Selasa, 07 Januari 2020

700 Hektar Lahan Taman Nasional Tambora Akan Dipulihkan Ekosistemnya

Sebagai bagian dari upaya pemulihan kondisi lingkungan hidup, Balai Taman Nasional Gunung Tambora akan merehabilitasi lahan seluas 700 hektar di tahun 2019.

Kegiatan RHL tersebut diinisiasi oleh Balai TN Tambora dan menggandeng Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Dodokan Moyosari, dengsn tujuan sebagai bagian dari upaya memulihkan kondisi ekosistem Taman Nasional Tambora dan wilayah sekitarnya.

Kegiatan pemulihan ekosistem tersebut akan diinisiasi dengan berbasis masyarakat sebagai bagian dari upaya Balai TN Tambora menjadikan masyarakat sebagai subjek dalam mengelola Taman Nasional muda tersebut.

"Masyarakat akan dilibat mulai dari proses, penentuan lokasi atau pengukuran, pembibitan, penanaman dan pemeliharaan tanaman. Sasaran lokasi berada di Doro Saha Desa Sori Tatanga, Kecamatan Pekat Dompu, Nusa Tenggara Barat dengan kebutuhan bibit mencapai ratusan ribu bibit," ungkap Kepala Balai Taman Nasional Gunung Tambora, Murlan Dameria Pane, pada detikcom Rabu, (31/7/2019).

Bibit yang akan ditanam merupakan bibit jenis asli Taman Nasional Tambora, antara lain Kepuh (Sterculia poetida) Ketapang (Terminalia catappa), Mpusu, (Ficus sp), Kalanggo (Duabanga moluccana) dan yang lainnya.

"Melalui upaya pemulihan ekosistem tersebut, diharapkan akan menjadi salah satu solusi penanganan banjir di wilayah sekitar serta terpulihkannya ekosistem dan habitat satwa liar di Taman Nasional Tambora yang saat ini telah menjadi Cagar Biosfer bersama-sama dengan Teluk Saleh dan Pulau Moyo," jelasnya.

The Kaldera, Glamping Danau Toba yang Dikunjungi Jokowi

Presiden RI Joko Widodo hari ini mengunggah salah satu atraksi teranyar di Danau Toba. Inilah The Kaldera, glamping dengan berbagai fasilitas seru.

Dalam video tersebut, terlihat presiden Jokowi mengunggah keindahan alam di sekitar The Kaldera. Menurut penjelasannya, The Kaldera yang dikelola Badan Otoritas sudah memiliki fasilitas berbagai tenda, kabin, bahkan area parkir untuk caravan.

The Kaldera terletak di kawasan Danau Toba, Sibisa, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir, Sumut. Jika ditempuh dari Bandara Silangit, lokasinya 2 jam perjalanan darat.

The Kaldera Nomadic Escape berdiri di kawasan The Kaldera Resort seluas 386,7 hektar. Sedangkan, untuk camping ground sendiri memiliki luas sebesar 2 hektar.

Fasilitas yang diberikan pun cukup untuk menunjang wisatawan. Dengan suasana yang tenang ala Bohemian, satu tenda diisi oleh kasur berukuran Queen Bed, kaca, sofa dan meja kecil.

Bukan cuma dengan tenda, traveler juga bisa menggunakan fasilitas glass house yang disewakan. Kamarnya kecil, namun terbuat dari kaca yang unik dan menghadap langsung ke Danau Toba yang cantik.

Ada juga Bubble Tent, tenda dengan bagian atas transparan. Sangat cocok untuk menginap di atas bukit seperti ini, sembari melihat suasana yang teduh atau pemandangan bintang di malam hari yang gemerlap.

Selain itu, traveler tidak perlu repot memikirkan tempat bersih-bersih. Toilet dan kamar mandi yang disediakan pun bersih dengan kloset duduk, shower dan wastafel.

Berbagai fasilitas lain yang juga dapat digunakan bersama adalah kaldera stage, yang bisa diisi dengan berbagai pertunjukan seperti live music. Ditambah sejumlah fasilitas lain seperti ampitheatre yang dapat menampung hingga 300 orang. Cocok untuk milenial yang ingin berwisata bersama kerabat maupun teman terdekat.

Ada juga ecopod, area parkir, Kaldera Stage dan Kaldera Hill. Cocok untuk traveler yang ingin mengadakan acara gathering, ataupun selebrasi lainnya. Ditambah, sejumlah atraksi seperti bus wisata sampai keliling Danau Toba naik helikopter.

Karena diperuntukkan sebagai tempat yang privat, penginapan hanya dikhususkan untuk maksimal 50 orang. Bagimana, mau coba ke sini?

Berlibur Sejenak di Bondowoso

Nama Kota Bondowoso mungkin jarang masuk wishlist liburan. Namun, sempatkan sejenak untuk mengunjungi kota tapal kuda ini yang damai dan sejuk.
Setiap orang memiliki tujuan yang berbeda-beda saat berwisata, menghilangkan rasa penat, menambah koleksi foto destinasi, mencicipi kuliner khas dan masih banyak lagi. Sejujurnya, saya mencari sesuatu yang berbeda untuk perjalanan kali ini.

Sudah lama sekali tidak menyapa udara segar di Bondowoso, salah satu kota di Jawa Timur yang penduduknya tidak lebih banyak dari kota domisili saya, Sidoarjo. Namun, Bondowoso memiliki daya tarik tersendiri.

Perjalanan kali ini, tidak membuat rencana apapun, ingin menikmati suasana yang benar-benar baru. Dari Surabaya menuju Bondowoso menggunakan transportasi Kereta Api, transportasi favorite saya, jika memesan travel atau menggunakan sepeda motor pribadi, lelah dengan jalanan yang berkelok. Namun, jika menggunakan Kereta Api, tujuan akhirnya hanya sampai di Jember, selanjutnya menyewa mobil.

Tidak terlalu kaget dengan suasana padatnya kota Jember, bisa dibilang hampir mirip dengan Surabaya, mulai padat kendaraan, penduduk, dan mall-mall mulai menghiasi jalanan Kota suwar-suwir ini.

Sangat kontras dengan Jember, Bondowoso bisa dibilang cocok untuk kalian yang ingin meninggalkan sejenak dari padatnya rutinitas, hawa yang sejuk daan menawarkan kedamaian, tidak ada gedung-gedung tinggi seperti mall yang sering terlihat di Surabaya, jalanan ramai tapi tak terjadi macet berkepanjangan yang bisa membuat emosi.

Sebenarnya banyak penduduk di Bondowoso yang usia produktif, tapi mereka lebih banyak bekerja atau kuliah di Jember maupun kota besar lainnya. Penduduk di kota yang memproduksi tape ini terlihat lebih banyak yang berdagang.

Jajanan dan kulinernya sangat nikmat dan juga murah, harga air mineral yang ukurannya gelas, seharga 500 rupiah, jajanan gorengan masih ada yang harganya 500. Pecel yang laris dekat dengan pasar, seharga 10.000 dengan paket komplit dan lauk dendeng ragi.

Saya dan orangtua saya sempat bercengkerama, jika kota yang dinginnya seperti di Malang ini, malah merencanakan masa depan, yaitu ingin menghabiskan masa tua di Bondowoso saja, alasannya sederhana, kota ini jauh dari hiruk-pikuk.

Bagaimana tidak, kota yang dikelilingi oleh 3 Gunung yaitu, kaki Gunung Raung, Gunung Ijen dan kaki Gunung Argopuro, siapa yang menolak jika suasananya kembali ke alam, kebutuhan hidup murah, tidak bising dan jauh macet maupun polusi.

Tidak ada kata bosan. Jika ingin berlibur, langsung saja menikmati pemandangan atau mendaki gunung yang telah nampak dengan jelas di depan mata. Namun, hal yang susah untuk ditemukan adalah angkutan umum, hanya ada di jam-jam tertentu saja, kadang lama saat menunggu di pinggir jalan meskipun di jalan besar.

Selain mengandalkan kendaraan pribadi, di sini banyak sekali becak yang beroperasi. Becak yang dikayuh atau yang bermotor, tarifnya berbeda-beda. Kadang, jika bertanya berapa tarif untuk ke suatu tempat, malah pak supir becak, hanya berkata, seikhlasnya saja. Ah, mana tega jika memberikan uang hanya seikhlasnya, biasanya saya memberi uang 5.000 untuk jarak dekat. Untuk jarak jauh menyesuaikan saja, apalagi jika membawa barang.

Banyak sekali keramahan, kenyamanan, keindahan dan halphal baik yang ditemukan di sini, semakin bersemangat untuk mencari nafkah, menambah pundi-pundi tabungan dan menetap di Bondowoso saat pensiun nanti.

Namun, masa pensiun saya masih lama dan ingin sekali menikmati perjalanan yang akan membawa kesannya sendiri, membawa saya untuk semakin mengenal diri sendiri, mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain.

Ingin sekali ke Dubai, pemandangan alam maupun berbagai lokasi wisata yang eksotis, banyak sekali influencer maupun teman-teman yang upload perjalanan mereka di Dubai.

Nggak mau gigit jari, pengin juga merasakan sensasinya yang bakalan menyisakan pengalaman yang tak terlupakan, seperti Burj Al Arab, naik unta di padang pasir, Madinat Jumeirah dan masih banyak lagi, dan tidak ketinggalan ingin sekali mencicipi street food, lebih mengenal Dubai lebih dekat, menyaksikan hiruk pikuk dan padatnya orang yang sedang berlibur maupun warga lokal, ingin mengenal budaya dan masyarakatnya.