Kamis, 02 Januari 2020

Wisata Keluarga di Posong, Mendekatkan Anak ke Alam

Memaksimalkan akhir pekan dengan membawa anak-anak ke alam. Salah satunya adalah membawa mereka ke Posong di Temanggung.

Itulah salah satu cara yang saya coba untuk membuat hidup mereka lebih seimbang. Hidup kami juga sebagai orang tua juga sebenarnya, setelah 6 hari berkutat dengan kesibukan masing-masing. Satu diantara sekian pengalaman traveling keluarga yang paling menyenangkan, adalah saat membawa anak-anak ke Posong, Temanggung, Jawa Tengah.

Di ranah pariwisata, wisata alam Posong termasuk baru. Nama Posong sendiri berasal dari dua kata Pos dan Song yang merupakan kependekan dari kosong. Konon, di era penjajahan, Posong digunakan Pangeran Diponegoro guna memancing pihak Belanda, agar mereka melakukan penyerangan di pos yang ternyata kosong.

Sekarang Posong menjadi tempat yang cantik dan menarik. Daya tarik utama yang ditawarkan, tentu saja keindahan alam, dan udaranya yang sejuk dan segar. Secara geografis, Posong berada di wilayah Desa Tlahab, Kledung, Temanggung. Bagi traveler yang ingin juga menikmati Posong, maksimalkan saja aplikasi atau papan petunjuk jalan, karena pada dasarnya lokasi obyek wisata Posong gampang dicari.

Dari Yogyakarta, Posong kami jangkau sekitar 2, 5-3 jam menggunakan kendaraan pribadi dengan rute melewati Magelang, baru kemudian arah Temanggung, lantas memilih jalur yang ke arah Wonosobo, lalu berbelok ke kanan jalan di kilometer 9 Jalan Parakan-Wonosobo pada gapura yang bertuliskan Posong. Mengikuti jalan masuk, hingga kami kemudian ketemu dengan pos retribusi, dan membayar Rp 10.000/pengunjung dan juga biaya parkir sebesar Rp 5.000.

Sudah sampai? Belum, karena kami harus naik sekitar 3,5 kilometer menyusur jalan yang lumayan sempit, namun sudah dikeraskan. Untuk naik, ada dua opsi yang bisa kami pilih, menggunakan ojek (motor) atau tetap menggunakan mobil pribadi. Karena waktu itu Posong tidak begitu ramai, kami bisa membawa mobil kami naik sampai atas. Dari 3,5 kilometer pertama itulah sebenarnya wisata alam sudah dimulai, tanpa harus menunggu sampai tiba di puncak Posong.

Aktivitas petani, hamparan ladang pertanian yang rata-rata ditanami sayuran, dan juga tanaman kopi yang terlihat ranum menjadi pemandangan yang nggak boleh kami lewatkan. Waktunya juga anak-anak tahu secara lebih dekat beberapa jenis tanaman, yang biasanya hanya mereka nikmati produk jadinya; kopi yang sudah terseduh dalam cangkir, atau semangkup sup tanpa tahu ada jerih payah pak petani waktu menanam aneka sayur-mayurnya.

Sampai di atas, udara dingin memang langsung terasa. Dingin, tapi segar untuk semua paru-paru. Berada di kaki Gunung Sindoro, 1.823 mdpl, saat cuaca sedang cerah, konon pengunjung bisa melihat keindahan 7 gunung sekaligus, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merbabu, Gunung Ungaran, Gunung Muria, Gunung Merapi, dan Gunung Telomoyo. Sayang hari itu, Posong diselimuti kabut.

Kami lantas berjalan, berkeliling, membiarkan mata memandang semua kecantikan yang dimiliki kawasan wisata alam Posong. Tak lupa, kami masuk pula ke area taman. Di sini, kami membeli sebuah stiker yang sekaligus berfungsi sebagai tanda masuk seharga 10.000 rupiah. Di area taman inilah, anak-anak serasa menemukan surga bermain mereka, tanpa harus sibuk dengan gadget/ponsel.

Ada playground, yang bisa dimanfaatkan anak-anak untuk bermain. Rumput hijau, menjadi area yang menyenangkan bagi dua bocah saya berkejaran atau bahkan berguling-guling di rerumputan. Sambil menunggu anak-anak, saya cukup duduk di gasebo, menikmati kokohnya Sindoro yang hari ini diselimuti kabut tipis di temani minuman hangat, dan juga menu-menu lokal yang banyak disedikaan oleh warung-warung di area taman. Menu andalan Taman Wisata Posong adalah kopi, karena daerah ini adalah penghasil kopi.

Betah berlama-lama di Posong. Tak hanya mendapatkan udara segar, panorama alam yang cantik, tapi pikiran kami berasa lebih fresh. Kami yakin, melakukan travelling sekeluarga di alam seperti ini, tidak hanya lebih sehat untuk kami sebagai orang tua, pasti lebih sehat pula untuk anak-anak. Masih pengen travelling lagi? Kalau bisa lebih jauh, tapi tetap alam sebagai daya tarik utama, seperti misalnya Taman kupu-kupu terbesar di dunia, yang berada di Dubai. Bolehkan hari ini saya melambungkan mimpi, untuk bisa melihat Dubai, suatu hari nanti?

Mengenal Mumi Papua yang Belum Banyak Orang Tahu

Mungkin belum banyak orang yang tahu, Papua punya Mumi. Warisan dari leluhur ini menjadi salah satu bukti betapa kayanya budaya Papua.

"Ada 5 suku di Papua yang punya tradisi kematian berupa jenazah dijadikan mumi yaitu suku Mek di Pegunungan Bintang, suku Dani di Lembah Baliem, suku Moni di Intan Jaya, suku Yali di Kurima dan suku Mee di Dogiyai," kata peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto kepada detikcom, Senin (13/8/2019).

Hari menjelaskan, jenazah yang dijadikan mumi bukanlah jenazah orang sembarangan. Biasanya, merupakan jenazah seseorang yang dinilai berjasa bagi sukunya, baik itu merupakan kepala suku, panglima perang atau orang yang sangat dihormati.

"Ada tahapan-tahapan dalam mempersiapkan dan menangani mumi, yaitu menunjuk anggota suku yang bertugas mengerjakan proses pemumian, menyiapkan kayu bakar, dan menyiapkan honai sebagai tempat pelaksanaan pemumian," terangnya.

Dalam proses pengerjaan mumi, terlebih dahulu mayatnya diasap dengan kayu bakar. Sebelum pengasapan dilakukan, dipersiapkan babi yang baru lahir sebagai tanda waktu.

Waktu pengasapan berlangsung adalah sejak babi lahir sampai babi tersebut mempunyai taring yang panjang. Setelah selesai pengasapan, kemudian dilakukan upacara-upacara untuk memandikan para petugas, pelepasan mumi dengan memotong babi yang digunakan sebagai tanda waktu dan mengalungkan ekor babi yang dipotong tersebut ke leher mumi. Setelah semua proses pengerjaan mumi selesai, maka diakhiri dengan pesta bakar batu.

Menariknya, ada satu proses lain dalam pemumian di Papua. Suku Mek, menaruh jenazah di atas pohon selama satu tahun sehingga menjadi mumi secara alami.

"Cuaca yang dingin di atas pohon menjadikan jenazah terawetkan secara alami. Baru setelah itu, diturunkan dan ditaruh di dalam gua," terang Hari.

Jadi ada dua metode pemumian di Papua, yakni diasapi dan ditaruh di atas pohon. Kemudian, muminya ada yang ditaruh di dalam honai (rumah tradisional Papua) dan ada di dalam gua.

"Kalau dilihat, mumi-mumi di Papua itu posisinya duduk. Alasannya dalam konsep prasejarah, penguburan dalam posisi duduk ibarat bayi dalam kandungan," terang Hari.

Pada umumnya, yang dijadikan mumi adalah seorang laki-laki. Namun, ada juga mumi perempuan di Papua yang rupanya tidak sengaja terbentuk karena cuaca dingin dan ditemukan di dalam gua.

"Mumi perempuan hanya satu, yaitu mumi Yamen Silok di Kurima," terang Hari.

Sejauh ini, sudah terdata 6 mumi di Papua yaitu 4 di suku Dani, 1 di suku Yali dan 1 di suku Moni. Tiap suku, memiliki masing-masing nama sebutan untuk muminya. Misal di suku Dani di Wamena, mumi-mumi di sana disebut mumi Kurulu, mumi Pumo, mumi Araboda dan mumi Jiwika.

Mumi pada suku Dani di Wamena pun paling sering dikunjungi wisatawan. Apalagi saat pagelaran Festival Lembah Baliem, ada banyak operator tur yang menawarkan paket perjalanan untuk melihat mumi.

Yang mesti kamu tahu, wisatawan yang mau melihat mumi biasanya dikenai biaya Rp 50-100 ribu. Biaya tersebut, nantinya akan digunakan oleh masyarakat setempat.

Menurut Hari, mumu-mumi pada suku Dani sudah dikonservasi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayawijaya bersama Balai Arkeologi Papua pada tahun 2017 silam. Sayangnya, masih banyak juga mumi yang belum dijaga dengan baik.

"Wisatawan harus diedukasi untuk tidak memegang mumi, cukup berfoto. Selain itu, maysarakat belum mengenal atau belum tahu bagaiamana cara menjaga mumi," tutur Hari.

Contohnya, mumi harus ditempatkan di tempat yang kering, dijaga dari gangguan serangga dan tikus maupun binatang peliharaan seperti anjing. Mumi yang diletakan di dalam honai juga harus dijaga dengan baik, supaya tidak rusak jika honainya terbakar.

Secara tradisional, masyarakat yang merawat mumi hanya dengan cara diasapi dan dilumuri lemak babi. Mereka tidak pernah diberi pelatihan perawatan mumi. Hingga saat ini belum ada juru pelihara yang ditunjuk oleh instansi resmi pemerintah untuk menjaga dan merawat mumi.

Lebih dari itu, mumi di Papua yang diperkirakan usianya 300-an tahun nyatanya menjadi misteri. Hari mengungkapkan, masih banyak mumi yang belum terdata!

"Berdasarkan informasi, ada 3 mumi lagi di suku Mee tetapi keluarga atau pemilik merahasiakannya. Alias, orang luar tidak boleh lihat," terangnya.

"Ada juga yang tersebar di hutan-hutan pedalaman yang sulit diakses," tutup Hari.