Kamis, 19 Desember 2019

Gunung Mutis, Tempat Bersemayamnya Raja-raja NTT

 Gunung Mutis bisa jadi destinasi kamu selanjutnya di NTT. Selain cantik luar biasa, gunung ini juga jadi tempat raja-raja NTT bersemayam.

Mutis, gunung yang memukau di pulau Timor dan tempat bersemayamnya para Raja-raja (Usif) Timor. Menurut legenda di puncak Mutis, inilah para raja-raja Timor membahas dan membagi wilayah kekuasaan,dan ketika semua raja telah mendapat wilayahnya masing-masing maka berkatalah mereka Mutis yang berarti lengkap.

Gunung Mutis adalah salah satu gunung yang terdapat di Pulau Timor yang memiliki ketinggian 2.458 mdpl dan menjadi gunung tertinggi di wilayah Timor Barat. Secara administratif berada di perbatasan kabupaten Timor Tengah Utara dengan Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Gunung ini memliki tiga puncak dan merupakan cagar Alam Mutis yang terkenal dengan kekayaan marmernya serta hutan bonsai alam pohon ampupu dan cemara yang di tumbuhi lumut serta akar angin.

Pendakian gunung Mutis tidak bisa dikategorikan mudah.Diperlukan persiapan yang cukup dimulai dari fisik yang prima sebelum melakukan pendakian serta wajib hukumnya bagi pendaki pemula untuk mengetahui tekni-teknik pendakian.

Untuk rata-rata summit attack di Mutis ditempuh kurang lebih 4-5 jam dari camp Nenas, mungkin juga bisa lebih tergantung kekuatan masing-masing pendaki.

Sebelum mencapai puncak pendaki akan melalui dataran Leol Fui disana pengunjung akan menjumpai tanah lapang serta padang hijau yang sangat luas dan menjadi tempat yang pas untuk mendirikan tenda. Dari Padang Leol Fui  kita bisa melihat puncak mutis dengan jelas. Di kaki mutis tepatnya di Desa Nenas juga ada rumah warga yang bisa dijadikan tempat penginapan, serta masyarakat sekitar bisa dijadikan guide yang menemani rombongan pendakian.

Dalam Perjalanan dari Desa Nenas  menuju puncak Mutis akan suguhkan pemandangan yang eksotis, kabut tebal. Perkebunan jeruk ada dimana-mana serta ladang-ladang penduduk yang tertata dengan apiknya.

Pagi hari adalah waktu yang tepat untuk melihat keindahan dari puncak gunun Mutis. Di sana pengunjung akan di takjub dengan hamparan awan-awan tebal. Ini membuat pengunjung seakan berdiri di atas awan.

Dari Puncak Mutis pula kita bisa melihat pulau pulau yang ada di sekitar Pulau Timor seperti Pulau Alor dan Oekusi Timor Leste. Lebih istimewanya lagi ketika matahari terbit paparan sinar matahari yang mengenai gunung Mutis akan membentuk bayangan yang menyerupai piramida.

Lat dan Mbal, Wisata Kuliner Khas Pulau Kei

Pulau Kei di Maluku tak cuma punya alam yang cantik. Kei juga punya ragam wisata kuliner bernama Lat dan Mbat.

Indonesia memiliki keragaman suku, budaya dan adat istiadat. Tapi tidak hanya kekayaan itu yang dimiliki. Kekayaan beragam jenis makanan juga dimiliki di Indonesia. Semua daerah di Indonesia, memiliki keragamannya masing-masing.

Seperti ketika saya berkunjung ke Kepulauan Kei, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku ini.

Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Taher Hanubun menawarkan makanan kepada saya di kediaman beliau ketika saya dan sejumlah teman mendapatkan kesempatan untuk datang ke Maluku Tenggara.

Makanan tersebut diambil dari dasar laut atau pantai, dan kemudian dimasak dan diberikan parutan kelapa. Semacam urap. Tapi ini berbahan rumput laut.

"Kalau di sini namanya Lat,"tambah bupati.

Saya pun mengambil beberapa sendok rumput laut ini. Ini memang bukan rumput laut yang dibudidayakan. Tapi ini adalah rumput laut yang tumbuh alami.

Ketika menyantap Lat ini, tidak seperti rumput laut pada umumnya yang kenyal. Ketika makan Lat ini, saya merasakan seperti pecah krenyes-krenyes di dalam mulut. Rasanya asin tapi menyegarkan.

Selain ditawarkan Lat, saya juga ditawarkan makan Mbal oleh Bupati. Pak Bupati bercerita bahwa Mbal ini merupakan makanan yang dibuat dari Singkong atau Ubi Kayu. Ubi Kayu diparut, dipress hingga kemudian di Press hingga airnya semua keluar.

Makan Mbal ini, renyah dan enak. Apalagi ketika menyantapnya dibarengin dengan menyantap Lat, yang ternyata adalah anggur laut.

Keesokan harinya, masih di tempat yang sama, kediaman Bupati Maluku Tenggara, saya disuguhi telur ikan. Berbeda dengan telur ikan air tawar, telur ikan yang saya santap ini masih terlihat butir-butir berukuran sangat kecil.

Dan ketika disantap, dimasak agak asam tapi tidak terlampau pedas. Dan telur ikan ini, ketika dimakan, sedikit sulit mengunyahnya. Tapi rasanya itu, sangat enak membuat lidah menari bergoyang menikmati rasa khas telur ikan ini.

Lantas ini telur ikan apa? Ini ternyata adalah telur ikan terbang. Malah ini dibilang ikan yang merupakan lambang dari salah satu stasiun televisi swasta. Mantap betul rasanya.

Di hari yang sama, di petang hari, saya kembali menyantap Mbal. Tapi kali ini Mbalnya berbeda karena dicampur dengan parutan kelapa. Rasanya lebih nikmat dibandingkan dengan hanya Mbal saya.

Rabu, 18 Desember 2019

Pesona Negeri Laskar Pelangi yang Tak Pernah Pudar

Film Laskar Pelangi meamng hebat, tak dari ceritanya saja, namun juga lokasi syutingnya. Yuk main ke sana.

Setelah Lihat Film ""Laskar Pelangi" Jadi Penasaran sama Tempat syutingnya, karena tempat-tempatnya yang keren,

Saya dan teman-teman putuskan untuk mengunjungi tempat ini, karena ongkos dan akomodasi tidak sedikit butuh waktu beberapa bulan untuk terlaksananya dengan nabung dikit-demi sedikit.

Planing ke Belitung ini kami rnerencanakannya 3-4 bulan sebelum terbang kesana diawali membeli tiket Penerbangan promo pada akhir bulan Desember 2016 dan baru bisa berangkat pada Bulan Mei 2017 1 minggu sebelum Puasa.

Perjalanan dari Jakarta ke Tanjung pandan ditempuh selama kurang lebih 50 menit. Pukul 07.00 pagi saya sudah mendarat di Bandar Udara Hanandjoeddin, Tanjung Pandan. Selepas bandara kami menuju Tanjung Pandan pusat kotanya karena di sana hotel kami menginap, Mobil dan hotel pun sudah disiapkan sebelum kami berangkat sehingga tidak buang-buang waktu untuk mencari lagi.

Oh iya, untuk ke Tanjung Pandan selain sewa mobil ada juga travel dan taksi saya lihat tertera harga ke Tanjung Pandan Rp 40 ribu, hanya sekitar 25 menit perjalanan.

Destinasi kami yang Pertama ke Pantai Burung Mandi. Butuh waktu hampir 2 jam dari Tanjung Pandan ke Pantai Burung Mandi. Dua jam tidak berasa lama di sana karena jalanan yang sepi, aspal halus dan pemandangan yg alami membuat terbuai sehingga perjalanan tidak berasa lama.

Sampai lah dipantai tidak begitu ramai di sini kami hanya bersantai sejenak berfoto-foto ria sambil menikmati kelapa muda.

Destinasi ke Dua Menurut saya ini icon disini terkenal dari film Laskar Pelangi yaitu 'Replika SD Muhammadiyah Laskar Pelangi'. Di sini hanya ada bangunan dari papan-papan kayu dan lantai pun peluran kasar sekitar halaman terdapat pasir putih yang membuat indah ternyata ini adalah bangunan sekolahan SD.

Bangunan ini tidak digunakan tiap harinya ini adalah bangunan untuk Syuting Film Laskar Pelangi saja. Apa daya seorang berwisata tanpa foto-foto itulah yang kami lakukan.

Destinasi ke Tiga yaitu"Museum Kata Andrea Hirata"kami pun tidak masuk kedalam hanya berfoto-foto diluar.

Di Belitung jangan lupa mencicipi Kopi Broo. Sore ternyata bergegas kami balik ke Hotel untuk rehat sejenak.


Destinasi ke empat ke Pulau Pasir, di tengah-tengah laut terdapat gundukan pasir putih dengan air yang jernih memanjakan mata kita menakjubkan pantai sebersih dan seindah ini baru saya temui di sini. Mengabadikan moment ambil sebanyak-banyak mungkin fotonya di sini. 1 jam sudah kami mainan disini kami lanjutkan ketempat yang lain.


Destinasi ke Lima Tujuan kami adalahPulau Batu Berlayar, disni terbentang bebatuan kapur yang sangat besar, kita dapat berfoto dari atas bebatuan tersebut. Batunya seperti ditata tapi ini bener alami alam yang membuat sendiri. Disini kami hanya menyempatkan berfoto-foto saja dan langsung melanjutkan ketempat lain.

Destinasi ke enam yaitu Pulau Garuda dan Pulau Kelayang dan Pulau Lengkuas (Snorkling). Pulau Garuda ternyata tidak dapat dijamah karena perahu tidk dapat menepi karena bebatuan, menikmati Pulau Kelayang sambil makan siang nasi bungkus yang sudah kami siapkan sebelum berangkat.

Lanjut ke Pulau Lengkuas dan langsung auto jebut melihat beningnya air, bersnokling ria lah kita di sini sambil kasih makan ikan pakai roti kering untuk view foto underwater dan penampakan karangnya yang luar biasa indah nya.


Destinasi terakhir di sini kami merencanakan dengan matang supaya tidak ketinggalan pesawat. Pagi-pagi masih lumayan gelap sekitar jam 5 pagi kami bergegas jalan menuju Pantai yang belum kami datangi yaitu Pantai Tanjung Tingi atau disebut Pantai Laskar Pelangi.

Di sini juga tempat syuting film tersebut. Perjalanan dari Hotel sekitar 60 menit, jam 6 pagi kami sudah tiba dan sengaja parkir didekat tugu laskar pelangi dibalik bebatuan yg menjulang tinggi, tetapi lagi-lagi tugunya pun sudah tidak ada tinggal papan madingnya saja yang tersisa.


Tak sabar klo sudah lihat pantai, bergegas ketepi pantai disni bebatuan garnit sangat-sangat besar menambah kesan takjubnya saya, yang lebih menkjubkan lagi sewaktu naik ke atas batu yang besar duduk termenung meliahat indahnya ciptaan Tuhan Subhanallaah luar biasa indahnya. Berenang sambil terjun dari bebatuan menambah asyik seluas pantai ini hanya kelompokan kami yang berkunjung serasa pantai ini milik sendiri.

Selain keindahan dan kebersihan pantainya ada sesuatu yang menurut saya sedikit heran mengenai obyek wisata di pulau ini adalah ketiadaan retribusi memasuki kawasan wisata dan biaya parkir.

Hal ini tentunya sangat berbeda sekali dengan obyek wisata didaerah lain yang pernah saya kunjungi. Jangan salah di sini masyarakatnya ramah-tamah jangan berfikiran masyakat di sini chienese semua padahal tidak nyatanya banyak yang perantauan juga macam-macam suku tapi semuanya damai dan tentram.