Minggu, 22 Desember 2019

Nostalgia Drakor 'Winter Sonata' di Pulau Cantik Korea

Kamu yang suka drama korea alias drakor pasti tahu 'Winter Sonata'. Buat kamu yang mau nostalgia drama hits ini bisa berkunjung ke Pulau Nami di Korea Selatan.

Lewat drama 'Winter Sonata', sebuah pulau di Korea Selatan menjadi terkenal dan jadi destinasi favorit untuk dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Apalagi kalau bukan Pulau Nami.

Pulau yang cantik ini terletak di Provinsi Gangwon, yang jaraknya cukup jauh dari pusat Kota Seoul. Dengan mobil atau bus, traveler bisa menempuh waktu kurang lebih 2 jam untuk mencapai Pulau Nami.

Setelah tiba di dermaga, traveler harus menyeberang ke Pulau Nami dengan menaiki kapal ferry yang sudah tersedia. Waktu tempuhnya sekitar 15 menit.

Atau traveler mau mencoba yang lebih menantang? Traveler bisa menyeberang ke Pulau Nami dengan naik flying fox. Waktu tempuhnya pasti jauh lebih cepat.

Saat tiba di pulau dengan luas 460.000 meter persegi itu, traveler akan disambut dengan pintu masuk bertuliskan 'Welcome To Naminara Republic'. Traveler bisa mengeksplorasi keindahannya dan akan terbawa suasana 'Winter Sonata'.

Meskipun bukan musim gugur, Pulau Nami ini tetap terlihat indah dengan deretan pohon yang berwarna hijau ditemani semilir angin.

Masuk menelusuri Pulau Nami ini, traveler akan menemukan sedikit demi sedikit kenangan-kenangan dari 'Winter Sonata'. Mulai dari foto-foto tokoh-tokohnya, seperti Jun‑sang Kang, Yoo‑jin Jung, Kim Sang‑Hyeok, dan Oh Che‑Rin. Juga ada patung yang menjadi ikon dari 'Winter Sonata'.

Traveler bisa menikmati panorama hutan pinus yang begitu rindang. Bisa menikmatinya dengan berjalan ataupun bersepeda. Bukan hanya bisa didatangi oleh pasangan romantis, traveler juga bisa mengajak serta seluruh keluarga untuk berpiknik.

Tak perlu khawatir, di Pulau Nami ini ada beberapa restoran yang bisa dikunjungi untuk mengisi perut. Juga ada beberapa toko cinderamata khas pulau cantik ini.

Untuk traveler yang berniat mengunjungi Pulau Nami, tiket masuk beserta penyeberangannya adalah 13 ribu won atau setara dengan Rp 152 ribu. Bersiaplah menikmati musim gugur di Pulau Nami yang cantik!

ISTAfest, Penghargaan Pariwisata Berkelanjutan Kelas Dunia

Penghargaan di bidang pariwisata atau ISTAfest 2019 kembali digelar. Penghargaan ini diharapkan mampu mendorong pariwisata Indonesia berkelanjutan kelas dunia.

Ajang Indonesia Sustainable Tourism Awards Festival (ISTAfest) 2019 kembali diadakan. Di tahun ketiganya diharapkan kegiatan ini mampu mempercepat terwujudnya Indonesia sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan kelas dunia.

"Tahun ini adalah tahun ketiga ISTAfest diadakan. Setiap tahunnya peserta semakin meningkat dan di tahun ini berjumlah 263 dimana di tahun 2018 hanya 176 peserta," ujar ketua panitia Dadang Rizki Ratman sekaligus Deputi Pengembangan Destinasi Pariwisata di Ballroom the Ritz-Carlton Jakarta, Kamis (26/9/2019).

Dadang juga menyebutkan bahwa kegiatan ini tidak sekedar memberi penghargaan saja, namun juga ajang untuk mempromosikan destinasi pariwisata juga.

"Ini tidak sekedar memberi penghargaan bagi yang sudah menerapkan konsep pariwisata berkelanjutan. Namun juga ajang promosi wisata,"tambahnya.

Menpar Arief Yahya pun mengutarakan bahwa untuk pengembangan industri dan usaha pariwisata dapat diukur bukan dengan 3 aspek. Melainkan sudah ditingkatkan menjadi 3P yaitu people, planet, profit menjadi prosperity, peace, dan patnership.

Selain itu Menpar Arief juga menegaskan betapa pentingnya pengembangan pariwisata berkelanjutan. Tak hanya properti namun juga untuk warga dan lingkungan.

"Peran CEO Commitmen atau keberpihakan pemimpin daerah untuk sektor pariwisata sangat penting. Sebelum bangun usaha bangun dulu masyarakat dan alamnya, jadi semakin lestari dan memakmurkan juga. Makanya sustainable touris mustahil terwujud bila tidak ada CEO commitment ini," ujar Arief.

Terdapat perbedaan ISTAfast 2019 dengan tahun sebelumnya. Dalam pelaksanaanya dibagi menjadi 3 rangkaian yaitu ISTA Forum, ISTA Mart, dan ISTA Awards.

Terdapat 4 kategori yang dilihat di ISTAfest 2019 yaitu dari segi kelola, ekonomi, sosial budaya dan lingkungan. Penghargaan juga diberikan kepada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan penghargaan pada Green Hotel Award.

Khusus hotel, ada 10 hotel yang terbaik mewakili di ajang internasional di Brunei Darussalam. Selanjutnya juga diberikan penghargaan kepada perguruan tinggi yang telah melaksanakan Program Pembangunan Desa Wisata melalui pendampingan sebagai tindak lanjut dari MoU antara Kemenpar dengan perguruan tinggi.

Masjid Ramlie Musofa di Jakarta, Indahnya bagaikan Taj Mahal

Bingung mencari wisata religi di Jakarta? Nah, bagi kamu yang mencarinya bisa mampir ke Masjid Ramlie Musofa tepatnya di Jalan Danau Sunter Selatan 1 blok 1 10 nomor 12 C 14 A, Jakarta Utara.

Bangunan yang berada di seberang Danau Sunter, Jakarta Utara ini rupanya ialah sebuah masjid. Masjid Ramlie Musofa memiliki kesan mewah dan menawan karena berarsitektur layaknya seperti monumen Taj Mahal di India.

Lalu, seperti apa ya masjid yang menerapkan empat unsur budaya ini? Berikut ini beberapa fakta menarik mengenai Masjid Ramlie Musofa di Sunter yang dirangkum detikTravel:

1. Sejarah Masjid Ramlie Musofa

Masjid ini mulai dibangun oleh Ramli Rasidin pada tahun 2011-2016. Pembangunan masjid yang memiliki luas sekitar 2.000 meter persegi ini mendatangkan bahan bangunan untuk mimbar berupa marmer dari Turki dan Italia loh, juga mendatangkan ornamen ukiran khusus dari Pulau Jawa.

Masjid ini terinspirasi dari kisah berdirinya monumen Taj Mahal yang menceritakan tentang pembangunannya menjadi ajang perwujudan cinta antara seorang raja terhadap istrinya. Hal itu menjadikan inspirasi bagi pemilik Masjid Ramlie Musofa ini untuk berharap masjid ini sebagai pembuktian cinta terhadap Allah, Islam dan keluarga.

2. Penamaan Masjid

Nama masjid ini sendiri pun berasal dari inisial keluarga sang pemilik, yaitu

Ramli Rasidin : Ram
Lie Njok Kim : Lie (istri)
Muhammad : Mu (anak pertama)
Sofia : So (anak kedua)
Fabian : Fa (anak ketiga)

3. Perpaduan 4 Unsur Budaya

Masjid megah berwarna putih ini memadukan empat unsur budaya loh, yakni Indonesia, Tionghoa, India dan Arab. Tiap budaya memiliki makna budaya yang berbeda, seperti budaya Arab mewakili agama Islam, budaya Tionghoa berasal dari latar belakang sang pemilik, dan budaya India dari kisah monumen Taj Mahal.

4. 3 Bahasa

Faktanya, tak hanya unsur budaya saja yang dipadukan. Hal ini dibuktikan di bagian depan masjid Ramlie Musofa, kamu akan disambut dengan ukiran surat Al-Fatihah yang menggunakan tiga bahasa sekaligus, yaitu bahasa Arab, Indonesia, dan Mandarin.

Tak hanya itu, di beberapa sudut dinding masjid juga terdapat ukiran kaligrafi yang menerangkan hari kiamat dan hari pembalasan, serta doa-doa.

Tujuannya adalah untuk mempermudah para muallaf atau wisatawan asing yang berasal dari Tionghoa saat berkunjung ke sini, serta agar seluruh umat muslim senantiasa ingat kepada Allah SWT.

5. Fasilitas-Fasilitas Masjid

Menariknya di masjid ini, akan terasa berbeda saat mengambil air wudhu. Hal ini disebabkan adanya tempat duduk yang dikhususkan untuk para penyandang disabilitas dan lansia dalam berwudhu.

Tak ketinggalan, fasilitas di masjid yang memiliki tiga lantai ini juga tersedia dua lift.

6. Sang Pemilik Muallaf

Siapa sangka pemilik masjid ini merupakan seorang muallaf. Saat ia berusia 19 tahun, Ramli memutuskan untuk berpindah ke agama Islam. Bukti kecintannya kepada Allah dan keluarganya akhirnya ia tunjukkan dengan masjid ini.

7. Wedding di Masjid Ramlie Musofa

Masjid yang memiliki arsitektur indah ini faktanya sering dijadikan tempat acara di momen spesial bagi para pasangan pengantin loh. Salah satunya, pasangan artis Cut Meriska dan Roger Danuarta yang melakukan foto pra wedding di Masjid Ramlie Musofa.

Tak heran, pesona masjid ini mampu menjadi tempat bersejarah buat beberapa pasangan. Gimana tertarik menyelenggarakan momen pernikahan di masjid ini ?