Jumat, 03 Januari 2020

Sunrise Cantik di Gunung Bromo

Keindahan Bromo memang tiada habisnya. Menyaksikan sunrise di pagi hari dan mengabadikan momen dengan latar keindahan alamnya tidak akan membuatmu menyesal datang ke sana.

Bromo selalu memiliki daya tarik yang sangat memikat. Pemandangan yang disuguhkan selalu menakjubkan dari sisi manapun. Dahulu, keindahan pemandangan Bromo ini hanya bisa saya baca dari buku yang ada di perpustakaan sekolah. Tempat ini seolah mustahil untuk didatangi secara langsung karena letaknya yang lumayan jauh dari kota tempat saya tinggal.

Namun, semuanya itu bisa terbantahkan di bulan Maret 2019. Tahun ini saya akhirnya bisa menginjakkan kaki di tempat yang sejak dulu aku impikan. Perjalanan kami dimulai dari Kota Malang. Jam setengah 12 malam, kami sudah memulai perjalanan menuju titik kumpul jeep yang akan mengantarkan kami menuju Bromo.

Setelah semua peserta trip berkumpul dan persiapan sudah selesai, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Bromo. Untuk trip Bromo ini, kamu bisa membayar travel agent mulai dari harga Rp 270.000. Tergantung paket yang kamu ambil.

Jam 3 pagi, jeep yang membawa kami sudah sampai di parkiran dekat sunrise point. Suhu udara saat itu 15 derajat celcius, cukup dingin untuk orang yang biasa tinggal di daerah pantai seperti saya.

Pada sekitar sunrise poin berjejer beberapa pondok pedagang yang menjajakan gorengan dan makanan hangat, minuman hangat serta ada perapian yang bisa digunakan pengunjung untuk menghangatkan tubuh. Sambil menunggu matahari terbit, saya dan teman-teman mengahangatkan tubuh di dekat perapian. Beberapa penyewa jaket bolak-balik menjajakan jasa pinjaman jaket kepada para pengunjung.

Jam setengah 5 pagi, kami mulai menuju sunrise point untuk menyaksikan keindahan matahari terbit. Sebuah keindahan yang luar biasa, bersyukur sekali bisa menyaksikan matahari terbit di Bromo. Tidak perlu ditanya lagi, titik tempat menyaksikan matahari terbit ini sangat ramai oleh pengunjung.

Fotografer sekaligus tour guide mengajak kami ke Bukit Kingkong. Untuk mencapat tempat ini, kami perlu menanjak dengan jalur setapak. Sesampainya di puncak, hanya ada beberapa orang di sana.

Puas menyaksikan matahari terbit dari Bukit Kingkong, kami melanjutkan perjalanan Bromo ini ke Lembah Widodaren, Pasir Berbisik dan Padang Savana. Saat saya berkunjung ke Bromo Bulan Maret, Padang Savana di Bromo sedang hijau-hijaunya, sangat bagus sebagai latar berfoto. Namun, kekurangannya jika datang pada bulan ini adalah langit yang berawan, sehingga tidak bisa didapatkan foto dengan langit yang cerah.

Alhamdulillah, tahun ini keinginan besar saya untuk mengunjungi Bromo bisa terwujud. Semoga saja destinasi impian saya yang selanjutnya bisa segera terwujud, yaitu mengunjungi Dubai. Negeri yang digadang-gadang sebagai negeri terkaya di dunia ini sangat ingin saya kunjungi. Bagi saya, Dubai bagaikan negeri dongeng.

Kamu tentu tahu kalau negara ini tidak memiliki hutang dengan negara lain. Wah keren sekali, sangat penasaran untuk bisa mengunjungi dan melihat keindahan negara ini. Semoga saja keinginan saya untuk mengunjungi negara ini segera terwujud.

Savana Bekol, Little Africa di Situbondo

Jika ingin merasakan berada di nuansa Afrika, tak perlu jauh-jauh ke sana. Situbondo punya tempat yang membuatmu berada di hamparan savana dengan kehidupan liar layaknya di Afrika.

Pagi hari di Banyuwangi, langit sudah mulai tampak mendung, tetapi keinginan untuk mengunjungi Little Africa di ujung timur adalah kesempatan yang tidak boleh untuk disia-siakan.

Bagi sebagian orang, melakukan traveling di musim penghujan sangatlah dihindari. Tetapi bagiku, setiap musim pastinya memiliki cerita dan pengalaman tersendiri. Berbekal info dari warga lokal akhirnya memberanikan diri menuju Wongsorejo menggunakan kendaraan roda dua. Sesekali, aspal jalanan tampak lembap berganti kering dari jalanan yang dilintasi.

Selepas Curahuser, bunyi mesin sepeda motor beradu dengan bunyi air mengenai helm. Hujan turun dengan deras. Pilihannya ada 2, tetap lanjut menggunakan jas hujan atau berhenti berteduh.

Jarak pandang yang terbatas membuat keputusan berhenti berteduh adalah pilihan tepat di salah satu toko penjual alat pancing. Hampir 1 jam aku berhenti, menunggu hujan deras berganti rintik sebelum bergegas melanjutkan perjalanan.

Akhirnya, setelah melaju kembali selama 20 menit, gerbang selamat datang menyambut, lengkap dengan simbol taman nasional berlatar gunung dan kerbau. Selepas membeli tiket masuk, jalanan berganti melintasi jalan yang hanya cukup dilewati sepasang mobil.

Berbagai vegetasi flora tumbuh di kiri dan kanan jalan. Bahkan sesekali, burung dan ayam hutan melintas dengan liarnya.

Rimbunnya pohon, seketika berubah menjadi padang rumput nan luas terhampar di depan mata. Musim penghujan membuat rumputnya menghijau, bukan lagi kuning kering. Bekol, begitulah nama dari savana ini. Sangat jelas tertulis di papan nama di kanan jalan ketika pemandangan itu berganti dan menjadi bagian dari Taman Nasional Baluran, bilah-bilah papan mencetaknya dengan jelas, sebagai penanda selamat datang.

Salah satu area, terdapat satu pohon sempurna berdiri sendiri, peneduh di tengah savana yang hijau. Beberapa meter dari pohon, ada semak belukar membentuk kolam lumpur hitam pekat. Dari situlah sesekali binatang bertanduk bermunculan. Sebuah suasana yang sangat jarang ditemui.

Rasanya tidak ingin membuang-buang waktu atas penawaran panorama di depan mata. Setelah peregangan keci, tatapan mataku dengan mantap tertuju ke sepasang tiang vertikal beratapkan daun. Di bawahnya, sejumlah tengkorak kepala banteng bergantungan. Tampak rongga-rongga kosong di sekitar tengkorak, menandakan tuanya umur tengkorak.

Tidak muncul rasa ngeri melihatnya, bahkan keberadaan tengkorak ini menjadi penyempurna daya tarik savana bekol. Tak berhenti disitu, dari balik gundukan tanah, secara perlahan, sekawanan kijang keluar dari peraduannya. Tanpa perlu adanya komando, mereka terus bergerak bergerombol.

Savana Bekol memberikan nuansa Afrika yang terasa kental. Mulai dari hamparan savana hingga liarnya kehidupan flora dan fauna. Mungkin inilah alasan julukan little Africa di ujung timur Pulau Jawa tersematkan. Tak ada lagi hutan beton seperti yang setiap hari aku temui di ibukota. Sekarang yang aku lihat benar-benar padang rumput yang luas.

Semua sudah terbayarkan dengan panorama yang terhampar di depan mata. Hingga sore datang menyapa, aku harus segera beranjak, meninggalkan savana sesegera mungkin. Langit pun kembali kelabu.

Dalam perjalanan pulang, aku berharap bisa mengunjungi tempat lain. Entah mengapa, Dubai terlintas sebagai destinasi berikutnya. Mungkin karena daya tarik Dubai sebagai kawasan gurun pasir yang belum pernah terlihat, di samping kemegahan bangunan pencakar langitnya.

Jika diberi kesempatan ke Dubai, aku pun berencana untuk melakukan desert safari yang diawali menggunakan mobil off road melintasi gurun pasir hingga menunggangi unta. Pasti akan menjadi pengalaman yang mengesankan, penyempurna pengalaman mengunjungi Savana Bekol di Situbondo sebagai Little Africa di ujung Timur Pulau Jawa.