Kamis, 19 Desember 2019

Selamat Pagi dari Bukit Sikunir

Bukit Sikunir jadi tempat favorit untuk melihat sunrise. Yuk intip keindahannya sambil memulai hari ini dengan penuh semangat.

Bukit Sikunir terletak di desa tertinggi di Pulau Jawa yaitu pada ketinggian 2.350 mdpl. Meski tak setenar spot sunrise di Gunung Bromo, namun sunrise di Bukit Sikunir tak kalah menarik. Bahkan disebut-sebut merupakan golden sunrise yang sempurna.

Di Bukit Sikunir terdapat tiga pos untuk menikmati sunrise, dari pos satu yang berada paling rendah. Pastikan traveler berada pada kondisi stamina yang prima sehingga bisa sampai pada pos ketiga atau yang tertinggi untuk mendapatkan pemandangan yang luar biasa.

Suhu waktu itu di bulan Oktober berkisar antara 9-11 derajat Celcius, sehingga traveler harus siap dengan jaket tebal, sarung tangan, dan topi kupluk untuk tetap menjaga kehangatan tubuh. Jangan lupa membawa senter karena jalur pendakian tidak banyak dilengkapi dengan penerangan.

Pendakian bisa dimulai dari pukul 3.30 pagi. Sebenarnya perjalanan pendakian tidak terlalu jauh, hanya sekitar 900 meter atau 30 menit perjalanan.

Namun ramainya suasana di jalur pendakian membuat traveler harus berdesak-desakan dengan pendaki lain dan tentu hal ini menghambat perjalanan sehingga bisa menghabiskan waktu hingga 45-60 menit.

Belum lagi bila membutuhkan beberapa kali waktu untuk beristirahat sejenak di tengah pendakian. Jalur pendakian sendiri tergolong sangat bersahabat dengan sudah dibuatkannya anak tangga sehingga memudahkan para pendaki.

Walaupun tetap masih ada beberapa bagian jalur pendakian yang berupa tanah berbatu dan tetap harus berhati-hati karena ada jurang di sebelah kiri.

Rasa lelah mendaki segera terbayarkan dengan pemandangan cantik Gunung Sindoro yang dihiasi semburat merah di langit. Siapkan kamera untuk mengabadikan sunrise terindah di Pulau Jawa.

Maldives? Bukan, Ini di Lampung

Sepintas melihat, pemandangan yang ada di sini mirip dengan Maldives. Padahal bukan, ini Pulau Tegal Mas di Lampung.

Saya mau berbagi cerita tentang salah satu tempat yang katanya hits banget di Provinsi Lampung. 12 Juni 2019, saya mandatangi sebuah pulau di Provinsi Lampung yaitu Pulau Tegal Mas.

Maldives? itulah yang menjadi asumsi saya ketika menginjakkan kaki di pulau ini. Pasirnya putih. Airnya jernih. Penginapannya di atas air. Tapi ini bukan Maldives, ini Indonesia, sebuah negara kesatuan yang memiliki banyak keindahan.

Pulau Tegal Mas terletak di Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Untuk sampai di pulau ini, kita bisa mengarahkan tujuan ke Kota Bandar Lampung.

Sesampainya di kota Bandar Lampung, arahkan tujuan kita ke Kabupaten Pesawaran, tepatnya ke Pantai Sari Ringgung. Pulau Tegal Mas berada di teluk yang ada di Pulau Sumatera.

Jika kita melihat pada peta, di bagian ujung selatan Pulau Sumatera, ada sebuah teluk yang terbentuk, di area teluk itulah Pulau Tegal Mas berada.

Pulau Tegal Mas memiliki luas lahan 113 Ha. Untuk mencapai pulau ini kita harus menaiki kapal dari Pantai Sari Ringgung. Saat ini, sudah ada pelabuhan resmi dari Pantai Sari Ringgung menuju Pulau Tegal Mas.

Sesampainya di pintu masuk Pantai Sari Ringgung, kita harus membayar biaya masuk sebesar Rp 20.000 dan juga biaya masuk kendaraan sebesar Rp 10.000. Setelah sampai di wilayah pantainya, akan banyak pemilik kapal yang akan menawarkan jasa penyebrangan ke Pulau Tegal Mas.

Harga sewa kapal bervariasi sesuai dengan fasilitas dan juga banyaknya penumpang. Untuk 2-3 orang dengan fasilitas antar jemput saja, harganya sekitar Rp 300-400 ribu. Biasanya semakin banyak penumpang. biayanya semakin murah.

Misalnya penumpangnya 15 orang, harga sewa kapal bisa hanya 1 juta rupiah. Untuk masalah harga sewa kapal, kita bisa tawar-menawar, namun harga pasarannya sekitar itu.

Setelah menemukan kapal yang pas, kita akan langsung diantar ke Pulau Tegal Mas. Untuk masuk ke wilayah Pulau Tegal Mas, kita harus membayar lagi biaya masuk sebesar Rp 50.000

Lat dan Mbal, Wisata Kuliner Khas Pulau Kei

Pulau Kei di Maluku tak cuma punya alam yang cantik. Kei juga punya ragam wisata kuliner bernama Lat dan Mbat.

Indonesia memiliki keragaman suku, budaya dan adat istiadat. Tapi tidak hanya kekayaan itu yang dimiliki. Kekayaan beragam jenis makanan juga dimiliki di Indonesia. Semua daerah di Indonesia, memiliki keragamannya masing-masing.

Seperti ketika saya berkunjung ke Kepulauan Kei, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku ini.

Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Taher Hanubun menawarkan makanan kepada saya di kediaman beliau ketika saya dan sejumlah teman mendapatkan kesempatan untuk datang ke Maluku Tenggara.

Makanan tersebut diambil dari dasar laut atau pantai, dan kemudian dimasak dan diberikan parutan kelapa. Semacam urap. Tapi ini berbahan rumput laut.

"Kalau di sini namanya Lat,"tambah bupati.

Saya pun mengambil beberapa sendok rumput laut ini. Ini memang bukan rumput laut yang dibudidayakan. Tapi ini adalah rumput laut yang tumbuh alami.

Ketika menyantap Lat ini, tidak seperti rumput laut pada umumnya yang kenyal. Ketika makan Lat ini, saya merasakan seperti pecah krenyes-krenyes di dalam mulut. Rasanya asin tapi menyegarkan.

Selain ditawarkan Lat, saya juga ditawarkan makan Mbal oleh Bupati. Pak Bupati bercerita bahwa Mbal ini merupakan makanan yang dibuat dari Singkong atau Ubi Kayu. Ubi Kayu diparut, dipress hingga kemudian di Press hingga airnya semua keluar.

Makan Mbal ini, renyah dan enak. Apalagi ketika menyantapnya dibarengin dengan menyantap Lat, yang ternyata adalah anggur laut.

Keesokan harinya, masih di tempat yang sama, kediaman Bupati Maluku Tenggara, saya disuguhi telur ikan. Berbeda dengan telur ikan air tawar, telur ikan yang saya santap ini masih terlihat butir-butir berukuran sangat kecil.

Dan ketika disantap, dimasak agak asam tapi tidak terlampau pedas. Dan telur ikan ini, ketika dimakan, sedikit sulit mengunyahnya. Tapi rasanya itu, sangat enak membuat lidah menari bergoyang menikmati rasa khas telur ikan ini.

Lantas ini telur ikan apa? Ini ternyata adalah telur ikan terbang. Malah ini dibilang ikan yang merupakan lambang dari salah satu stasiun televisi swasta. Mantap betul rasanya.

Di hari yang sama, di petang hari, saya kembali menyantap Mbal. Tapi kali ini Mbalnya berbeda karena dicampur dengan parutan kelapa. Rasanya lebih nikmat dibandingkan dengan hanya Mbal saya.

Saya tidak menyangka, bisa sampai di Kepulauan Kei, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku ini. Perjalanan ke Kepulauan Kei dari Jakarta, kurang lebih lima jam. Dari Bandara Halim, terbang ke Ambon terlebih dahulu.

Setelah di Ambon, saya dan teman-teman beserta pak Bupati Maluku Tenggara, melanjutkan dengan pesawat ATR. Perjalanan dari Ambon ke Kepulauan Kei ini kurang lebih 1 jam 20 menit. Jika ditambahkan dengan perjalanan dari Jakarta, hampir 5 jam.

Selamat Pagi dari Bukit Sikunir

Bukit Sikunir jadi tempat favorit untuk melihat sunrise. Yuk intip keindahannya sambil memulai hari ini dengan penuh semangat.

Bukit Sikunir terletak di desa tertinggi di Pulau Jawa yaitu pada ketinggian 2.350 mdpl. Meski tak setenar spot sunrise di Gunung Bromo, namun sunrise di Bukit Sikunir tak kalah menarik. Bahkan disebut-sebut merupakan golden sunrise yang sempurna.

Di Bukit Sikunir terdapat tiga pos untuk menikmati sunrise, dari pos satu yang berada paling rendah. Pastikan traveler berada pada kondisi stamina yang prima sehingga bisa sampai pada pos ketiga atau yang tertinggi untuk mendapatkan pemandangan yang luar biasa.

Suhu waktu itu di bulan Oktober berkisar antara 9-11 derajat Celcius, sehingga traveler harus siap dengan jaket tebal, sarung tangan, dan topi kupluk untuk tetap menjaga kehangatan tubuh. Jangan lupa membawa senter karena jalur pendakian tidak banyak dilengkapi dengan penerangan.

Pendakian bisa dimulai dari pukul 3.30 pagi. Sebenarnya perjalanan pendakian tidak terlalu jauh, hanya sekitar 900 meter atau 30 menit perjalanan.

Namun ramainya suasana di jalur pendakian membuat traveler harus berdesak-desakan dengan pendaki lain dan tentu hal ini menghambat perjalanan sehingga bisa menghabiskan waktu hingga 45-60 menit.

Belum lagi bila membutuhkan beberapa kali waktu untuk beristirahat sejenak di tengah pendakian. Jalur pendakian sendiri tergolong sangat bersahabat dengan sudah dibuatkannya anak tangga sehingga memudahkan para pendaki.

Walaupun tetap masih ada beberapa bagian jalur pendakian yang berupa tanah berbatu dan tetap harus berhati-hati karena ada jurang di sebelah kiri.

Rasa lelah mendaki segera terbayarkan dengan pemandangan cantik Gunung Sindoro yang dihiasi semburat merah di langit. Siapkan kamera untuk mengabadikan sunrise terindah di Pulau Jawa.