Kamis, 19 Desember 2019

Lat dan Mbal, Wisata Kuliner Khas Pulau Kei

Pulau Kei di Maluku tak cuma punya alam yang cantik. Kei juga punya ragam wisata kuliner bernama Lat dan Mbat.

Indonesia memiliki keragaman suku, budaya dan adat istiadat. Tapi tidak hanya kekayaan itu yang dimiliki. Kekayaan beragam jenis makanan juga dimiliki di Indonesia. Semua daerah di Indonesia, memiliki keragamannya masing-masing.

Seperti ketika saya berkunjung ke Kepulauan Kei, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku ini.

Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Taher Hanubun menawarkan makanan kepada saya di kediaman beliau ketika saya dan sejumlah teman mendapatkan kesempatan untuk datang ke Maluku Tenggara.

Makanan tersebut diambil dari dasar laut atau pantai, dan kemudian dimasak dan diberikan parutan kelapa. Semacam urap. Tapi ini berbahan rumput laut.

"Kalau di sini namanya Lat,"tambah bupati.

Saya pun mengambil beberapa sendok rumput laut ini. Ini memang bukan rumput laut yang dibudidayakan. Tapi ini adalah rumput laut yang tumbuh alami.

Ketika menyantap Lat ini, tidak seperti rumput laut pada umumnya yang kenyal. Ketika makan Lat ini, saya merasakan seperti pecah krenyes-krenyes di dalam mulut. Rasanya asin tapi menyegarkan.

Selain ditawarkan Lat, saya juga ditawarkan makan Mbal oleh Bupati. Pak Bupati bercerita bahwa Mbal ini merupakan makanan yang dibuat dari Singkong atau Ubi Kayu. Ubi Kayu diparut, dipress hingga kemudian di Press hingga airnya semua keluar.

Makan Mbal ini, renyah dan enak. Apalagi ketika menyantapnya dibarengin dengan menyantap Lat, yang ternyata adalah anggur laut.

Keesokan harinya, masih di tempat yang sama, kediaman Bupati Maluku Tenggara, saya disuguhi telur ikan. Berbeda dengan telur ikan air tawar, telur ikan yang saya santap ini masih terlihat butir-butir berukuran sangat kecil.

Dan ketika disantap, dimasak agak asam tapi tidak terlampau pedas. Dan telur ikan ini, ketika dimakan, sedikit sulit mengunyahnya. Tapi rasanya itu, sangat enak membuat lidah menari bergoyang menikmati rasa khas telur ikan ini.

Lantas ini telur ikan apa? Ini ternyata adalah telur ikan terbang. Malah ini dibilang ikan yang merupakan lambang dari salah satu stasiun televisi swasta. Mantap betul rasanya.

Di hari yang sama, di petang hari, saya kembali menyantap Mbal. Tapi kali ini Mbalnya berbeda karena dicampur dengan parutan kelapa. Rasanya lebih nikmat dibandingkan dengan hanya Mbal saya.

Saya tidak menyangka, bisa sampai di Kepulauan Kei, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku ini. Perjalanan ke Kepulauan Kei dari Jakarta, kurang lebih lima jam. Dari Bandara Halim, terbang ke Ambon terlebih dahulu.

Setelah di Ambon, saya dan teman-teman beserta pak Bupati Maluku Tenggara, melanjutkan dengan pesawat ATR. Perjalanan dari Ambon ke Kepulauan Kei ini kurang lebih 1 jam 20 menit. Jika ditambahkan dengan perjalanan dari Jakarta, hampir 5 jam.

Selamat Pagi dari Bukit Sikunir

Bukit Sikunir jadi tempat favorit untuk melihat sunrise. Yuk intip keindahannya sambil memulai hari ini dengan penuh semangat.

Bukit Sikunir terletak di desa tertinggi di Pulau Jawa yaitu pada ketinggian 2.350 mdpl. Meski tak setenar spot sunrise di Gunung Bromo, namun sunrise di Bukit Sikunir tak kalah menarik. Bahkan disebut-sebut merupakan golden sunrise yang sempurna.

Di Bukit Sikunir terdapat tiga pos untuk menikmati sunrise, dari pos satu yang berada paling rendah. Pastikan traveler berada pada kondisi stamina yang prima sehingga bisa sampai pada pos ketiga atau yang tertinggi untuk mendapatkan pemandangan yang luar biasa.

Suhu waktu itu di bulan Oktober berkisar antara 9-11 derajat Celcius, sehingga traveler harus siap dengan jaket tebal, sarung tangan, dan topi kupluk untuk tetap menjaga kehangatan tubuh. Jangan lupa membawa senter karena jalur pendakian tidak banyak dilengkapi dengan penerangan.

Pendakian bisa dimulai dari pukul 3.30 pagi. Sebenarnya perjalanan pendakian tidak terlalu jauh, hanya sekitar 900 meter atau 30 menit perjalanan.

Namun ramainya suasana di jalur pendakian membuat traveler harus berdesak-desakan dengan pendaki lain dan tentu hal ini menghambat perjalanan sehingga bisa menghabiskan waktu hingga 45-60 menit.

Belum lagi bila membutuhkan beberapa kali waktu untuk beristirahat sejenak di tengah pendakian. Jalur pendakian sendiri tergolong sangat bersahabat dengan sudah dibuatkannya anak tangga sehingga memudahkan para pendaki.

Walaupun tetap masih ada beberapa bagian jalur pendakian yang berupa tanah berbatu dan tetap harus berhati-hati karena ada jurang di sebelah kiri.

Rasa lelah mendaki segera terbayarkan dengan pemandangan cantik Gunung Sindoro yang dihiasi semburat merah di langit. Siapkan kamera untuk mengabadikan sunrise terindah di Pulau Jawa.

Gunung Mutis, Tempat Bersemayamnya Raja-raja NTT

 Gunung Mutis bisa jadi destinasi kamu selanjutnya di NTT. Selain cantik luar biasa, gunung ini juga jadi tempat raja-raja NTT bersemayam.

Mutis, gunung yang memukau di pulau Timor dan tempat bersemayamnya para Raja-raja (Usif) Timor. Menurut legenda di puncak Mutis, inilah para raja-raja Timor membahas dan membagi wilayah kekuasaan,dan ketika semua raja telah mendapat wilayahnya masing-masing maka berkatalah mereka Mutis yang berarti lengkap.

Gunung Mutis adalah salah satu gunung yang terdapat di Pulau Timor yang memiliki ketinggian 2.458 mdpl dan menjadi gunung tertinggi di wilayah Timor Barat. Secara administratif berada di perbatasan kabupaten Timor Tengah Utara dengan Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Gunung ini memliki tiga puncak dan merupakan cagar Alam Mutis yang terkenal dengan kekayaan marmernya serta hutan bonsai alam pohon ampupu dan cemara yang di tumbuhi lumut serta akar angin.

Pendakian gunung Mutis tidak bisa dikategorikan mudah.Diperlukan persiapan yang cukup dimulai dari fisik yang prima sebelum melakukan pendakian serta wajib hukumnya bagi pendaki pemula untuk mengetahui tekni-teknik pendakian.

Untuk rata-rata summit attack di Mutis ditempuh kurang lebih 4-5 jam dari camp Nenas, mungkin juga bisa lebih tergantung kekuatan masing-masing pendaki.

Sebelum mencapai puncak pendaki akan melalui dataran Leol Fui disana pengunjung akan menjumpai tanah lapang serta padang hijau yang sangat luas dan menjadi tempat yang pas untuk mendirikan tenda. Dari Padang Leol Fui  kita bisa melihat puncak mutis dengan jelas. Di kaki mutis tepatnya di Desa Nenas juga ada rumah warga yang bisa dijadikan tempat penginapan, serta masyarakat sekitar bisa dijadikan guide yang menemani rombongan pendakian.

Dalam Perjalanan dari Desa Nenas  menuju puncak Mutis akan suguhkan pemandangan yang eksotis, kabut tebal. Perkebunan jeruk ada dimana-mana serta ladang-ladang penduduk yang tertata dengan apiknya.

Pagi hari adalah waktu yang tepat untuk melihat keindahan dari puncak gunun Mutis. Di sana pengunjung akan di takjub dengan hamparan awan-awan tebal. Ini membuat pengunjung seakan berdiri di atas awan.

Dari Puncak Mutis pula kita bisa melihat pulau pulau yang ada di sekitar Pulau Timor seperti Pulau Alor dan Oekusi Timor Leste. Lebih istimewanya lagi ketika matahari terbit paparan sinar matahari yang mengenai gunung Mutis akan membentuk bayangan yang menyerupai piramida.

Lat dan Mbal, Wisata Kuliner Khas Pulau Kei

Pulau Kei di Maluku tak cuma punya alam yang cantik. Kei juga punya ragam wisata kuliner bernama Lat dan Mbat.

Indonesia memiliki keragaman suku, budaya dan adat istiadat. Tapi tidak hanya kekayaan itu yang dimiliki. Kekayaan beragam jenis makanan juga dimiliki di Indonesia. Semua daerah di Indonesia, memiliki keragamannya masing-masing.

Seperti ketika saya berkunjung ke Kepulauan Kei, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku ini.

Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Taher Hanubun menawarkan makanan kepada saya di kediaman beliau ketika saya dan sejumlah teman mendapatkan kesempatan untuk datang ke Maluku Tenggara.

Makanan tersebut diambil dari dasar laut atau pantai, dan kemudian dimasak dan diberikan parutan kelapa. Semacam urap. Tapi ini berbahan rumput laut.

"Kalau di sini namanya Lat,"tambah bupati.

Saya pun mengambil beberapa sendok rumput laut ini. Ini memang bukan rumput laut yang dibudidayakan. Tapi ini adalah rumput laut yang tumbuh alami.

Ketika menyantap Lat ini, tidak seperti rumput laut pada umumnya yang kenyal. Ketika makan Lat ini, saya merasakan seperti pecah krenyes-krenyes di dalam mulut. Rasanya asin tapi menyegarkan.

Selain ditawarkan Lat, saya juga ditawarkan makan Mbal oleh Bupati. Pak Bupati bercerita bahwa Mbal ini merupakan makanan yang dibuat dari Singkong atau Ubi Kayu. Ubi Kayu diparut, dipress hingga kemudian di Press hingga airnya semua keluar.

Makan Mbal ini, renyah dan enak. Apalagi ketika menyantapnya dibarengin dengan menyantap Lat, yang ternyata adalah anggur laut.

Keesokan harinya, masih di tempat yang sama, kediaman Bupati Maluku Tenggara, saya disuguhi telur ikan. Berbeda dengan telur ikan air tawar, telur ikan yang saya santap ini masih terlihat butir-butir berukuran sangat kecil.

Dan ketika disantap, dimasak agak asam tapi tidak terlampau pedas. Dan telur ikan ini, ketika dimakan, sedikit sulit mengunyahnya. Tapi rasanya itu, sangat enak membuat lidah menari bergoyang menikmati rasa khas telur ikan ini.

Lantas ini telur ikan apa? Ini ternyata adalah telur ikan terbang. Malah ini dibilang ikan yang merupakan lambang dari salah satu stasiun televisi swasta. Mantap betul rasanya.

Di hari yang sama, di petang hari, saya kembali menyantap Mbal. Tapi kali ini Mbalnya berbeda karena dicampur dengan parutan kelapa. Rasanya lebih nikmat dibandingkan dengan hanya Mbal saya.