Sabtu, 21 Desember 2019

Arung Jeram Cisameng, Destinasi Wisata yang Juga Lahirkan Atlet

Kampung Cisameng, yang berada di Desa Rajamandala Kulon, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), punya arung jeram sebagai destinasi wisata. Di sini pula telah lahir sejumah bibit-bibit atlet Indonesia.

Kampung Cisameng berada di perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Cianjur. Letaknya di sekitar area PLTA Saguling dan PLTA Rajamandala. Tercatat cuma ada sekitar 100 kepala keluarga yang tinggal di sana.

Menilik sejarahnya, masyarakat lokal semula mayoritas bekerja sebagai petani. Baru pada 1991 mereka mulai melek dengan potensi wisata arung jeram di Sungai Citarum Purba yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari kampung tersebut.

"Ketika itu pak Haji Wawan Purwana yang punya Yayasan Kapinis Indonesia datang ke sini. Beliau penjelajah dan melihat potensi wisata arung jeram di sini," kata Doddy Aang Satibi (24), salah seorang atlet arung jeram kelahiran Cisameng kepada detikcom.

Bagi penyuka olahraga adrenalin arung jeram, derasnya air sungai dengan rute berkelok dan panjang di sana memberi daya tarik tersendiri. Pada prosesnya, wisata arung jeram di Cisameng pun naik daun seiring dengan tersebarnya informasi dari mulut ke mulut. Apalagi aliran sungai ini sebelumnya juga digunakan sebagai sarana latihan militer.

"Setelah itu mulai bermunculan warung-warung oleh warga. Warga sekitar juga yang tertarik mulai dilatih yayasan untuk menjadi skipper (pengendali perahu)," kata Doddy.

Sejak menginjak bangku SMA, Doddy dipercaya menjadi skipper. Remaja setempat lainnya yang terlatih juga mulai mengikuti berbagai lomba dengan bendera klub Kapinis Indonesia.

"Saya juga mulai mengikuti berbagai kejuaraan sejak SMP, saya ikut lomba di HUT Marinir;" ujar Doddy yang menyabet medali perak dalam PON 2016 lalu itu.

Doddy sendiri adalah generasi ketiga yang dilahirkan Kapinis Indonesia. Generasi pertama telah merebut gelar juara I untuk nomor sprint serta juara II untuk nomor slalom dan down river race, dalam ajang International Rafting Federation (IRF) World Cup Series di Sungai Alas - Aceh pada 2011 lalu.

"Senior kami ada kang Rendi, kang Ruhiyat Otoy, Solihin Unyil, Herman Debleng. Kurang lebih sekarang ada 20-an atlet yang lahir di aliran sungai ini," tutur Doddy yang kini juga melatih tim Porda Kota Bandung itu.

Pada pertengahan tahun ini ada Taufik Hidayatulloh (18) dan tim dari generasi keempat atlet yang lahir di Cisameng berhasil meraih juara kedua IRF di Australia. "Ketika itu kami kalah tipis dari tuan rumah, jumlah pesertanya dari 21 negara," katanya.

Siswa kelas 2 SMK itu pun mengaku bersyukur lahir di kampung dengan dukungan alam seperti ini. "Kalau sekarang aliran sungai agak tenang, lumayan bisa dipakai latihan power," ucapnya.

Kemeriahan Miangas Sambut Kapal-kapal yang Datang

Tak ada habisnya cerita dari pulau ujung utara Indonesia, Miangas. Pulau sebesar Jaksel ini punya kebiasaan menyambut kapal-kapal yang datang dengan meriah dan sukacita.

Berada di garis depan Indonesia, Miangas berdiri tangguh sebagai pulau mandiri. Dengan luasan 3,2 kilometer persegi, pulau ini punya lebih banyak pohon kelapa dari manusia.

Masyarakatnya membangun pemukiman di bibir pantainya. Sebuah pelabuhan di ujung pantai menjadi sarana penting dalam menunjang kehidupan masyarakat Miangas.

Ya, Miangas menggantungkan kehidupannya pada kapal perintis yang datang. Semua kebutuhan pokok diangkut dari ke pulau ini lewat kapal perintis.

Di Pulau Ini, Kedatangan Kapal Disambut MeriahFoto: Muhammad Ridho

Beras, sayur, daging, sampai gas, mereka titipkan ke kapal perintis. Semua dipasok sebanyak-banyaknya untuk persiapan cuaca ekstrem.

Berada jauh terpisah dari Indonesia, Miangas di kelilingi oleh lautan lepas. Gulungan gelombang besar dan angin kencang menjadi sahabat bagi kapal.

Tak jarang, kapal-kapal perintis yang harusnya datang dua kali seminggu pun tak terlihat. Untuk menunggu laut teduh, kapal perintis biasanya bermalam di Pulau Kratung terlebih dahulu.

"Kapal seringkali bermalam di Kratung karena adanya ombak besar menuju Miangas," ujar Yan Piter Lupa, Kepala Desa Miangas.

Di Pulau Ini, Kedatangan Kapal Disambut MeriahFoto: Muhammad Ridho

Begitu tiba di pelabuhan Miangas, suara klakson kapal akan menggema ke seluruh pulau. Masyarakat bergegas keluar rumah untuk menyambut kapal.

Raut waswas yang cemas menanti bahan makanan akan berganti senyum dan sukacita. Masyarakat menanti dengan sabar di pinggir dermaga.

Nostalgia Jalan-jalan Sore di Blok M

Di tahun 80-an, kawasan Blok M di Jakarta Selatan identik dengan tempat gaul muda-mudi ibukota. Popularitasnya pun mengalami pasang surut.

Menyebut nama Blok M bisa jadi membangkitkan kenangan buat kalangan tertentu. Khususnya generasi yang besar di tahun 80-an, saat lagu Jalan-jalan Sore karya Denny Malik tengah naik daun.

Sempat mengalami pasang surut, kawasan Blok M atau yang dahulu dikenal dengan Kebayoran itu memang lekat sebagai lokai "ngeceng" anak gaul zaman itu. Tentunya sebelum banyak mal besar bermekaran di bilangan Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat.

Hal senada juga dituturkan oleh Chanda dari Jakarta Good Guide saat dihubungi terpisah oleh detikcom, Selasa (1/10/2019). Popularitas Blok M kala itu tak kalah dengan kawasan Cikini yang lebih dulu ada.

"Blok M mulai ngehits tahun 80-an. Dulu tempat nongkrong anak muda di Cikini zaman 50-60, habis itu baru pindah ke daerah Blok M tahun 80-an. Ya itu lah si Deni Malik itu ada lagunya Jalan-jalan sore," ujar Chanda.

Sejarahnya, kawasan Blok M dibangun oleh pihak Belanda sebagai kawasan satelit dari Weltevreden (Gambir dan sekitarnya) yang telah sesak penduduk. Meniru konsep kota taman yang lebih dulu ada di Menteng, kawasan Kebayoran dibagi menjadi blok-blok berbeda dengan taman kecil.

"Blok M itu dulu namanya Kebayoran, dulu dibangun Belanda tahun 47 atau 46 dibikin blok gitu. Kayak taman kota di Menteng, tiap blok punya taman. Dulu yang ngehubungin Blok M sama Weltevreden bukan Jalan Sudirman tapi jalan depannya Plaza Senayan Jalan Asia Afrika," ujar Chanda.

Dikhususkan sebagai blok komersil, Blok M dihiasi oleh sejumlah tempat ikonik seperti Aldiron Plaza (Kini BLok M Square) yang merupakan mal pertama di Jakarta, Plaza BLok M, hingga Melawai PLaza.

Pada masanya, muda-mudi saat itu kerap menghabiskan waktu dengan ngeceng di kawasan Blok M. Aktifitasnya pun bervariasi, dari main bowling bareng di Aldiron Plaza atau sekedar nongkrong di gerai franchise Ah American Burger mendengar musik di Aquarius.

Secara lokasi, Blok M juga berdekatan dengan SMU Negeri 70 hingga 6 yang eksis di masanya. Tak jauh dari GOR Bulungan juga ada spot Warung Apresiasi atau disingkat Wapres yang jadi ajang muda-mudi unjuk kebolehan di bidang musik.

Hanya seiring dengan lahirnya sejumlah pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, perlahan popularitas Blok M mulai redup.

"Mulai matinya kayaknya mulai banyak mal, karena gue inget banget tahun 2000-an masih lumayan. Tapi begitu Cikini sepi, Blok M juga," ujar Chanda.

Namun, hadirnya MRT Jakarta yang diresmikan tahun lalu seakan membawa nafas segar bagi kawasan Blok M. Stasiun MRT Blok M yang berlokasi tepat di samping Terminal Blok M seakan membawa kembali wisatawan untuk bernostalgia.

Chanda sendiri mengaku, ia kerap membawa wisatawan untuk bernostalgia di kawasan Blok M lewat Jakarta Good Guide. Di luar generasi yang besar di tahun 80-an, kalangan milenial yang ikut tournya juga disebut cukup antusias.

"Sebulan sekali atau dua bulan sekali, karena masuknya rute puteran tiap minggu kita ganti-ganti. Bagus responnya. Mungkin karena kita bikinnya gak sering, jadi begitu ada waktunya orang langsung," terang Chanda.

Perlahan, pemerintah dan pihak Pemprov DKI Jakarta memang tengah membangkitkan kembali kawasan Blok M. Yang terbaru, telah hadir M Bloc Space dekat Terminal Blok M yang merupakan kolaborasi dari Perum Peruri dan PT Ruang Milenial.

Diresmikan 26 September 2019 lalu, M BLoc Space yang dahulu merupakan eks rumah dinas Peruri diharap dapat menjadi ruang publik baru di kawasan Blok M. Ikuti terus ulasannya di detikTravel.