Jumat, 13 Desember 2019

Bos Garuda Janji Kaji Ulang Kebijakan Mutasi & Rotasi

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk akan mengkaji kebijakan ulang mutasi dan rotasi yang dianggap merugikan karyawan. Persoalan rotasi dan mutasi ini mencuat setelah para awak kabin Garuda yang tergabung dalam IKAGI (Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia) menyambangi Kementerian BUMN pada Senin (3/12/2019).

Lantas, bagaimana respons pejabat sementara direksi Garuda Indonesia merespons persoalan tersebut?

"Mutasi dan rotasi tidak memenuhi ketentuan kami tinjau ulang dan sesuaikan dengan perusahaan," ujar Pelaksana Harian Direktur Human Capital Garuda Indonesia Aryaperwira Adileksana di Kementerian BUMN, Jakarta Pusat, Kamis (12/12/2019).

Sebelumnya pramugari Garuda Indonesia yang ikut pengurus IKAGI ke Kementerian BUMN bercerita mengalami nasib tak mengenakan di masa Ari Askhara menjabat direktur utama. Tak hanya kerja sampai 18 jam untuk penerbangan luar negeri pergi pulang (PP), pramugari bisa saja dimutasi dengan alasan yang tidak jelas.

Hal itu diungkapkan, Putri Adelia Pamela yang bertugas di Garuda Indonesia sejak tahun 2011. Wanita yang biasa disapa Adel ini mengaku sebelumnya ditempatkan di Jakarta, namun tanpa alasan yang jelas ia dipindah ke Makassar.

"Sebelumnya saya sebagai awak kabin yang memiliki home base saya dipindahkan dan dimutasikan ke Makassar tanpa menjalani prosedur atau peraturan jelas kepada saya," katanya di Kementerian BUMN Jakarta Pusat, kemarin (9/12/2019).

Dia berharap hal itu tak terulang lagi. Dia pun berharap agar jajaran petinggi Garuda Indonesia dirombak.

"Menurut saya perlu menghapus orang-orang di bawah direksi yang memiliki strategi yang sama dengan bapak Ari Askhara, ide yang sama dengan direksi sebelumnya, dan praktik buruk serta ilegal yang sama juga," tuturnya.

Aryaperwira menambahkan maskapai pelat merah ini juga akan membuat talent pool. Kehadiran talent pool diharapkan bisa menunjang kompetensi karyawan Garuda Indonesia.

"Kami segera memikirkan membuat talent pool menunjang pengembangan kompetensi dan keahlian karyawan," tuturnya.

Cerita Kubu Serikat Karyawan Garuda yang Tak Diterima Erick Thohir

Ada perpecahan di dalam karyawan-karyawan Garuda Indonesia. Ada yang gembira dengan ditendangnya Ari Askhara, ada juga yang pro dengan mantan Dirut Garuda Indonesia itu.

Pada 9 Desember 2019 kemarin, kedua kubu karyawan Garuda Indonesia itu sempat berhadap-hadapan di Kementerian BUMN. Sebagian dari mereka mengaku diundang oleh Menteri BUMN Erick Thohir untuk bertemu.

Mereka yang diundang adalah Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (IKAGI) yang diketuai oleh Zaenal Muttaqin. Sebelumnya IKAGI ini sudah menggelar konpers yang intinya mendukung pencopotan Ari dan kawan-kawan.

Nah, tiba-tiba IKAGI 'tandingan' yang diketuai Achmad Haeruman datang ke Kementerian BUMN di waktu yang sama. Jumlahnya puluhan orang. Saat itu hadir juga Ketua Harian Serikat Karyawan Garuda (Sekarga) Tomy Tampatty.

Namun yang diterima Erick saat itu hanya IKAGI Zaenal. Sedangkan IKAGI pro Ari akhirnya pulang satu per satu. Hal itu pun diakui oleh Tomy Tampatty.

"Kami memang tidak ikut dalam pertemuan itu. Maka itu kami perlu klarifikasi, organ di dalam kami solid," ujarnya di Pulau Dua Resto, Jakarta, Kamis (12/12/2019).

Tomy pun menegaskan, bahwa organisasi pekerja yang sah adalah yang tergabung dalam Sekretariat Bersama (Sekber). Isinya terdiri dari Serikat Karyawan Garuda (Sekarga), Asosiasi Pilot Garuda (APG), dan IKAGI.

"Terkait dengan organisasi yang resmi dan terdaftar di departemen tenaga kerja adalah APG, Sekarga dan IKAGI. Nah terkait dengan adanya pertemuan dengan menteri itu adalah teman-teman sebagian dari awak kabin yang kami tidak ikut perkembangannya. Maka dari itu pertemuan itu kami tidak ikut," tegasnya.

Tomy pun menegaskan, para karyawan yang tergabung dalam Sekber saat ini tak ingin ikut berpolemik. Mereka hanya ingin memastikan pelayanan Garuda Indonesia tetap terjaga.

"Kami lebih menjaga soliditas di internal untuk menjaga operasional kita berjalan. Alhamdulillah sampai detik ini sejak kejadian kemarin operasional Garuda berjalan dengan baik," tutupnya.

Kamis, 12 Desember 2019

Viral di AS, Penumpang Muslim Mau Diusir Pramugari

 Seorang penumpang Muslim diancam akan dikeluarkan dari pesawat karena ingin duduk bersama dengan keluarganya. Kasus ini heboh di Amerika Serikat.

Kejadian yang menimpa seorang ibu ini terjadi pada penerbangan Southwest Airlines dari Houston ke Washington DC. Hal ini diceritakan suami dari perempuan itu, Mehdi Hasan melalui akun twitternya.

Mehdi Hasan adalah seorang jurnalis Inggris yang tinggal di Amerika Serikat. Ia menjelaskan saat itu ia dan keluarganya akan pulang setelah menghadiri Thanksgiving pada Minggu malam tanggal 1 Desember 2019 lalu.

Dilansir dari The Sun, Jumat (6/12/2019), Southwest Airlines adalah pesawat berbiaya murah (low-cost), yang punya kebijakan untuk membebaskan tempat duduk penumpang. Penumpang akan ditempatkan pada tempat duduk tertentu, tergantung pada siapa yang datang lebih awal.

Mehdi menjelaskan kalau istrinya meminta penumpang lain dengan sopan untuk bertukar tempat duduk sehingga keluarganya bisa duduk bersama. Akan tetapi hal itu justru mendapatkan respon negatif dari pramugari. Kronologi kejadian itu ia tulis dalam thread twitternya.

"Hey @SouthwestAir : bukan tampilan yang baik dari pramugari Anda di SW5539 ke DC semalam yang dengan keras memberi tahu seorang wanita kulit cokelat berjilbab kalau ia akan 'diantar keluar dari pesawat' karena membuat orang merasa 'tidak nyaman' -karena ia ingin duduk bersama suami & anak-anaknya!".

Dalam tweet itu, Mehdi juga mengatakan kalau pramugari sampai memanggil staf darat untuk naik ke pesawat. Pramugari ini mengeluh tentang wanita Muslim yang meminta seorang pria bertukar tempat duduk dengannya, padahal pria itu tak mempermasalahkan permintaan tersebut.

Mehdi menambahkan bahwa staf darat sampai bertanya-tanya mengapa pramugari itu tidak membiarkan saja hal itu dilakukan sehingga pesawat bisa lepas landas.

Menurut Mehdi, keluarganya juga menerima dukungan dari penumpang lain, termasuk memberi tahu mereka bahwa awak kabin telah memperlakukan Nyonya Hasan 'seperti ular berbisa'.

Kejadian ini seolah membuat Mehdi kapok untuk kembali menggunakan maskapai Southwest Airlines itu. Ia menulis kalau ia sudah bertahun-tahun tidak terbang menggunakan maskapai itu dan ia juga tak berencana untuk kembali menjadi penumpangnya di masa depan.

Tweet Mehdi ini mendapatkan perhatian khalayak. Berdasarkan pantauan detikcom sampai Jumat (6/12/2019) malam, tweet ini telah diretweet 3 ribu pengguna dan disukai hampir 10 ribu pengguna. Beragam komentar dukungan juga disematkan pengguna pada tweet Mehdi tersebut.

Salah satu pengguna twitter berkomentar, "sangat menyesal melihat istrimu diperlakukan seperti ini."

"Apa yang terjadi pada Anda dan keluarga Anda tidak dapat diterima. Petugas ini jelas membutuhkan pelatihan. Semua orang sepakat bahwa seharusnya tidak ada masalah. Saya sedih atas perlakuan yang diterima istri Anda," komentar pengguna lainnya.

Kejadian serupa sebenarnya kerap terjadi dalam penerbangan. Misalnya pada awal tahun ini, keluarga Muslim mengatakan kalau mereka diusir dari penerbangan karena 'terlihat etnik'.

Dikabarkan, pesawat dapat kembali terbang dan istri Mehdi Hasan tetap duduk di tempat semula.