Sabtu, 11 Januari 2020

Jurus Baru Travel Agent Konvensional Hadapi OTA

Maraknya Online Travel Agency (OTA) kian mengancam travel agent konvensional. Namun, aplikasi ini bisa jadi jurus baru untuk bersaing dengan OTA.

Berdasarkan press release yang diterima detikcom, Jumat (19/7/2019) Sabre Travel Network Indonesia melalui unit usahanya meluncurkan layanan berbasis aplikasi internet bernama Electra. Untuk informasi, Sabre merupakan perusahaan penyedia sistem perjalanan terbesar di Indonesia yang menguasai sekitar 60% market share GDS di Indonesia.

Aplikasi tersebut dapat mempermudah para pebisnis travel agent konvensional melayani pengguna jasa perjalanan korporasi maupun perorangan untuk pemesanan tiket penerbangan, hotel, tur, umroh, pariwisata dan paket transportasi lainnya.
Acara peluncuran platform aplikasi Electra yang dilangsungkan hari Jumat pagi ini di Jakarta turut dihadiri oleh Direksi Sabre Travel Network Indonesia, Deny Fajar, Pakar Managemen dan Bisnis Universitas Indonesia, Prof. Rhenald Kasali dan Motivator serta Entrepreneur, Merry Riana.

Layanan dan inovasi aplikasi Electra ini bermula dari banyaknya kendala yang dihadapi oleh para pelaku bisnis travel agent konvensional yang tidak mampu bersaing dengan pelaku online. Hal ini disebabkan telah bergesernya perilaku masyarakat dari cara manual yang bertransformasi ke platform digital.

Menurut Direktur Utama Sabre Indonesia, Deny Fajar, beberapa kendala yang dihadapi oleh para pelaku bisnis travel konvensional utamanya adalah dari lemahnya visi dan antisipasi strategis pelaku konvensional dalam menghadapi era digital.

Ditambah dengan proses perizinan yang panjang dan rumit, masih lagi diperlukan investasi yang besar untuk dapat membangun sendiri sebuah aplikasi online dan juga kurangnya pemahaman terkait dengan pola kerja digital marketing.

Deny menjelaskan, Electra adalah booking engine yang berbasis pada platform E-Commerce yang sudah dilengkapi dengan berbagai fitur yang diperlukan dalam traveling, seperti online payment, travel insurance, travel cash, hingga pay later berupa dukungan Bank Nasional terhadap kebutuhan pembiayaan yang diperlukan oleh travel agent terutama dalam mengelola klien korporasinya. Semuanya sudah ditanamkan dalam satu platform.

Terobosan yang dilakukan Electra tak hanya berhenti sampai di sini, panjangnya proses perizinan untuk mendapatkan akses online kepada pihak Airlines, termasuk juga proses memperoleh fasilitas pembayaran online pun menjadi lebih sederhana dan cepat melalui Electra.

Travel Agent yang mendaftar Electra, maka secara otomatis akan mendapatkan domain website atas nama keagenannya sendiri dalam bentuk mobile apps yang bisa didownload melalui Google Play maupun Apple Store.

"Keuntungan dari mendaftar Electra bagi pelaku bisnis travel adalah kepemilikan aplikasi online yang terkoneksi dengan seluruh airlines domestik ataupun internasional, beserta fitur-fitur yang bermanfaat bagi konsumen secara instan, menggunakan identitas travel agent sendiri. Selain itu basis keamanan transaksi yang digunakan adalah dengan metode Deposit-Top Up sehingga tidak ada pembayaran yang tertunda. Hal ini tentu menjadi sesuatu yang diutamakan oleh pihak airlines karena tidak akan terjadi outstanding, sehingga seluruh prosesnya menjadi simple, cepat dan aman," ujar Deny.

Untuk selanjutnya tinggal dilakukan proses aktivasi sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan, lalu mengisi deposit di akun virtual yang juga sudah disediakan guna melakukan transaksi booking dan issued tiket.

"Kami berharap dengan kehadiran dan kemudahan yang disediakan oleh Electra akan membuat para pelaku bisnis travel konvensional memiliki kesempatan dan energi baru guna mengembangkan usaha mereka," pungkas Deny.

Dengan berbagai kemudahan yang disediakan ini, bisnis travel konvensional pun dapat memperluas pasar mereka dan tanpa dibebani biaya tinggi untuk berinvestasi. Electra bekerja sama dengan IPaymu sebagai partner penyedia jasa online payment dan juga PT Bank Artha Graha Int'l Tbk sebagai penyedia jasa perbankan.

IPaymu menjadi solusi pelanggan untuk melakukan pembayaran secara online. Sementara PT Bank Arta Graha Int'l Tbk menjadi solusi untuk Travel Cash dengan penggunaan kartu debit GPN yang memudahkan para traveler inbound untuk melakukan transaksi di banyak merchand di Indonesia tanpa perlu menukarkan uang lokalnya terlebih dahulu ke money changer.

Lebih Seram dari Area 51, Ini Pulau yang Dilarang Dikunjungi (2)

North Sentinel Island

Area 51 sudah langganan masuk daftar tempat-tempat yang dilarang dikunjungi di dunia. Namun bukan hanya Area 51, beberapa tempat lain di dunia juga tak kalah bahaya dan sungguh-sungguh dilarang dikunjungi orang-orang.

Salah satunya dan disebut paling bahaya adalah North Sentinel Island. Suatu pulau di Kepulauan Andaman, dekat Teluk Benggala di Samudera Hindia. Masuk wilayah bagaian India, meski lebih dekat ke daratan Thailand dan Myanmar.

Dirangkum detikcom dari berbagai sumber, Jumat (19/7/2019) pulau tersebut dihuni oleh suku Sentinel. Suku yang tidak tersentuh dan menolak kedatangan orang luar, bahkan tak segan untuk membunuh siapa saja yang datang!

Sejarah mencatat, beberapa kali orang yang datang ke sana malah kehilangan nyawa. Tahun 1896 seorang narapidana tak sengaja terdampar ke pulau tersebut. Setelah ditemukan di pesisir pantai, tubuhnya terlihat banyak anak panah dan tengkoraknya putus!

Pada tahun 1974, seorang sutradara film yang mengambil gambar North Sentinel Island juga terkena panah di bagian pahanya. Lalu pada tahun 1980, sebuah lembaga dari pemerintah India memberikan bantuan dan mereka meletakannya di pantai. Saat meninggalkan pantai, keluarlah suku Sentinel dan menyerang kapal dengan panah. Tahun 2006 saat dua nelayan sedang memancing di sana, tidak ada kabar dan diyakini sudah tewas oleh suku Sentinel.

Bahkan di tahun 2004 saat tsunami dahsyat yang menerpa Samudera Hindia, termasuk North Sentinel Island dan juga Aceh di Indonesia, pemerintah India menerbangkan helikopter untuk memberi bantuan. Bukannya menyambut dengan suka cita, suku Sentinel malah menyerang helikopter dengan panah dan busur.

Sebenarnya, para peneliti sejarah dan antropologi sudah mencoba berbagai cara untuk mengenal dan bertemu suku Sentinel lebih dekat. Hanya saja, semua berakhir dengan lemparan tombak dan busur panah ketika perahu mendekati pesisir pantai pulaunya.

Meski para peneliti sudah membawa hadiah berupa berbagai peralatan untuk memasak, baju, makanan hingga buah-buahan, tetap saja diusir. Para peneliti melemparnya ke perairan di dekat pantai, tapi kemudian para suku Sentinel dengan bahasa tubuh meminta mereka jangan mendekat.

Seorang peneliti dari India, Pandit pernah nyaris menapaki kakinya di pantai North Sentinel Island. Dilansir dari BBC, suatu ketika setelah dia membawakan hadiah, para suku Sentinel terlihat senang.

Pandit turun dari perahu dengan air setinggi lehernya, dia berjalan pelan-pelan mendekati pantai sambil tetap membawa hadiah. Namun ketika sedikit lagi sampai di pantai, ada seorang anak muda suku Sentinel menghadangnya sambil memegang tombak. Tak mau ambil risiko, Pandit kembali berjalan ke kapal.

Para peneliti menilai, suku Sentinel masih ada hubungan darah dengan orang Afrika. Sebab perawakannya mirip, dari warna kulit dan postur tubuhnya. Diyakini, suku Sentinel sudah menetap di pulau tersebut dari puluhan ribuan tahun lamanya.

Diperkirakan, ada ratusan orang suku Sentinel walau tidak ada data pasti. Begitu juga bahasanya dan adat istiadat suku Sentinel, masih jadi misteri.

Mengapa suku Sentinel menolak kedatangan orang luar? Itu pun banyak jawabannya. Bisa jadi karena mereka memang tidak mau ada kontak dengan dunia luar, atau mereka trauma. Karena mungkin, di zaman dulu pernah ada orang luar yang datang lalu berbuat tidak baik dan meninggalkan kenangan pahit.

Pemerintah India melarang siapa saja datang ke North Sentinel Island. Baik para peneliti atau turis, pemerintah India tidak akan memberikan izin untuk datang ke sana. Berani coba-coba, nyawa yang jadi taruhannya dan pemerintah India tidak akan menolong.

North Sentinel Island sendiri, terlihat begitu cantik. Pulaunya dikelilingi pasir pantai yang putih dan perairannya bergradasi. Sungguh seperti pulau-pulau eksotis lainnya di dunia, tapi ingat ini adalah tempat paling berbahaya untuk dikunjungi.