Senin, 16 Desember 2019

Bukan di Luar Negeri, Ini Savana di Sulawesi Tengah

Taman Nasional Lore Lindu di Sulawesi Tengah dikenal akan patung purbanya. Namun, di sana juga ada savana indah.
Padang Savana, terlihat membentang luas, cuaca sejuk puncak gunung kian terasa disetiap hela nafas, aroma khas tetesan embun, bercampur lembabnya tanah Lembah Napu menjadi candu. Dinginnya udara menggeretak gigi di dataran tinggi Kawasan Lore yang menyimpan banyak keindahan. Landskapnya menjadi surga, bukit-bukit layered tampak memukau seperti lukisan.

Sebagi kawasan cagar wisata megalitikum, banyak peninggalan prasejarah bisa kita temukan tersebar dibeberapa titik lokasi yang masuk dalam kawasan cagar wisata Lore.  Perjalanan pun akan selalu dimanjakan dengan pemandangan alamnya yang memukau, salah satunya adalah kawasan hutan pinus.

Menikmati kicau burung khas hutan pinus dan jangkrik si pemilik suara krik-krik di antara pohon pinus yang tampak kokoh berdiri. Terlihat wadah terbuat dari botol plastik bekas yang melekat di batang-batang pohon Pinus sebagai wadah untuk menampung getahnya yang terlihat kental berwarna kuning pekat dan lengket.

Di balik getah mengandung nilai ekonomi bagi masyarakat setempat yang nantinya akan diexport sebagai bahan baku gondorukem yang mempunyai kegunaan lain yang bernilai ekonomis tinggi yaitu sebagai pelapis kertas, bahan additive, tinta printing, industri ban, isolasi alat elektronik, cat, vernis, plastik, sabun, semir sepatu, keramik, lem dan lain-lain.

Tercium aroma kopi napu yang siap diseruput menemani dinginnya udara hutan pinus lembah napu. Setiap akhir pekan kawasan hutan Pinus lembah napu akan selalu ramai pengunjung , camping menjadi salah satu aktifitas yang digemari untuk meninggalkan sejenak aktifitas dan padatnya rutinitas kehidupan kota.

Cara ini dianggap paling mujarab, bersama aplikasi tiket.com yang selalu menemani di setiap perjalanan untuk  menemukan kemudahan booking tiket dan hotel.

Konon Pulau di Singkawang Ini Adalah yang Terkecil di Dunia

Singkawang di Kalimantan Barat dikenal sebagai kota yang sarat toleransi. Selain itu juga ada pulau yang kabarnya terkecil di dunia.
Kalau Anda ditanya, apa nama pulau terbesar di dunia, mungkin Anda akan mudah menjawabnya dan bahkan mudah menemukannya di peta, sebutlah Pulau Greenland. Semisal Anda ditanya apa nama pulau terbesar di Indonesia, mungkin juga Anda akan mudah menjawab Pulau Kalimantan. Akan tetapi, kalau Anda ditanya apa nama pulau terkecil di dunia atau pulau terkecil di Indonesia, apakah Anda bisa menjawabnya?

Jawaban atas kedua pertanyaan itu sama, yaitu Pulau Simping. Ya, Pulau Simping merupakan pulau terkecil di Indonesia sekaligus di dunia yang diakui oleh PBB. Pulau yang terletak di Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan, Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat ini memiliki luas kurang dari setengah hektare.

Untuk menuju pulau ini, kita dapat menempuh perjlanan dalam waktu sekitar 2 jam dari pusat Kota Pontianak. Jika kita bayangkan, pulau terkecil dan terbesar di Indonesia terletak berdampingan, yaitu pulau Simping dan pulau Kalimantan.

Dengan luas yang sangat kecil, pulau ini dikelilingi oleh batu-baru besar, bagian tengah-tengah pulau ditumbuhi pepohonan yang sangat besar, lalu terdapat juga sebuah klenteng kecil di bagian pinggir pulau. Konon, dulunya pulau ini dihuni oleh beberapa penduduk etnis Tionghoa, lalu ditinggalkan karena pulau ini mengalami abrasi. Pada akhirnya, abrasi yang terus-menerus itu yang menyebabkan pulau ini menjadi mengecil.

Pemandangan pulau yang dulunya bernama pulau Kelapa Dua ini dapat dilihat dari sebuah pantai bernama pantai Sedau. Di pantai ini terdapat jembatan penghubung menuju pulau Simping. Akan tetapi, ketika saya ke sana, kondisi jembatannya cukup memperihatinkan karena jembatan ini sudah runtuh di bagian tengahnya, menyisakan dua bagian jembatan yang tidak saling terhubung.

Alhasil, dengan ambisi saya pun berusaha mencapai pulau tersebut dengan berjalan melompati satu per satu reruntuhan jembatan yang masih muncul di permukaan demi mencapai sisi jembatan satunya, mengingat jaraknya yang tidak terlalu jauh dari pantai Sedau, yaitu sekitar 30-40 meter dan kondisi pantainya yang tidak terlalu dalam. Sayangnya, reruntuhan tersebut sangatlah licin karena ditumbuhi lumut. Saya pun akhirnya mengurungkan niat saya untuk mencapai pulau tersebut. Sungguh disayangkan.

Pengalaman Menarik di Curug Gandu, Kulon Progo

Selain Kalibiru, Kulon Progo juga punya wisata air terjun yang cukup indah. Salah satunya adalah Curug Gandu.
Kulon Progo memiliki banyak destinasi wisata alam yang tersebar disetiap sudutnya, salah satunya adalah wisata air terjun disepanjang area perbukitan Menoreh. Beragam air terjun dengan keunikan dan daya tarik tersendiri menjadikan Kulon Progo sebagai salah salah satu Kabupaten yang destinsi wisatanya layak dijadikan wishlist ketika travelling ke Yogyakarta dan sekitarnya. Di Kulon Progo sendiri terdapat curug yang memberikan pengalaman dan kesan yang tidak terlupakan untuk Saya, curug itu bernama curug Gandu.

Curug Gandu berada dalam satu area dengan 3 curug/ kedung lainnya, yaitu Curug Glimpang, Kedung Ratmi, Kedung Bendo & Curug Gandu. Curug-curug tersebut berada di dusun Prangkokan, desa Purwosari, kecamatan Girimulyo, Kulon Progo, DIY. Girimulyo menjadi daerah yang cukup ramai dipadati para penikmat wisata air terjun akhir-akhir ini, salah satunya adalah curug Gandu ini.

Untuk menuju ke lokasi curug Gandu bisa diakses dari Jogjakarta menuju ke arah Goa Kiskendo, sesampainya di pasar Joggrangan belok kanan mengikuti jalan aspal hingga menemukan pertigaan arah Goa Kidang Kencana, lalu ambil arah ke kanan hingga menemukan Paud di dusun Prangkokan, Purwosari, Girimulyo, Kulon Progo, maka sampailah Kita di area curug Gandu.

Area Curug Gandu yang masih dalam tahap pengembangan dan penambahan fasilitas ini mulai dilirik para penikmat wisata yang makin banyak jumlahnya di seputaran Yogyakarta. Pada tulisan kali ini Saya akan membahas tentang pengalaman Saya ketika berkunjung ke Curug Gandu, bagi Saya perjalanan ini menjadi salah satu perjalanan yang meninggalkan kesan mendalam, dan semoga bisa menginspirasi para pembaca sekalian.

Dari area parkir menuju Curug Gandu, Kita harus trekking terlebih dahulu sekitar 20 hingga 30menit melewati area perkebunan warga, area persawahan dan selanjutnya harus menyusuri sungai. Kala itu arus sungai cukup deras karena di malam sebelumnya turun hujan lebat di kecamatan Girimulyo, sehingga harus ekstra hati-hati dalam melangkah. Setelah menyusuri sungai kurang-lebih 5-10 menit, selanjutnya melewati jalur air atau parit sekitar 5 menit maka sampailah Kita di Curug Gandu

Curug Gandu hari itu mengalir cukup deras, dan sepertinya hujan semalam membuat salah satu pohon dan beberapa batang bambu tumbang tepat di depan Curug Gandu. Disinilah terjadinya petualangan dan pengalaman baru yang cukup membanggakan terutama untuk Saya pribadi atas apa yang Kami lakukan di hari itu.

Ya, bersama berapa warga setempat, kami berinisiatif membersihkan ranting-ranting dari pohon dan bambu yang tumbang. Bukan semata ingin terlihat keren ataupun telihat sok, namun tujuan Kami melakukan itu murni karena ingin membantu beberapa warga yang sedang membersihkan ranting, dan kebetulan Kami memiliki banyak waktu senggang.

Cukup sulit membersihkan ranting dengan alat seadanya yang dibawa oleh warga, walaupun begitu Kami saling bahu-membahu membersihkan sebisa dan semampu Kami, minimal Curug Gandu aman dari ranting-ranting yang membahayakan pengunjung, karena rawan terinjak, tertusuk, dsb. Batang pohon besar tetap pada tempatnya, karena sangat berat dan tidak bisa dipindahkan oleh 10an orang sekalipun, Kami juga berpikir bahwa batang tersebut bisa digunakan sebagai penghias curug Gandu dan properti foto.

Selain itu, kami juga membersihkan sampah plastik disekitar lokasi. Ya, masih ada saja pengunjung yang seenak jidatnya membuang sampah sembarangan. Sejatinya travelling itu tidak hanya tentang datang - foto - update - pulang, tapi juga tentang menjaga, menikmati dan berinteraksi.

Ini menjadi pengalaman yang seru dan menarik untuk Saya karena bisa membantu membersihkan area wisata. Sebenarnya menjaga kebersihan dari tempat wisata adalah tugas kita semua, baik pengunjung ataupun pengelola, namun dengan cara masing-masing, tidak harus seperti yang Saya ceritakan diatas, minimal membuang sampah ditempat yang sudah disediakan, jika di lokasi wisata tidak terdapat tempat sampah maka bawa pulang sampahmu.

Hari menjelang sore dan waktunya untuk pulang, melewati rute yang sama dengan badan yang sudah kelelahan membuat perjalanan pulang menjadi sangat berat, namun rasa lelah ini terbungkus oleh rasa bahagia dan bangga atas pengalaman yang baru saja terjadi. Semoga destinasi-destinasi pariwisata Indonesia terus terjaga kebersihan dan keindahannya, maju terus pariwisata Indonesia.