Selasa, 17 Desember 2019

Bukan di Thailand, Ini di Geopark Ciletuh

Geopark Ciletuh tak hanya menawarkan panorama alam. Ada vihara, yang disebut-sebut mirip seperti di Thailand.

Weekend kali ini yuk ke geopark Cileuteh di Sukabumi. Di tengah perjalanan tepatnya di Desa Kertajaya, Kecamatan Simpenan, Kota Pelabuhan Ratu. Mata kami melihat di sebelah kiri ada Vihara cantik di lereng bukit. Bernama Vihara Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa.

Sayang untuk dilewatkan, kamipun memutuskan untuk naik. Tak tanggung - tanggung anak tangga yang harus kita daki berjumlah kurang lebih 500 anak tangga. Tetapi sesampainya di puncak pemandangan indah ke laut lepas pantai Loji begitu mempesona.

Konon kata penjaga Vihara, Vihara ini sama dengan yang ada di Thailand. So tak perlu jauh ke Thailand, di Sukabumi pun kita bisa menikmati Vihara cantik bak di Thailand.

Untuk masuk dan menikmati setiap altar, tidak di pungut biaya. Di setiap altar tersedia kotak amal, jadi kita harus mengerti sendiri untuk memasukkan sedekah di kotak amal seiklashnya. Puas rasanya berniat menjelajah wisata Alam, dapat wisata religi juga.

Bintan, Keindahan Indonesia Favorit Orang Singapura

Pulau Bintan punya keindahan yang mencuri hati. Tak ayal, orang Singapura suka liburan ke sini di akhir pekan.

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi Pulau Bintan. Ini merupakan kali pertama saya ke pulau yang ada di sisi utara Indonesia itu dan saya akan menghabiskan waktu selama 4 hari disana. Pada awalnya ketika tiba di Bandar Udara Tanjung Pinang yang saya lihat adalah pulau ini datarannya adalah tanah merah.

Di sekeliling Bandara juga tidak terlihat terlalu ramai dan yang ada di pemikiran saya pertama kali adalah ada apa saja ya di pulau ini. Ternyata setelah menghabiskan waktu 4 hari disini saya baru menyadari bahwa Pulau Bintan ini sungguh indah dan eksotis. Tidak kalah dengan Bali. Banyak turis mancanegara yang datang ke pulau ini, terutama dari Singapura.

Saya bertolak dari Bandar Udara Soekarno Hatta, Jakarta menuju Bandar UdaraƂ Raja Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang, Bintan. Hanya ada satu kali penerbangan langsung ke Bintan dari Jakarta menggunakan maskapai Garuda Indonesia.

Alternatif lain yang bisa ditempuh jika anda ingin berkunjung ke pulau ini namun tidak cocok dengan jadwal penerbangannya adalah mengambil penerbangan Jakarta - Batam. Kemudian dari Batam meneruskan lagi perjalanan ke Bintan menggunakan Kapal Ferry.

Karena perjalanan saya ke Bintan adalah untuk mengikuti acara kantor, setibanya kami di Bintan kami sudah disediakan penjemputan. Tujuan kami adalah Bintan Lagoon Resort. Di tempat inilah kami akan menghabiskan waktu selama 4 hari di Bintan. Ketika sampai, kami ditawari untuk membeli oleh-oleh terlebih dahulu karena mengingat posisi kami masih di daerah kota dan jadwal acara kami tidak akan kembali ke kota lagi karena akan langsung menyeberang menggunakan Ferry ke Singapura.

Kami dibawa ke Pasar Raya Kota Tanjungpinang terlebih dahulu yang merupakan pasar tradisional. Di sini banyak dijual aneka olahan seafood yang sudah dikeringkan. Di pasar ini juga banyak produk makanan dan minuman dari negara tetangga seperti cokelat, teh tarik, dan lainnya. Selesai dari pasar kami menuju ke Lagoi, jarak tempuhnya kurang lebih 1 jam.

Waktu penantian selama 1 jam ternyata terbayar sangat lunas karena hotel kami punya private beach! Naluri eksplore pun langsung memuncak namun sekali lagi karena ini adalah perjalanan dinas jadi begitu sampai ada meeting persiapan untuk acara besok terlebih dahulu.

Selesai meeting persiapan saya dan rekan kerja saya langsung menyusuri pantai untuk menikmati sunset. Namun karena sehabis hujan, jadi langit pun mendung dan sunset tak terlihat. Semua itu terbayar lunas esok harinya oleh pemandangan pantai yang sangat cantik di pagi hari.

Siang harinya kami dibawa ke salah satu restaurant setempat untuk menyantap seafood. Tidak afdol apabila ke Bintan namun tidak makan seafood. Makanan khas yang terkenal di Bintan adalah Gonggong. Namun, masakan olahan seafood lainnnya juga tidak kalah sedapnya. Bagi anda yang juga pecinta durian, apabila datang ke pulau ini saat musim durian makan anda akan merasakan surga dunia disini.

Hari ketiga diselingi dengan berwisata ke Safari Lagoi and Eco Farm yang masih berada di satu area dengan hotel. Safari Lagoi adalah kebun binatang yang masih dalam tahap pengembangan. Luas areanya direncanakan sekitar 100 Ha. Meskipun masih dalam tahap pengembangan, satwa yang ada disini cukup banyak dan kebanyakan adalah satwa endemik Indonesia. Ada Buaya, Kura-Kura, Monyet, Burung. Kita juga bisa berfoto dengan beberapa hewan seperti Ular dan juga mencoba pengalaman naik Gajah.

Senin, 16 Desember 2019

Bukan di Luar Negeri, Ini Savana di Sulawesi Tengah

Taman Nasional Lore Lindu di Sulawesi Tengah dikenal akan patung purbanya. Namun, di sana juga ada savana indah.
Padang Savana, terlihat membentang luas, cuaca sejuk puncak gunung kian terasa disetiap hela nafas, aroma khas tetesan embun, bercampur lembabnya tanah Lembah Napu menjadi candu. Dinginnya udara menggeretak gigi di dataran tinggi Kawasan Lore yang menyimpan banyak keindahan. Landskapnya menjadi surga, bukit-bukit layered tampak memukau seperti lukisan.

Sebagi kawasan cagar wisata megalitikum, banyak peninggalan prasejarah bisa kita temukan tersebar dibeberapa titik lokasi yang masuk dalam kawasan cagar wisata Lore.  Perjalanan pun akan selalu dimanjakan dengan pemandangan alamnya yang memukau, salah satunya adalah kawasan hutan pinus.

Menikmati kicau burung khas hutan pinus dan jangkrik si pemilik suara krik-krik di antara pohon pinus yang tampak kokoh berdiri. Terlihat wadah terbuat dari botol plastik bekas yang melekat di batang-batang pohon Pinus sebagai wadah untuk menampung getahnya yang terlihat kental berwarna kuning pekat dan lengket.

Di balik getah mengandung nilai ekonomi bagi masyarakat setempat yang nantinya akan diexport sebagai bahan baku gondorukem yang mempunyai kegunaan lain yang bernilai ekonomis tinggi yaitu sebagai pelapis kertas, bahan additive, tinta printing, industri ban, isolasi alat elektronik, cat, vernis, plastik, sabun, semir sepatu, keramik, lem dan lain-lain.

Tercium aroma kopi napu yang siap diseruput menemani dinginnya udara hutan pinus lembah napu. Setiap akhir pekan kawasan hutan Pinus lembah napu akan selalu ramai pengunjung , camping menjadi salah satu aktifitas yang digemari untuk meninggalkan sejenak aktifitas dan padatnya rutinitas kehidupan kota.

Cara ini dianggap paling mujarab, bersama aplikasi tiket.com yang selalu menemani di setiap perjalanan untuk  menemukan kemudahan booking tiket dan hotel.

Konon Pulau di Singkawang Ini Adalah yang Terkecil di Dunia

Singkawang di Kalimantan Barat dikenal sebagai kota yang sarat toleransi. Selain itu juga ada pulau yang kabarnya terkecil di dunia.
Kalau Anda ditanya, apa nama pulau terbesar di dunia, mungkin Anda akan mudah menjawabnya dan bahkan mudah menemukannya di peta, sebutlah Pulau Greenland. Semisal Anda ditanya apa nama pulau terbesar di Indonesia, mungkin juga Anda akan mudah menjawab Pulau Kalimantan. Akan tetapi, kalau Anda ditanya apa nama pulau terkecil di dunia atau pulau terkecil di Indonesia, apakah Anda bisa menjawabnya?

Jawaban atas kedua pertanyaan itu sama, yaitu Pulau Simping. Ya, Pulau Simping merupakan pulau terkecil di Indonesia sekaligus di dunia yang diakui oleh PBB. Pulau yang terletak di Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan, Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat ini memiliki luas kurang dari setengah hektare.

Untuk menuju pulau ini, kita dapat menempuh perjlanan dalam waktu sekitar 2 jam dari pusat Kota Pontianak. Jika kita bayangkan, pulau terkecil dan terbesar di Indonesia terletak berdampingan, yaitu pulau Simping dan pulau Kalimantan.

Dengan luas yang sangat kecil, pulau ini dikelilingi oleh batu-baru besar, bagian tengah-tengah pulau ditumbuhi pepohonan yang sangat besar, lalu terdapat juga sebuah klenteng kecil di bagian pinggir pulau. Konon, dulunya pulau ini dihuni oleh beberapa penduduk etnis Tionghoa, lalu ditinggalkan karena pulau ini mengalami abrasi. Pada akhirnya, abrasi yang terus-menerus itu yang menyebabkan pulau ini menjadi mengecil.

Pemandangan pulau yang dulunya bernama pulau Kelapa Dua ini dapat dilihat dari sebuah pantai bernama pantai Sedau. Di pantai ini terdapat jembatan penghubung menuju pulau Simping. Akan tetapi, ketika saya ke sana, kondisi jembatannya cukup memperihatinkan karena jembatan ini sudah runtuh di bagian tengahnya, menyisakan dua bagian jembatan yang tidak saling terhubung.

Alhasil, dengan ambisi saya pun berusaha mencapai pulau tersebut dengan berjalan melompati satu per satu reruntuhan jembatan yang masih muncul di permukaan demi mencapai sisi jembatan satunya, mengingat jaraknya yang tidak terlalu jauh dari pantai Sedau, yaitu sekitar 30-40 meter dan kondisi pantainya yang tidak terlalu dalam. Sayangnya, reruntuhan tersebut sangatlah licin karena ditumbuhi lumut. Saya pun akhirnya mengurungkan niat saya untuk mencapai pulau tersebut. Sungguh disayangkan.