Sabtu, 21 Desember 2019

Nostalgia Jalan-jalan Sore di Blok M

Di tahun 80-an, kawasan Blok M di Jakarta Selatan identik dengan tempat gaul muda-mudi ibukota. Popularitasnya pun mengalami pasang surut.

Menyebut nama Blok M bisa jadi membangkitkan kenangan buat kalangan tertentu. Khususnya generasi yang besar di tahun 80-an, saat lagu Jalan-jalan Sore karya Denny Malik tengah naik daun.

Sempat mengalami pasang surut, kawasan Blok M atau yang dahulu dikenal dengan Kebayoran itu memang lekat sebagai lokai "ngeceng" anak gaul zaman itu. Tentunya sebelum banyak mal besar bermekaran di bilangan Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat.

Hal senada juga dituturkan oleh Chanda dari Jakarta Good Guide saat dihubungi terpisah oleh detikcom, Selasa (1/10/2019). Popularitas Blok M kala itu tak kalah dengan kawasan Cikini yang lebih dulu ada.

"Blok M mulai ngehits tahun 80-an. Dulu tempat nongkrong anak muda di Cikini zaman 50-60, habis itu baru pindah ke daerah Blok M tahun 80-an. Ya itu lah si Deni Malik itu ada lagunya Jalan-jalan sore," ujar Chanda.

Sejarahnya, kawasan Blok M dibangun oleh pihak Belanda sebagai kawasan satelit dari Weltevreden (Gambir dan sekitarnya) yang telah sesak penduduk. Meniru konsep kota taman yang lebih dulu ada di Menteng, kawasan Kebayoran dibagi menjadi blok-blok berbeda dengan taman kecil.

"Blok M itu dulu namanya Kebayoran, dulu dibangun Belanda tahun 47 atau 46 dibikin blok gitu. Kayak taman kota di Menteng, tiap blok punya taman. Dulu yang ngehubungin Blok M sama Weltevreden bukan Jalan Sudirman tapi jalan depannya Plaza Senayan Jalan Asia Afrika," ujar Chanda.

Dikhususkan sebagai blok komersil, Blok M dihiasi oleh sejumlah tempat ikonik seperti Aldiron Plaza (Kini BLok M Square) yang merupakan mal pertama di Jakarta, Plaza BLok M, hingga Melawai PLaza.

Pada masanya, muda-mudi saat itu kerap menghabiskan waktu dengan ngeceng di kawasan Blok M. Aktifitasnya pun bervariasi, dari main bowling bareng di Aldiron Plaza atau sekedar nongkrong di gerai franchise Ah American Burger mendengar musik di Aquarius.

Secara lokasi, Blok M juga berdekatan dengan SMU Negeri 70 hingga 6 yang eksis di masanya. Tak jauh dari GOR Bulungan juga ada spot Warung Apresiasi atau disingkat Wapres yang jadi ajang muda-mudi unjuk kebolehan di bidang musik.

Hanya seiring dengan lahirnya sejumlah pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, perlahan popularitas Blok M mulai redup.

"Mulai matinya kayaknya mulai banyak mal, karena gue inget banget tahun 2000-an masih lumayan. Tapi begitu Cikini sepi, Blok M juga," ujar Chanda.

Namun, hadirnya MRT Jakarta yang diresmikan tahun lalu seakan membawa nafas segar bagi kawasan Blok M. Stasiun MRT Blok M yang berlokasi tepat di samping Terminal Blok M seakan membawa kembali wisatawan untuk bernostalgia.

Chanda sendiri mengaku, ia kerap membawa wisatawan untuk bernostalgia di kawasan Blok M lewat Jakarta Good Guide. Di luar generasi yang besar di tahun 80-an, kalangan milenial yang ikut tournya juga disebut cukup antusias.

"Sebulan sekali atau dua bulan sekali, karena masuknya rute puteran tiap minggu kita ganti-ganti. Bagus responnya. Mungkin karena kita bikinnya gak sering, jadi begitu ada waktunya orang langsung," terang Chanda.

Perlahan, pemerintah dan pihak Pemprov DKI Jakarta memang tengah membangkitkan kembali kawasan Blok M. Yang terbaru, telah hadir M Bloc Space dekat Terminal Blok M yang merupakan kolaborasi dari Perum Peruri dan PT Ruang Milenial.

Diresmikan 26 September 2019 lalu, M BLoc Space yang dahulu merupakan eks rumah dinas Peruri diharap dapat menjadi ruang publik baru di kawasan Blok M. Ikuti terus ulasannya di detikTravel.

Pelarian Orang Jakarta Kala Tiket Pesawat Mahal: Gunung Luhur

Gunung Luhur yang disebut Negeri di Atas Awan merupakan destinasi wisata baru di Lebak, Banten. Inilah pelarian orang-orang Jakarta, untuk berwisata.

Gunung Luhur berada di Desa Citorek Kidul, Lebak, Banten. Dari Jakarta, bisa ditempuh dengan jarak sekitar 4 jam 30 menit. Keluarlah dari Tol Bitung 1, lalu lanjut menuju ke Jl Raya Serang dan melewati Cipanas.

detikcom baru-baru ini berkunjung ke sana dan berbincang dengan Narta yang biasa disapa Jaro Atok sebagai Kepala Desa Citorek Kidul. Menurutnya, Gunung Luhur merupakan destinasi wisata baru.

"Baru 8 bulan ini kami rapikan dan tata tempatnya. Awalnya hanya masyarakat sini dan desa-desa di sekitar. Namun ternyata, viral di media sosial dan makin banyak yang datang ke sini," ujar Jaro Atok.

Gunung Luhur memiliki panorama lautan awan yang menutupi Desa Citorek Kidul. Panorama yang disebut sebagai Negeri di Atas Awan itu, sebenarnya adalah hal yang biasa dan sudah lama terjadi di sana. Bisa dilihat dari pukul 5 sampai 7 pagi, asal tidak sedang hujan.

"Ya karena zaman dulu tidak ada media sosial, jadi tidak terkenal lah," kata Jaro Atok sambil tertawa.

Dari mana sih wisatawan yang paling banyak datang ke sini?

"Paling banyak dari Jakarta. Plat B ada di mana-mana," jawab Jaro Atok.

Menurut Jaro Atok, jalanan menuju ke Gunung Luhur sudah bagus. Hanya saja, harap berhati-hati karena cukup sempit dan berkelak-kelok.

"Mungkin karena lokasinya tak begitu jauh dari Jakarta, sehingga pengunjung dari sana bisa datang dan menginap dulu. Kemudian setelah Subuh, baru deh bisa naik ke bukit dan melihat Negeri di Atas Awan," paparnya.

"Apalagi, tiket pesawat kan sedang mahal. Jadi ya, paling dekat dan murah ke Gunung Luhur ini," lanjut Jaro Atok menjelaskan.

Memang, harga tiket pesawat yang masih melambung tinggi membuat banyak orang termasuk yang dari Jakarta jadi enggan liburan. Dengan adanya Gunung Luhur, dinilai menjadi alternatifnya.

"Kita senang kedatangan banyak orang Jakarta. Mereka bisa lihat alam kita yang masih indah dan bertemu dengan masyarakat kita. Kita sangat terbuka kok," terang Jaro Atok.

Mau melancong ke sana? Jangan buru-buru dan harap bersabar dulu. Kawasan wisata negeri di atas awan Gunung Luhur sedang ditutup untuk sementara waktu. Jalanan dari kaki gunungnya kini sedang dalam proses pengecoran dan pembenahan. Hal itu supaya wisatawan makin nyaman dan aman.

"Mungkin 1-2 minggu inilah akan dibuka kembali, pengerjaannya dikebut tapi tetap maksimal," tutup Jaro Atok.

Nostalgia Jalan-jalan Sore di Blok M

Di tahun 80-an, kawasan Blok M di Jakarta Selatan identik dengan tempat gaul muda-mudi ibukota. Popularitasnya pun mengalami pasang surut.

Menyebut nama Blok M bisa jadi membangkitkan kenangan buat kalangan tertentu. Khususnya generasi yang besar di tahun 80-an, saat lagu Jalan-jalan Sore karya Denny Malik tengah naik daun.

Sempat mengalami pasang surut, kawasan Blok M atau yang dahulu dikenal dengan Kebayoran itu memang lekat sebagai lokai "ngeceng" anak gaul zaman itu. Tentunya sebelum banyak mal besar bermekaran di bilangan Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat.

Hal senada juga dituturkan oleh Chanda dari Jakarta Good Guide saat dihubungi terpisah oleh detikcom, Selasa (1/10/2019). Popularitas Blok M kala itu tak kalah dengan kawasan Cikini yang lebih dulu ada.

"Blok M mulai ngehits tahun 80-an. Dulu tempat nongkrong anak muda di Cikini zaman 50-60, habis itu baru pindah ke daerah Blok M tahun 80-an. Ya itu lah si Deni Malik itu ada lagunya Jalan-jalan sore," ujar Chanda.

Sejarahnya, kawasan Blok M dibangun oleh pihak Belanda sebagai kawasan satelit dari Weltevreden (Gambir dan sekitarnya) yang telah sesak penduduk. Meniru konsep kota taman yang lebih dulu ada di Menteng, kawasan Kebayoran dibagi menjadi blok-blok berbeda dengan taman kecil.

"Blok M itu dulu namanya Kebayoran, dulu dibangun Belanda tahun 47 atau 46 dibikin blok gitu. Kayak taman kota di Menteng, tiap blok punya taman. Dulu yang ngehubungin Blok M sama Weltevreden bukan Jalan Sudirman tapi jalan depannya Plaza Senayan Jalan Asia Afrika," ujar Chanda.

Dikhususkan sebagai blok komersil, Blok M dihiasi oleh sejumlah tempat ikonik seperti Aldiron Plaza (Kini BLok M Square) yang merupakan mal pertama di Jakarta, Plaza BLok M, hingga Melawai PLaza.