Jumat, 20 Desember 2019

Bukan Klenteng, Ini Masjid Cheng Hoo

Jangan kaget kalau datang ke Masjid Cheng Hoo di Pasuruan. Masjid ini dibangun dengan sentuhan tionghoa, mirip klenteng.

Untuk kamu yang suka mengunjungi wisata religi, tidak ada salahnya mampir ke Masjid Cheng Hoo yang terletak di jalan Raya Kasri, Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur. Masjid yang bercirikhaskan berwarna merah ini tak pernah sepi dikunjungi oleh pengunjung baik dari dalam kota maupun luar kota.

Jika di hari sabtu dan minggu, kamu akan melihat banyak bus luar provinsi yang membawa rombongan wisatawan yang ingin sekedar berpoto maupun melaksanakan sholat dan beristirahat di Masjid Cheng Hoo.

Masjid yang didirikan untuk mengenang perjuangan seorang Laksamana asal Negara China dalam menyebarkan agama islam di Indonesia ini diresmikan pada tahun 2oo8.

Masjid ini memiliki arsitektur yang unik dengan perpaduan kolaborasi tiga budaya yakni Jawa, Arab, dan Tionghoa. Bila dilihat secara sepintas, Masjid Cheng Hoo menyerupai bangunan pagoda yang berwarna merah dan akan terlihat semakin cantik jika berkunjung ke Masjid ini saat malam hari.

Masjid Cheng Hoo terdiri dari dua lantai. Untuk kebutuhan berwudhu dan kamar mandi tersedia di lantai satu. Jika kamu kesulitan untuk melaksanakan sholat di lantai dua, di lantai satu tersedia juga ruangan untuk melaksanakan sholat. Dan jika kamu ingin menikmati ornamen kaligrafi dan ingin melihat lagi keindahan Masjid Cheng Hoo bisa naik ke lantai dua.

Tak hanya itu, di pekarangan belakang Masjid Cheng Hoo juga ada tersedia pusat perbelanjaan oleh-oleh dan makanan. Untuk kamu yang sedang haus dan lapar saat berkunjung ke Masjid Cheng Hoo bisa langsung ke pekarangan belakang untuk menghilangkan lapar dan dahaga.

Untuk kamu yang akan berkunjung ke Masjid Cheng Hoo cukup sediakan uang dua ribu rupiah untuk yang mengendarai motor maka kamu bisa beristirahat dan menikmati keindahan Masjid Cheng Hoo.

Masjid yang terletak di Pandaan ini bisa kamu tempuh dengan waktu 1 jam 12 menit jika menggunakan motor. Jadi tidak ada salahnya untuk kamu menjadikan Masjid Cheng Hoo sebagai referensi kunjungan wisata religi.

Wisata Kuliner Wajib di Pekanbaru, Bakwan Sumatera

Indonesia kaya dengan wisata kuliner khas daerah. Weekend di Pekanbaru, kamu harus coba bakwan Sumatera.

Bakwan sumatera merupakan kuliner unik legendaris yang berada di Pekanbaru. Terletak di jl Sumatera Gg Rupat, Bakwan Sumatera ini sudah ada sejak tahun 1977.

Awalnya ide diciptakan Bakwan Sumatera ini dicetuskan oleh Bapak H. latief Gavar dan Ibu HJ Nurbiah latief, ternyata hasil kreasinya di sukai oleh masyarakat.

Uniknya Bakwan Sumatera ini berbeda dari bakwan pada umumnya, yang menggunakan tepung dan aneka sayuran seperti wortel, kol, daun bawang dan tauge. Bakwan sumatera ini terbuat dari tepung dan kentang yang dipotong dadu saja, dibentuk seperti mangkok kecil dan yang lebih istimewa lagi dimakan bersama kuah mpek-mpek.

Rasa asin gurih dari bakwan berpadu dengan kuah asam pedas cukup menggugah selera para penikmat kuliner. Tak heran pengunjungnya selalu membludak baik dari warga setempat maupun wisatawan, apalagi disaat makan siang atau weekend.

Harga per potong Bakwan Sumatera ini 3.000 rupiah dan rasanya tak cukup makan hanya satu potong. Pengunjung biasanya menghabiskan minimal 5 potong Bakwan Sumatera sekali berkunjung. Selain Bakwan Sumatera juga menjual makanan lain seperti Indomie dll.

Bila berkunjung ke Pekanbaru jangan lupa untuk mampir dan mencicipinya, jika mau dibawa sebagai oleh oleh mereka juga menyediakan yang mentahnya dan bisa digoreng sendiri di rumah. Untuk menjaga kualitas rasa, maka usaha keluarga ini hanya ada di Jl. Sumatera tersebut. Jadi jangan lupa berkunjung ya!

Akhir Pekan di Solo, Yuk Main ke De Tjolomadoe

Bekas pabrik gula De Tjolomadoe bisa jadi pilihan untuk akhir pekan ini. Instagenik dengan bangunan khas jaman dulu, museum ini bikin kamu betah seharian.

Sering mendengar pepatah Ada gula Ada Semut? Ternyata Indonesia pernah menjadi menjadi surganya produksi gula di masa lalu. Dilihat dari sejarah De Tjolomadoe ini, kita dapat mengetahui bahwa gula pernah membawa kesejahteraan dan menempatkan Indonesia dalam konstelasi perdagangan dunia. Semua cerita tentang Gula dan masa jayanya di tanah air ini dirangkum dalam sejarah De Tjolomadoe.

Berlokasi di Jalan Adi Sucipto Solo, De Tjolomadoe ini berdiri megah dan cantik berwarna putih. Kalau dilihat dari miniatur yang terlihat di dalam museumnya, De Tjolomadoe ini bentuknya dahulu dan sekarang tetap sama. Hanya saja bagian dalamnya saat ini di fungsikan sebagai museum yang bercerita tentang gula.

Awal mulanya De Tjolomadoe ini dibuat oleh Mangkunegara IV yang ingin mengembangkan lahan perkebunan tebu dan membuat pabrik gula. Distribusi dan ekspor gula di tahun 1920-an sangat berjaya, bahkan Indonesia di tahun 1930 menjadi eksportir gula terbanyak nomer 2 di dunia setelah Kuba. Salah satu penyumbang gula terbesarnya adalah PG Colomadu.

Pastinya saat kalian mengunjungi De Tjolomadoe ini melihat sudut-sudut ruangan yang klasik dan instagramable membuat ngga tahan ingin berfoto. Namun saat kalian menengok sejarah Pabrik Gula De Tjolomadoe ini, rasanya seperti masuk ke dalam mesin waktu dan kembali ke tahun 1861.

Cara mempresentasikan sejarah pabrik gula Tjolomadoe ini dibuat sangat menarik. Sehingga para pengunjung pastinya akan tenggelam di dalamnya.

Tidak hanya area luarnya saja yang dipertahankankan namun area dalamnya juga. Nama stasiun dalam proses produksi pabrik gula ini tetap di pertahankan.

Ada Stasiun Gilingan yang berisi sejarah De Tjolomadoe, kemudian Stasiun Ketelan yang berfungsi sebagai area kantin, Stasiun penguapan sebagai area Arcade, Stasiun Karbonatasi sebagai area art dan craft dan kemudian ada Sakara Hall yang bisa menjadi lokasi multifungsi untuk acara ataupun konser.

Menariknya di dalam area Stasiun Gilingan terselip instalasi seni, yaitu bernama Taman Magis Wara. Arti dari Taman Magiswara ini adalah taman para raja.

Di dalamnya terdapat ukiran bunga, gunung dan kain batik berwarna warni seperti berada di taman. Kemudian saat lampunya mati seluruh ukiran dan batiknya akan menyala glow in the dark.

Taman Magiswara ini menrupakan representasi dari PG Colomadu, sebagai simbol gotong royong, kemandirian antara Mangkunegara dan warganya. Dibuat oleh tempa yaitu kolaborasi 2 seniman Putud Utama dan Rara Kuastra.

PG Colomadu ini tutup di tahun 1998 dikarenakan supply tebu berkurang dan juga dampak dari krisis moneter. Tahun 2018 maret proses revitalisasi selesai dilakukan dan De Tjolomadoe ini diresmikan. Kemudian menjadi de Tjolomadoe yang bisa kalian datangi saat ini.

Bagi kalian yang ingin mengunjungi De Tjolomadoe waktu terbaik adalah di sore hari yaitu jam 4. J Bagi yang suka fotografi suasana gedung De Tjolomadoe ini punya keindahannya tersendiri.

Harga tiket masuknya adalah Rp.25.000, nantinya tangan anda akan di cap sehingga bisa bebas untuk eksplor seluruh area De Tjolomadoe. Untuk Toko Sovenir terpisah gedungnya dan berada di dekat penjualan tiket. Jadi bagi yang punya jadwal liburan ke Solo jangan sampai kelewatan untuk megunjungi De Tjolomadoe.