Kamis, 09 Januari 2020

Ke Bakkara, Mahasiswa Malaysia Kagumi Kehidupan Sisingamangaraja

Anggota Tim Percepatan Pengembangan Wisata Sejarah, Religi, Tradisi dan Seni Budaya Kemenpar, Rode Ayu Wahyuningputri mengatakan predikat Sisingamangaraja sebagai seorang pejuang yang tidak mau berkompromi dengan penjajah menjadi top of mind anak-anak muda Malaysia saat berkunjung ke Bakkara.

Hal itu terekam jelas saat live in di homestay sekitar Danau Toba yang dihadiri puluhan mahasiswa Universiti Teknologi Mara, Melaka, Malaysia.

"Storytelling yang paling kuat dan mengena memang Sisingamangaraja. Semua yang ada di Bakkara pasti punya keterkaitan emosional dengan Sisingamangaraja," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (26/7/2019).

Aroma Sisingamangaraja sangat terasa di Bakkara. Di sana ada Tombak Sulu-sulu, sebuah gua batu yang dalam keyakinan sebagian orang Batak Toba yang merupakan muasal kelahiran Sisingamangaraja.

Menurut Lead Surveyor Tim Live in Marbun, Bob Moningka dalam folklore yang berkembang di masyarakat Humbahas, disebutkan di sanalah ibunda Sisingamangaraja I, yakni Boru Pasaribu menerima 'wahyu' dari Tuhan. Boru Pasaribu kemudian melahirkan seorang anak laki-laki yang kelak menjadi seorang raja di Bakkara.

"Anak laki-laki itu kemudian diberi nama Manghuntal. Manghuntal inilah yang dikenal sebagai Sisingamangaraja I. Dari sinilah trah Sisingamangaraja dimulai. Mereka memerintah negeri Bakkara. Trah ini berakhir pada Sisingamangaraja XII yang gugur di tangan Belanda pada 1907," terangnya

Secara fisik, Tombak Sulu-sulu termasuk unik. Destinasinya merupakan batuan karst yang telah berumur 250 juta tahun. Semuanya terbentuk akibat pergeseran lempeng bumi. Uniknya, destinasi tersebut dililit akar-akar pohon besar yang menjuntai. Pohon itu dalam bahasa lokal disebut pohon sangka madeha.

Adapun destinasi serupa disebut Aek Sipangolu atau air kehidupan diyakini dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Menurut Kepercayaan penduduk setempat, dengan berdoa sebelum meminum, mencuci muka, mandi atau melakukan ritual kecil di Aek Sipangolu, penyakit dalam tubuh akan terangkat dan hilang. Masalah akan berkurang dan kehidupan akan semakin membaik.

Aek Sipangolu juga merupakan bagian dari perjalanan sejarah kerajaan Sisingamangaraja XII. Kabarnya, Aek Sipangolu berasal dari bekas kaki Gajah Putih milik Raja Sisingamangaraja yang kehausan karena perjalanan panjang mereka dari Manduamas-Barus. Danau Toba yang jauh di kaki gunung yang terjal tidak dapat dijangkau.

Raja Sisingamangaraja kemudian berdoa dan menancapkan tombaknya ke bekas pijakan kaki gajah putihnya.

"Seketika, air keluar dan mengalir hingga saat ini. Story telling seperti ini bisa men-drive milenial Malaysia untuk datang ke Bakkara," ujar Pembimbing Inspire Travel and Tourism Learning Center Jakarta Krisanti Kurniawan.

Kompleks Istana Sisingamangaraja (I-XII) punya cerita lain lagi. Di kompleks istana tersebut terdapat sejumlah situs budaya yang berkaitan dengan dinasti Raja Sisingamangaraja. Antara lain, Makam Sisingamangaraja XI, batu siungkap-ungkapon, tikar 7 lapis, rumah bolon dan bale pasogit yang merupakan rumah ibadah Sisingamangaraja dan pengikutnya.

Beragam pose foto langsung direkam mahasiswa Universiti Teknologi Mara, Melaka, Malaysia. Potongan video pendek juga ikut dibuat. Dan semuanya, langsung diviralkan ke dunia maya.

"Mereka adalah mahasiswa pilihan. Saya memang meminta mereka untuk produksi konten foto, video dan tulisan seputar Bakkara. Banyak masukan bagus. Input positif. Dan saya yakin ini bisa dijadikan masukan untuk mengajak traveller Malaysia ke Bakkara sekaligus membangun pasriwisata di sekitaran Danau Toba," ujar Puan Azwin, Dosen Pendamping mahasiswa Universiti Teknologi Mara, Melaka, Malaysia.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi semua kreativitas Dosen Pendamping dan mahasiswa Universiti Teknologi Mara, Melaka, Malaysia. Menurutnya, Bakkara yang ada di sekitar Danau Toba menjadi hidup, serta bisa mendatang berkah bagi warga sekitar.

Rabu, 08 Januari 2020

Mantan Pramugari: Apa yang Terjadi di Langit, Tetap di Langit

Seorang mantan pramugari menceritakan pengalamannya bekerja. Nyatanya, jadi pramugari tidak melulu enak tapi ada dukanya juga.

Natalie Smith, seorang wanita yang pernah bekerja selama 3 tahun di salah satu maskapai di Inggris menceritakan kisahnya. Dirangkum detikcom dari berbagai sumber, Senin (29/7/2019) Natalie mengungkapkan banyak hal yang pernah dia lihat dan dia rasakan saat menjadi pramugari.

"Kadang, saya melihat banyak bra yang terlepas," kata Natalie membuka perbincangan.

Ya, rupanya ada saja penumpang yang berbuat mesum di atas pesawat. Disebut dengan istilah Mile High Club, para penumpang itu bermesraan kelewat batas.

Kadang pramugari sudah mengingatkan, karena bisa mengganggu kenyamanan penumpang lain. Apa daya, para penumpang yang melakukan hal tersebut selalu cuek bebek.

Penumpang di kelas satu, menurut Natalie, banyak juga yang tidak bisa mengontrol diri. Terutama, untuk meminta minuman beralkohol dan berujung dengan buang air kecil sembarangan.

"Bahkan ada yang buang air di bar. Dia mengira kalau itu adalah toilet," ujarnya.

Kadang sebagai pramugari, sering kali bertemu dengan para selebriti. Sayangnya, beberapa selebriti tidak terlihat 'seindah' di layar kaca.

"Ada saja selebriti yang kasar kepada awak kabin. Memanggil kami, hanya dengan menjetikan jari," kata Natalie.

Tapi, tak sedikit juga selebriti yang punya sikap baik. Selebriti yang mendengar arahan pramugari, bahkan mengucapkan terimakasih ketika dibantu pramugari.

Bagi Natalie, ada banyak tantangan untuk menjadi seorang pramugari. Tantangan yang berat, justru bakal jadi pengalaman yang tak terlupakan.

Natalie kini bekerja pada Compare Travel Insurance AU, suatu perusahaan asuransi traveling. Dia pun berpesan kepada pramugari dan calon-calon pramugari, untuk memegang suatu prinsip saat bertugas.

"Apa yang terjadi di langit, tetap di langit. Nikmati pekerjaanmu, semua pekerjaan tidak ada yang mudah," tutupnya.

Serasa di Mal, Padahal di Terminal Terpadu Pulogebang

Memasuki Terminal Terpadu Pulogebang di Jakarta Timur, rasanya tidak seperti terminal pada umumnya. Malah serasa sedang masuk mal.

Ketika berkuliah di Salatiga, 20-an tahun lalu, saya memang kerap bepergian dari Salatiga ke Jakarta. Ngapain di Jakarta? Kalau liburan, saya memang ke Jakarta. Pulang Manado jauh. Jakarta modal naik bus, bisa sampai.

Dari Salatiga ke Jakarta memang paling mudah naik bus. Kalau naik kereta, harus ke Semarang. Begitu juga kalau naik pesawat.

Nah, belakangan ini bepergian dengan bus, sudah jarang saya lakukan. Sudah terbiasa dengan kereta atau pesawat. Meski begitu, bepergian dengan bus, masih sangat saya sukai.

Ketika ajakan teman saya Hariadhi untuk ke Cirebon dengan menumpang bus, saya pun mengiyakan. Kami janjian berangkat dari Terminal Bus Terpadu Pulogebang. Bus Antarkota memang biasanya dari Pulogadung. Tapi belakangan ini, mungkin dua tahun, dipindahkan ke Pulogebang.

Dari Tanjung Priok ke Pulogebang, saya memilih menggunakan Transjakarta. Lebih murah dan lebih efisien. Transit hanya sekali di halte Stasiun Jatinegara. Dari Koridor 10, saya transit ke Koridor 11.

Hari sudah agak malam ketika sampai di Terminal Pulogebang. Kalau dari luar, terminal ini memang terlihat megah. Bagaimana dalamnya? Dan ini yang membuat saya terkagum-kagum.

Turun dari bus Transjakarta langsung masuk terminal lantai 2. WOW! Kaget saya. Ini terminal. bus kok keren banget ya? Saya serasa masuk ke Bandara. Sudah pasti saya harus mengambil foto dan video.

Lantai 2 ini, ada informasi mengenai jadwal bus. Ada ruang tunggu juga. Keren deh!

Karena saya harus menemui teman saya yang sudah datang, saya kemudian turun ke bawah, ke tempat makan. Turun ke bawah atau lantai di bagian bawah, ada eskalator. Selain eskalator, tersedia juga lift untuk penumpang.