu itu terus bergulir. Hingga kini, belum ada keputusan dari pemerintah pusat, pihak taman nasionalnya dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Meski begitu, warga Desa Komodo tetap pada pendiriannya dan menggelar 'Aksi Damai Penolakan Penutupan Pulau Komodo'.

"Kami masyarakat Pulau Komodo, Manggarai Barat, NTT dengan ini menyatakan sikap 'Menolak Rencana Pemerintah Menutup Pulau Komodo'. Kami juga menolak pemindahan penduduk keluar dari Pulau seperti yang diwacanakan Gubernur NTT," ujar Ardi, salah seorang peserta yang juga warga asli Desa Komodo.

Ardi menjelaskan, sebagai masyarakat yang tinggal di dalam kawasan taman nasional, sudah lama mereka mendukung usaha-usaha konservasi dan pembangunan pariwisata. Namun, menolak segala program pembangunan yang mengabaikan keberadaan masyarakatnya sebagai penduduk setempat.

"Kami sudah lama terlibat dalam pariwisata berbasis konservasi. Penutupan sewenang-wenang Pulau Komodo akan menghilangkan mata pencaharian kami. Kami masyarakat Komodo telah melewati sebuah proses yang sangat panjang sebelum bergantung pada sektor pariwisata," terangnya.

"Kami telah merelakan tanah kami untuk dijadikan sebagai bagian dari Taman Nasional Komodo. Lantas, ketika kami telah bergantung pada sektor pariwisata, pemerintah secara sepihak mengambil keputusan menutup Pulau Komodo dari aktivitas pariwisata yang dengan jelas amat merugikan kami secara ekonomi," papar Ardi.

Aksi Damai tersebut digelar di 3 titik yakni di Kantor Balai Taman Nasional Komodo, Kantor Kantor Bupati Manggarai Barat dan Kantor DPRD Kab Manggarai Barat. Setidaknya ada 4 poin utama yang disampaikan.

4 Poin itu yakni menuntut Gubernur NTT untuk segera membatalkan rencananya untuk menutup Pulau Komodo dan memindahkan sebagian ataupun seluruh penduduk, menuntut presiden Jokowi untuk segera mencabut kembali pernyataan dukungannya terhadap rencana penutupan Pulau Komodo, menuntut pemerintah untuk bertanggung jawab atas model pengembangan pariwisata di Desa Komodo yang berpihak pada kepentingan masyarakat dan menuntut pihak BTNK (Balai Taman Nasional Komodo) untuk juga berpihak pada kepentingan masyarakat Komodo di samping menjalankan tupoksinya sebagai badan konservasi.

Perlu diketahui, ada 2.000 jiwa penduduk di Pulau Komodo yang terbagi dalam 500 KK, 1 desa, 5 dusun dan 10 RT. Mereka pun sudah lama menempati Pulau Komodo, jauh sebelum pulaunya ditetapkan sebagai kawasan konservasi dan menjadi taman nasional.

Inilah 'Gurun Sahara' di NTT

Tahukah kamu, Nusa Tenggara Timur (NTT) punya lanskap alam berupa gurun pasir yang membentang luas. Serasa di Gurun Sahara saja!

Kabupaten Timor Tengah Selatan, di NTT selalu memiliki pesona alam yang dapat memikat wisatawan untuk berkunjung kekabupaten ini. Salah satunya adalah 'Gurun Sahara' yang eksotis. Gurun ini berada tidak jauh dari salah satu pantai tercantik di NTT, yaitu pantai Oetune. Pantai ini memang terkenal dengan pantai yang memiliki hamparan pasir putih.

Di tepi Pantai inilah terdapat sebuah tempat menyerupai gurun pasir yang membentang. Indah nian!

Dari tepi pantai ini traveler dapat melihat hamparan lautan padang pasir dengan luas mencapai 100 meter persegi di sepanjang pantai. Ketika berada di sini, jangan lewatkan momen berburu sunrise atau sunset yang memesona.

Bagaimana, apakah kalian tertarik untik mengintip keindahan Gurun Pasir ala Kabupaten Timor Tengah Selatan?