Sabtu, 11 Januari 2020

Lebih Seram dari Area 51, Ini Pulau yang Dilarang Dikunjungi

Area 51 jadi perbincangan karena mau diserbu. Nyatanya, ada banyak tempat yang dilarang dikunjungi di dunia. Paling bahaya, mungkin North Sentinel Island.

Bermula dari sekadar candaan, ajakan untuk mendatangi Area 51 secara massal ternyata mendapatkan sambutan sangat besar. Sejauh ini, sudah ada sejuta netizen yang menyatakan ingin ikut 'menyemarakkan' penggerudukan untuk mencari alien tersebut.

Bertajuk 'Storm Area 51, They Can't Stop All of Us', peminat diminta bersama menyambangi Area 51 pada 20 September 2019 mulai pukul 3 subuh.

"Kita semua akan bertemu di atraksi turis Area 51 Alien Center dan mengkoordinasikan kita masuk," tulis penggagas event tersebut.

Area 51 memang sudah jadi misteri sejak dulu. Apakah memang benar di sana tempat keberadaan alien ata tempatnya penelitian UFO?

Namun belakangan, aksi tersebut jadi perhatian serius oleh pemerintah AS. Beberapa pakar-pakar militer pun menegaskan jangan coba-coba datang ke sana.

Secara resmi, Area 51 merupakan bagian dari Nevada Test and Training Range yang berhubungan dengan Nellis Air Force Base. Tempat ini menjadi pusat uji coba senjata nuklir dan pesawat-pesawat rahasia. Dijaga ketat oleh militer AS, jangan coba-coba masuk ke sana.

North Sentinel Island

Area 51 sudah langganan masuk daftar tempat-tempat yang dilarang dikunjungi di dunia. Namun bukan hanya Area 51, beberapa tempat lain di dunia juga tak kalah bahaya dan sungguh-sungguh dilarang dikunjungi orang-orang.

Salah satunya dan disebut paling bahaya adalah North Sentinel Island. Suatu pulau di Kepulauan Andaman, dekat Teluk Benggala di Samudera Hindia. Masuk wilayah bagaian India, meski lebih dekat ke daratan Thailand dan Myanmar.

Dirangkum detikcom dari berbagai sumber, Jumat (19/7/2019) pulau tersebut dihuni oleh suku Sentinel. Suku yang tidak tersentuh dan menolak kedatangan orang luar, bahkan tak segan untuk membunuh siapa saja yang datang!

Sejarah mencatat, beberapa kali orang yang datang ke sana malah kehilangan nyawa. Tahun 1896 seorang narapidana tak sengaja terdampar ke pulau tersebut. Setelah ditemukan di pesisir pantai, tubuhnya terlihat banyak anak panah dan tengkoraknya putus!

Pada tahun 1974, seorang sutradara film yang mengambil gambar North Sentinel Island juga terkena panah di bagian pahanya. Lalu pada tahun 1980, sebuah lembaga dari pemerintah India memberikan bantuan dan mereka meletakannya di pantai. Saat meninggalkan pantai, keluarlah suku Sentinel dan menyerang kapal dengan panah. Tahun 2006 saat dua nelayan sedang memancing di sana, tidak ada kabar dan diyakini sudah tewas oleh suku Sentinel.

Bahkan di tahun 2004 saat tsunami dahsyat yang menerpa Samudera Hindia, termasuk North Sentinel Island dan juga Aceh di Indonesia, pemerintah India menerbangkan helikopter untuk memberi bantuan. Bukannya menyambut dengan suka cita, suku Sentinel malah menyerang helikopter dengan panah dan busur.

Sebenarnya, para peneliti sejarah dan antropologi sudah mencoba berbagai cara untuk mengenal dan bertemu suku Sentinel lebih dekat. Hanya saja, semua berakhir dengan lemparan tombak dan busur panah ketika perahu mendekati pesisir pantai pulaunya.

Meski para peneliti sudah membawa hadiah berupa berbagai peralatan untuk memasak, baju, makanan hingga buah-buahan, tetap saja diusir. Para peneliti melemparnya ke perairan di dekat pantai, tapi kemudian para suku Sentinel dengan bahasa tubuh meminta mereka jangan mendekat.

Seorang peneliti dari India, Pandit pernah nyaris menapaki kakinya di pantai North Sentinel Island. Dilansir dari BBC, suatu ketika setelah dia membawakan hadiah, para suku Sentinel terlihat senang.

Pandit turun dari perahu dengan air setinggi lehernya, dia berjalan pelan-pelan mendekati pantai sambil tetap membawa hadiah. Namun ketika sedikit lagi sampai di pantai, ada seorang anak muda suku Sentinel menghadangnya sambil memegang tombak. Tak mau ambil risiko, Pandit kembali berjalan ke kapal.

Para peneliti menilai, suku Sentinel masih ada hubungan darah dengan orang Afrika. Sebab perawakannya mirip, dari warna kulit dan postur tubuhnya. Diyakini, suku Sentinel sudah menetap di pulau tersebut dari puluhan ribuan tahun lamanya.

Diperkirakan, ada ratusan orang suku Sentinel walau tidak ada data pasti. Begitu juga bahasanya dan adat istiadat suku Sentinel, masih jadi misteri.

Mengapa suku Sentinel menolak kedatangan orang luar? Itu pun banyak jawabannya. Bisa jadi karena mereka memang tidak mau ada kontak dengan dunia luar, atau mereka trauma. Karena mungkin, di zaman dulu pernah ada orang luar yang datang lalu berbuat tidak baik dan meninggalkan kenangan pahit.

Upacara Yadnya Kasada di Bromo Mampu Pikat Turis Asing

 Puncak Upacara Yadnya Kasada dipusatkan di Pura Poten, Kamis (18/7) dini hari. Sejak Rabu (17/7) sore, satu per satu perwakilan desa dari seluruh kawasan Tengger hadir membawa ongkek. Umumnya, ongkek berisi aneka hasil bumi sebagai persembahan atau sedekah.

Ritual tahunan ini membuat suasana sekitar Pura Poten di area lautan pasir, 'hidup' selama 24 jam. Tak hanya suku Tengger, banyak juga masyarakat sekitar dan wisatawan yang hadir. Sebagian dari pengunjung bahkan mendirikan tenda-tenda dan bermalam di sana. Beberapa di antaranya juga membuat perapian untuk mengusir dingin.

Keramaian pengunjung ini dimanfaatkan warga untuk mengais rezeki dengan menggelar dagangan di sekitar lokasi. Jadilah semacam pasar malam yang mayoritas diisi pedagang kuliner. Salah satu sumber menyebut, jumlah pedagang tahun ini membludak dua kali lipat dibanding tahun lalu.

"Yadnya Kasada memang event besar, khususnya bagi umat Hindu Tengger. Mereka berkumpul di Puri Poten untuk melakukan berbagai ritual. Seperti puja stuti para dukun pandita sekawasan Tengger, dan pemilihan para dukun atau pemuka adat, sekawasan Tengger," kata Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur Sinarto menambahkan, setelah semua ritual di Puri Poten selesai, dilanjut dengan melabuh sesembahan atau sedekah ke kawah Gunung Bromo. "Inilah ritual yang paling ditunggu dan menjadi daya tarik bagi wisatawan," ujarnya.

Untuk sampai ke puncak Bromo, masyarakat harus menempuh perjalanan lebih dari 1 Km. Melewati padang dan bukit pasir, hingga akhirnya sampai di anak tangga menuju titik tertinggi Gunung Bromo. Bagi wisatawan yang kelelahan, bisa naik kuda yang disewakan warga dari Puri Poten sampai anak tangga.

Staf Khusus Menpar Bidang Publikasi dan Media Don Kardono menjelaskan, melabuh sesembahan atau sedekah biasa dilakukan umat Hindu Tengger pada rangkaian Upacara Yadnya Kasada. Jenis sedekah pun bermacam-macam. Mulai dari hasil bumi seperti kentang dan kol, kebutuhan sehari-hari, hingga hewan ternak.

"Seiring berjalannya waktu, ritual ini menjadi atraksi menarik bagi wisatawan, karena ada sebagian warga yang berburu sedekah. Berbekal alat tangkap, mereka menyongsong semua sedekah yang dilempar ke arah kawah. Ada juga pengunjung yang melempar uang sehingga menjadi rebutan para pemburu sedekah tersebut," bebernya.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani menjelaskan, Bromo merupakan salah satu destinasi unggulan kelas dunia. Peminatnya bukan hanya wisatawan nusantara, tetapi juga mancanegara. Banyak sekali turis asing yang datang ke destinasi ini.

"Kini, dengan adanya Upacara Yadnya Kasada yang menjadi bagian dari Eksotika Bromo, tentu akan membuat kawasan wisata tersebut makin dikenal luas. Yang untung tentu bukan hanya Jawa Timur, tetapi juga Indonesia," jelasnya.

Kepala Bidang Pemasaran I Area Jawa Kemenpar Wawan Gunawan memastikan, kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru didukung aksesibilitas yang baik. Amenitas juga siap sehingga wisatawan tidak perlu khawatir terkait komponen 3A.

"Kawasan ini biasa diakses melalui Bandara Abdulrachman Saleh, Malang, dan dilanjutkan perjalanan darat ke Bromo sekitar 2,5 jam. Sementara untuk amenitas, tersedia banyak akomodasi di sekitar lokasi acara. Baik berupa hotel maupun home stay," tutur Wawan.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menegaskan, Eksotika Bromo 2019 sangat pas bagi milenial. Selain artistik, ada banyak hal baru yang ditawarkan di sana. Milenial memiliki space sangat lebar untuk berkreasi.

"Dengan konsep instagramable, Eksotika Bromo akan menarik banyak wisatawan milenial, khususnya dari Asia. Terlebih, Asia memiliki potensi pasar milenial sebesar 57 persen. Eksotika Bromo menjadi event yang sayang untuk dilewatkan," tandasnya.