Minggu, 22 Desember 2019

Penemuan Langka di Papua: Ikan Kepala Buaya

Baru-baru ini, para peneliti di Papua dikejutkan dengan seekor ikan yang langka. Ikan dengan kepala yang mirip seperti kepala buaya!

Hari Suroto selaku peneliti dari Balai Arkeologi Papua bersama WWF (World Wildlife Fund) melakukan penelitian di Kampung Yomakan, Distrik Rumberpon, Pulau Rumberpon, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Dibantu masyarakat setempat, mereka menemukan ikan yang sangat jarang dijumpai yakni ikan kepala buaya.

"Ikan ini memiliki kepala gepeng mirip kepala buaya, dalam bahasa ilmiahnya Cymbacephalus beauforti," terang Hari kepada detikcom, Jumat (27/9/2019).

"Masyarakat mencari ikan dengan cara menyelam di kedalaman air laut, berhasil mendapatkan seekor ikan kepala buaya," kata Hari.

Menurut Hari, ikan kepala buaya berkamuflase berdiam diri di sekitar terumbu karang. Untuk menyergap mangsa, secara tiba-tiba ikan kepala buaya akan meluncur cepat.

"Ikan ini akan menelan langsung mangsanya karena didukung oleh mulutnya yang besar," ungkapnya.

Ikan kepala buaya hidup di perairan dasar berpasir, lamun atau terumbu karang pada kedalaman mulai 1 meter hingga 30 meter. Persebaran ikan ini hanya di Filipina, Australia, Papua Nugini dan Kaledonia Baru.

"Temuan ikan kepala buaya di Pulau Rumberpon, begitu sangat spesial karena menjadi bukti bahwa di perairan Teluk Cenderawasih, Papua juga terdapat spesies ikan ini," pungkas Hari.

Melihat Kesiapan Miangas dalam Pariwisata

Menjadi garda terdepan di utara Indonesia membuat Miangas begitu seksi untuk wisata. Namun, apakah Miangas siap?

Dalam ekspedisi bersama Bank BRI, detikcom menjelajahi Miangas selama seminggu mulai dari 8-15 September 2019. Layaknya pulau-pulau terdepan lainnya, wisata ke Miangas sebenarnya terdengar sangat menggoda.

Sebagai pulau kecil di perbatasan, Miangas punya matahari sebagai salah satu primadona wisatawan asing.

"Di sini sebenarnya tempat wisata, cuma tak ada dana tidak ada," ujar Yan Piter Lupa, Kepala desa Miangas.

Melihat langsung keadaan Miangas, tim detikcom mendapati hanya ada 2 penginapan yang tersedia untuk wisatawan di pulau ini. Penginapan ini pun sebenarnya adalah rumah warga.

Setelah ada kunjungan dari Presiden Jokowi 2 tahun 2016, barulah ada peningkatan dari kunjungan pejabat daerah sebanyak 60 persen.

"Pemdes sudah memberikan sosialisasi kepada warga. Warga bisa membuka satu kamar untuk tamu di rumahnya. Ini bisa menambah pendapatan warga," jelas Kades.

Namun beberapa hal dirasa menjadi kendala, seperti anak-anak dalam keluarga. Warga takut, tamu akan terganggu dengan adanya anak kecil dalam rumah.

"Baru-baru ada kegiatan BUMN. Ada target untuk pembuatan cottage di Miangas. Bangunannya sudah ada, tapi belum ada isinya, belum diresmikan juga," ungkap Yan Piter.

Hal lain yang tak kalah penting adalah transportasi menuju Miangas. Asal tahu saja, penerbangan yang ada hanyalah seminggu sekali menggunakan Wings Air.

Kalau lewat jalan laut? Bisa lebih lama.

Hal ini dikarenakan kondisi ekstrem Miangas. Kapal yang tadinya seminggu dua kali, bisa mundur sampai dua minggu sekali. Bahkan pernah sampai sebulan tak ada kapal yang bersandar.

Kapal-kapal tersebut berangkat dari Melonguane menuju Kratung dan Miangas. Gelombang besar dan angin kencang, biasanya membuat kapal hanya bisa berlayar sampai Kratung.

"Berharap ada bantuan dari Pemda, karena kontribusi pemda agak minim. Kita ingin memajukan perbatasan," ujar Sepno Lantaa, Camat Khusus Miangas.

Short Escape di Kepulauan Seribu, Ini Rekomendasinya

Bagi traveler Jakarta, Kepulauan Seribu di Utara Jakarta bisa jadi pilihan untuk short escape. Berikut aneka rekomendasi destinasi travel Pulau Seribu.

Berjarak sekitar satu hingga dua setengah jam perjalanan darat dengan speedboat dari Muara Angke, Jakarta Utara, di wilayah yang populer dengan sebutan Pulau Seribu ini traveler sudah bisa menikmati jernihnya air laut tanpa perlu pergi terlalu jauh dari Jakarta.

Secara teknis, Kepulauan Seribu terdiri dari 110 pulau. Di mana 11 pulaunya memiliki penduduk, sedangkan tujuh di antaranya merupakan resort. Hanya harus diakui, tak semua pulau di Kepulauan Seribu punya air yang masih jernih.

Hal itu pun diungkapkan oleh Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kasudinparbud) Kepulauan Seribu, Cucu Ahmad Kurnia saat ditemui detikcom di Pulau Tidung Jumat pekan lalu (20/9/2019).

"Di mana lagi bisa lihat laut jernih dekat Jakarta kurang dari ratusan ribu sampai Rp 1 juta? Di Kepulauan Seribu lah. Cuma kalau yang airnya jernih Pulau Tidung," ujar Cucu.

Hal itu pun dibuktikan langsung oleh detikcom saat berkunjung ke Pulau Tidung saat pada gelaran Eco Music Camp & Oceanik Folk Festival pekan lalu. Air laut masih begitu jernih di Pulau Tidung Besar hingga Pulau Tidung Kecil yang tersambung dengan Jembatan Cinta.

Menariknya, masing-masing pulau di Kepulauan Seribu punya keunikan masing-masing. Apabila Pulau Tidung Besar dihuni warga dan terkenal akan pantainya, Pulau Tidung Kecil lebih dikhususkan untuk agrowisata.

Lebih lanjut, Cucu membagi Kepulauan Seribu ke dua pilihan. Yang pertama adalah pulau penduduk yang didominasi homestay atau pulau resort yang lebih menengah ke atas.

"Kalau pulau penduduk itu ada Pulau Pramuka, Pulau Pari, Pulau Harapan, Pulau Tidung, Pulau Untung Jawa. Kalau resort itu pilihannya ada tujuh, Pulau Air, Pulau Bidadari, Pulau Sepa, Pulau Putri, Pulau Macan, Pulau Pantara sama satu lagi Pulau Pelangi dan juga beberapa pulau yang sifatnya cagar budaya tapi gak ada penginapan," ujar Cucu.

Itulah sedikit gambaran tentang wisata Kepulauan Seribu di Utara Jakarta. Kalau mau tahu lebih detil tentang Kepulauan Seribu, ikuti terus detikTravel akhir pekan ini ya.

Penemuan Langka di Papua: Ikan Kepala Buaya

Baru-baru ini, para peneliti di Papua dikejutkan dengan seekor ikan yang langka. Ikan dengan kepala yang mirip seperti kepala buaya!

Hari Suroto selaku peneliti dari Balai Arkeologi Papua bersama WWF (World Wildlife Fund) melakukan penelitian di Kampung Yomakan, Distrik Rumberpon, Pulau Rumberpon, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Dibantu masyarakat setempat, mereka menemukan ikan yang sangat jarang dijumpai yakni ikan kepala buaya.

"Ikan ini memiliki kepala gepeng mirip kepala buaya, dalam bahasa ilmiahnya Cymbacephalus beauforti," terang Hari kepada detikcom, Jumat (27/9/2019).

"Masyarakat mencari ikan dengan cara menyelam di kedalaman air laut, berhasil mendapatkan seekor ikan kepala buaya," kata Hari.

Menurut Hari, ikan kepala buaya berkamuflase berdiam diri di sekitar terumbu karang. Untuk menyergap mangsa, secara tiba-tiba ikan kepala buaya akan meluncur cepat.

"Ikan ini akan menelan langsung mangsanya karena didukung oleh mulutnya yang besar," ungkapnya.

Ikan kepala buaya hidup di perairan dasar berpasir, lamun atau terumbu karang pada kedalaman mulai 1 meter hingga 30 meter. Persebaran ikan ini hanya di Filipina, Australia, Papua Nugini dan Kaledonia Baru.

"Temuan ikan kepala buaya di Pulau Rumberpon, begitu sangat spesial karena menjadi bukti bahwa di perairan Teluk Cenderawasih, Papua juga terdapat spesies ikan ini," pungkas Hari.