Sabtu, 11 Januari 2020

Taiwan Tegaskan Jadi Destinasi Ramah Muslim

Wisatawan muslim adalah kelompok traveler yang besar di Indonesia. Taiwan pun menegaskan mereka adalah destinasi ramah muslim.

Dalam peresmian Pusat Informasi Pariwisata Taiwan di Jakarta, Jumat (19/7/2019) John Chen, Kepala Kantor Ekonomi dan Perdagangan Taipei di Indonesia mengungkap bahwa Taiwan sangat ramah untuk turis Muslim.

"Tahun 2019 ini, Taiwan mendapatkan posisi nomor tiga sebagai tujuan wisata ramah Muslim terfavorit di negara-negara non Muslim oleh MasterCard. Jadi turis Muslim tidak perlu khawatir kesulitan untuk libur di Taiwan," kata Chen.

Fanny Low, Direktur Taiwan Visitors Association juga mengatakan bahwa banyak restoran dan hotel yang sudah mendapatkan sertifikasi halal untuk mempermudah Muslim traveler. Turis juga bisa mendownload aplikasi untuk mengetahui destinasi ramah Muslim.

"Hampir 200 restoran dan hotel telah mendapatkan sertifikat Halal yang tersebar di penjuru Taiwan. Dan lagi turis juga bisa mendownload Halal.TW, sebuah aplikasi yang berisi segala informasi wisata yang ramah Muslim. Mulai dari letak musala, restoran halal dan lainnya," kata Fanny.

Untuk target wisatawan yang datang ke Taiwan, Ease Huang, Direktur Internasional Taiwan Tourism Bureau mengatakan mereka menarget wisatawan Muslim.

"Untuk target pemasaran wisata, kami lebih mengutamakan wisatawan Muslim untuk datang ke Taiwan. Namun kami juga tidak menutup pintu siapapun yang ingin datang ke Taiwan. Target kami untuk wisatawan Indonesia ke Taiwan adalah 500 ribu orang," tutup Ease Huang.

Meski Dibatalkan Pemkot, F8 Makassar Akan Tetap Digelar

Eks Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto tetap akan menggelar Makassar International Eight Festival and Forum atau F8 meski telah dibatalkan. Ini alasannya.

"Tadi kalau kita lihat bagaimana masyarakat pecinta F8, itu kita berkesimpulan bahwa F8 perlu dilaksanakan. Maka dengan itu, saya akan rapat dengan teman teman, saya kira F8 itu harus dilaksanakan dan ini sekaligus meng-clearance bahwa F8 bukan proyek, bukan jualan politik juga, Ini adalah bagian dari seni," kata Danny Pomanto, Jumat (19/7/2019).

Danny menyebut pagelaran F8 merupakan harga diri Makassar. Jika harus dibatalkan, pasalnya sejumlah tamu dari negara lain dan Kabupaten Kota di Indonesia menyatakan diri siap hadir.

"Bagi saya ini bukan politik, ini demi Makassar, demi Indonesia. Siri na pacce nya (Malu) kita. Harga diri kita di mata internasional, banyak negara sudah bersedia untuk hadir begitu pun dengan kota-kota. Jadi, yang pertama adalah karena F8 sudah menjadi siri'nya kita, kita harus menghargai seburuk apapun keputusan Pemkot saya lihat draftnya tapi belum ditandatangani oleh pak Sekda," jelasnya.

Saat ini sejumlah orang telah melakukan komunikasi dengan Kementerian Pariwisata terkait penyelengaraan F8. Meski nanti jika F8 digelar oleh swasta atau tanpa Pemerintah.

"Waktu agak sempit, tentunya harus koordinasi dulu dengan kementerian. Sudah ada sinyal kementerian tidak ada masalah kalau swasta atau tanpa pemerintah dibuat. Karena persoalannya itu adalah di festival, bukan siapa penyelenggaranya, apalagi saya sebagai pencipta ada di situ juga membantu teman-teman," terangnya.

"Keberadaan saya di situ adalah bagian daripada industri kreatif. Harus dibedakan itu, kecuali barangkali orang yang salah pakai kacamata. Kalau kacamatanya politik pasti semuanya politik," tutupnya.

Jurus Baru Travel Agent Konvensional Hadapi OTA

Maraknya Online Travel Agency (OTA) kian mengancam travel agent konvensional. Namun, aplikasi ini bisa jadi jurus baru untuk bersaing dengan OTA.

Berdasarkan press release yang diterima detikcom, Jumat (19/7/2019) Sabre Travel Network Indonesia melalui unit usahanya meluncurkan layanan berbasis aplikasi internet bernama Electra. Untuk informasi, Sabre merupakan perusahaan penyedia sistem perjalanan terbesar di Indonesia yang menguasai sekitar 60% market share GDS di Indonesia.

Aplikasi tersebut dapat mempermudah para pebisnis travel agent konvensional melayani pengguna jasa perjalanan korporasi maupun perorangan untuk pemesanan tiket penerbangan, hotel, tur, umroh, pariwisata dan paket transportasi lainnya.
Acara peluncuran platform aplikasi Electra yang dilangsungkan hari Jumat pagi ini di Jakarta turut dihadiri oleh Direksi Sabre Travel Network Indonesia, Deny Fajar, Pakar Managemen dan Bisnis Universitas Indonesia, Prof. Rhenald Kasali dan Motivator serta Entrepreneur, Merry Riana.

Layanan dan inovasi aplikasi Electra ini bermula dari banyaknya kendala yang dihadapi oleh para pelaku bisnis travel agent konvensional yang tidak mampu bersaing dengan pelaku online. Hal ini disebabkan telah bergesernya perilaku masyarakat dari cara manual yang bertransformasi ke platform digital.

Menurut Direktur Utama Sabre Indonesia, Deny Fajar, beberapa kendala yang dihadapi oleh para pelaku bisnis travel konvensional utamanya adalah dari lemahnya visi dan antisipasi strategis pelaku konvensional dalam menghadapi era digital.

Ditambah dengan proses perizinan yang panjang dan rumit, masih lagi diperlukan investasi yang besar untuk dapat membangun sendiri sebuah aplikasi online dan juga kurangnya pemahaman terkait dengan pola kerja digital marketing.

Deny menjelaskan, Electra adalah booking engine yang berbasis pada platform E-Commerce yang sudah dilengkapi dengan berbagai fitur yang diperlukan dalam traveling, seperti online payment, travel insurance, travel cash, hingga pay later berupa dukungan Bank Nasional terhadap kebutuhan pembiayaan yang diperlukan oleh travel agent terutama dalam mengelola klien korporasinya. Semuanya sudah ditanamkan dalam satu platform.

Terobosan yang dilakukan Electra tak hanya berhenti sampai di sini, panjangnya proses perizinan untuk mendapatkan akses online kepada pihak Airlines, termasuk juga proses memperoleh fasilitas pembayaran online pun menjadi lebih sederhana dan cepat melalui Electra.

Travel Agent yang mendaftar Electra, maka secara otomatis akan mendapatkan domain website atas nama keagenannya sendiri dalam bentuk mobile apps yang bisa didownload melalui Google Play maupun Apple Store.

"Keuntungan dari mendaftar Electra bagi pelaku bisnis travel adalah kepemilikan aplikasi online yang terkoneksi dengan seluruh airlines domestik ataupun internasional, beserta fitur-fitur yang bermanfaat bagi konsumen secara instan, menggunakan identitas travel agent sendiri. Selain itu basis keamanan transaksi yang digunakan adalah dengan metode Deposit-Top Up sehingga tidak ada pembayaran yang tertunda. Hal ini tentu menjadi sesuatu yang diutamakan oleh pihak airlines karena tidak akan terjadi outstanding, sehingga seluruh prosesnya menjadi simple, cepat dan aman," ujar Deny.

Untuk selanjutnya tinggal dilakukan proses aktivasi sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan, lalu mengisi deposit di akun virtual yang juga sudah disediakan guna melakukan transaksi booking dan issued tiket.

"Kami berharap dengan kehadiran dan kemudahan yang disediakan oleh Electra akan membuat para pelaku bisnis travel konvensional memiliki kesempatan dan energi baru guna mengembangkan usaha mereka," pungkas Deny.

Dengan berbagai kemudahan yang disediakan ini, bisnis travel konvensional pun dapat memperluas pasar mereka dan tanpa dibebani biaya tinggi untuk berinvestasi. Electra bekerja sama dengan IPaymu sebagai partner penyedia jasa online payment dan juga PT Bank Artha Graha Int'l Tbk sebagai penyedia jasa perbankan.

IPaymu menjadi solusi pelanggan untuk melakukan pembayaran secara online. Sementara PT Bank Arta Graha Int'l Tbk menjadi solusi untuk Travel Cash dengan penggunaan kartu debit GPN yang memudahkan para traveler inbound untuk melakukan transaksi di banyak merchand di Indonesia tanpa perlu menukarkan uang lokalnya terlebih dahulu ke money changer.