Minggu, 05 Januari 2020

Piramida di Lereng Merbabu ini Dibangun dari 12.000 Botol Plastik

Sebuah piramida dibangun warga Boyolali di lereng Merbabu. Menariknya, piramida setinggi 4 meter itu dibuat dengan menggunakan sampah plastik.

Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia, seluruh warga Indonesia menghias kampungnya masing-masing. Tak terkecuali warga Dukuh Surodadi RT 04/02, Desa Tarubatang, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali.

Warga di lereng Gunung Merbabu itu menghias kampungnya dengan membangun sebuah piramida. Bahan yang digunakan dari sampah plastik, khususnya botol air mineral bekas.

"Untuk pembuatan piramida ini kami menghabiskan sekitar 12.000 botol, itu pun belum sempurna," kata Tarno, Ketua Kelompok Pecintan Alam (KPA), Rajawali, Dukuh Surodadi, Desa Tarubatang, Kecamatan Selo ditemui disela-sela kerja bakti pembuatan piramida tersebut, Senin (5/8/2019).

Piramida tersebut berbentuk segitiga sama kaki. Memiliki panjang 12 meter dan tinggi 4 meter. Dibangun di tikungan perempatan Dukuh Surodadi, di jalan Gebyok - Jeruk, Selo.

Botol-botol air mineral ukuran 1,5 liter itu terlebih dulu dirangkai menggunakan kawat ukuran kecil atau yang sering disebut kawat blendrat. Selanjutnya ditempelkan pada rangka piramida yang dibuat dari bambu. Di puncak piramida, ditancapkan bendera merah putih. Begitu pula di salah satu sisinya, juga dipasang bendera merah putih panjang.

Di bagian depan piramida, terdapat tulisan DK. Surodadi yang juga terbuat dari botol bekas. Dilihat botol tersebut memiliki warna. Namun untuk pewarnaan ini, warga tidak menggunakan cat. Tetapi juga menggunakan sampah plastik yang dimasukkan ke dalam botol-botol tersebut.

"Untuk pewarna kita juga menggunakan sampah plastik," jelas Tarno.

Menurut dia, sampah plastik tersebut diambil dari lingkungan sekitar. Selain dari limbah rumah tangga, juga dari sampah Gunung Merbabu. Yaitu botol air mineral dari pada pendaki Gunung Merbabu yang naik turun dari jalur Selo.

"Kita memanfaatkan botol air mineral dan plastik untuk pewarna. Kita menggunakan sampah itu intinya kita ingin mengurangi sampah di kawasan lingkungan sekitar, Khususnya di lingkungan Surodadi, juga lingkungan taman nasional (Taman Nasional Gunung Merbabu)," ujar Tarno.

Kebetulan, dukuh di Desa Tarubatang itu juga dekat dengan base camp dan pintu pendakian Gunung Merbabu melalui Selo. KPA Rajawali dan warga setempat, juga cukup aktif dalam kegiatan di Taman Nasional Gunung Merbabu. Botol-botol tersebut sebagian besar diambil dari sampah dari gunung di wilayah Jawa Tengah ini.

Botol untuk membuat piramida yang berjumlah mencapai 12.000 itu dikumpulkan selama sekitar satu bulan. Pengerjaan piramida juga sekitar satu bulan ini.

"Sampah di Merbabu, khususnya botol banyak sekali, karena pengunjung di Merbabu juga lumayan besar. Apalagi di musim-musim liburan. Per harinya itu kalau kita mau mengelola botol di Merbabu dan kawasan sekitar sini, kalau teman-teman rajin, mungkin 1.000 botol pun kita dapatkan," imbuh dia.

Selama ini, kata dia, pengelolaan sampah plastik yang begitu besar itu hanya dibakar saja. Namun, kini warga akhirnya memanfaatkan sampah plastik tersebut untuk mempercantik kampungnya menyambut HUT ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia.

"Kalau kemarin kita belum bisa mengolahnya. Kalau sampah plastik yang sudah tidak terpakai mungkin dibakar untuk mengurangi penyumbatan sampah saja. Kalau mungkin untuk planning dari teman-teman Karang Taruna Surodadi, ada kelanjutan untuk menghias piramida ini intinya untuk mengurangi sampah di sekitar dan untuk mempercantik desa," tandasnya.

Seorang warga setempat, Parsidi, menambahkan pembuatan piramida dari sampah botol air mineral tersebut dalam rangka menghias kampung dalam menyambut HUT ke-74 Kemerdekaan Indonesia.

"Menjelang HUT Kemerdekaan ini, dari Karang Taruna RT 04/02 muncul ide untuk membuat piramida atau rumah yang terbuat dari botol. Nah kebetulan di RT 04 ini ada komunitas KPA Rajawali yang bergerak di Taman Nasional Gunung Merbabu, sehingga kami memanfaatkan botol-botol itu dari gunung, diambil dari pendaki-pendaki," tambah Parsidi.

Sabtu, 04 Januari 2020

Spot-spot Snorkeling Cakep di Raja Ampat

Raja Ampat memang surganya alam bawah laut. Tak harus diving, cukup dengan snorkeling di spot-spot cantik ini, kamu bisa puas liburan di Raja Ampat.

Berwisata ke Raja Ampat rasanya belum sempurna kalo tidak berbasah-basahan menikmati pemandangan bawah lautnya yang cantik memukau. Potensi wisata bahari Raja Ampat memang sudah tidak diragukan lagi, apalagi bila menilik kekayaan bawah lautnya.

Di Raja Ampat terdapat 70% jenis karang yang ada di dunia, dengan 1.427 jenis ikan karang. Ini menunjukkan Raja Ampat memiliki pusat keanekaragaman hayati laut dunia.

Namun bagi wisatawan yang ingin menyaksikan kekayaan laut dan keindahannya, tidak perlu cemas kalo tidak bisa diving, sebab dengan snorkeling pun dapat melihat keindahan dan kekayaan bawah laut Raja Ampat.

Beberapa lokasi diving dan snorkeling terbaik di antaranya Manta Sandy, Yenbuba Jetty, Arborek Jetty, Friwen Bonda, Cape Kri, Blue Magice, Mioskun. Catat ya!

Transit Setengah Hari di Oman, Bisa ke Mana Saja?

Oman belakangan jadi hub transit penerbangan ke Eropa. Ada waktu setengah hari transit di Oman, bisa ke mana saja ya kira-kira?

Penerbangan komersil dari maskapai nasional Oman akhir-akhir ini sering memberikan tiket promo menuju ke beberapa destinasi-destinasi di Eropa. Hal yang menarik adalah dalam penerbangan menuju destinasi di Eropa tersebut, maskapai ini menawarkanlong transit yang membuat penumpang harus menginap di Muscat, Oman.

Hal ini sepertinya sengaja dilakukan oleh pihak maskapai demi untuk meningkatkan jumlah turis asing yang berkunjung ke Oman. Untuk mengunjungi negara Oman sendiri, wisatawan dari Indonesia dapat mengajukan visa online atau visa on arrival yang memakan biaya sekitar 5 Omani Rial atau sekitar hampir 200 ribu Rupiah.

Untuk mengajukan visa online dapat dilakukan di www.evisa.rop.gov.com dengan membuat akun terlebih dahulu. Pengisian form visa memakan waktu 15 hingga 20 menit dan visa akan keluar sehari setelah apply. Sementara visa on arrival dapat dilakukan langsung di counter visa on arrival di bandara Internasional Muscat.

Biasanya maskapai nasional Oman ini berangkat dari Jakarta pada pukul 14.00 WIB serta tiba di Muscat pukul 19.00 waktu setempat. Sehingga mengharuskan para wisataan untuk menginap semalam di Muscat, sebelum melanjutkan penerbangan ke destinasi berikutnya di siang hari keesokannya.

Banyak opsi hotel murah di Muscat dengan harga mulai dari 650 ribu hingga 1,5 juta Rupiah permalam. Lalu apa saja objek wisata yang dapat dikunjungi oleh paratraveler selama sedang transit di Muscat?

Tempat wisata yang paling terkenal di Muscat adalah Sultan Qaboos Grand Mosque yang merupakan salah satu masjid terbesar dan masjid utama Kesultanan Oman. Bangunan yang luas dan megah serta desain interior yang mewah merupakan highlight utama dari masjid tersebut.

Kota Muscat sendiri bersebrangan langsung dengan Teluk Oman, sehingga terdapat pantai di kota tersebut. Wisatawan dapat menikmati pantai Al-Qorum yang memiliki pemandangan yang cukup indah.

Objek wisata yang juga menarik untuk dikunjungi adalah kota tua Muscat. Disana terdapat Muttrah Corniche, yaitu merupakan kawasan pinggir pantai yang biasanya terdapat di kawasan negara teluk. Traveler dapat menikmati angin sepoi-sepoi sambil melihat kapal bersandar. Pemandangan indah baik di siang maupun malam hari ketika banyak lampu-lampu menyala.