Kamis, 12 Desember 2019

Viral di AS, Penumpang Muslim Mau Diusir Pramugari

 Seorang penumpang Muslim diancam akan dikeluarkan dari pesawat karena ingin duduk bersama dengan keluarganya. Kasus ini heboh di Amerika Serikat.

Kejadian yang menimpa seorang ibu ini terjadi pada penerbangan Southwest Airlines dari Houston ke Washington DC. Hal ini diceritakan suami dari perempuan itu, Mehdi Hasan melalui akun twitternya.

Mehdi Hasan adalah seorang jurnalis Inggris yang tinggal di Amerika Serikat. Ia menjelaskan saat itu ia dan keluarganya akan pulang setelah menghadiri Thanksgiving pada Minggu malam tanggal 1 Desember 2019 lalu.

Dilansir dari The Sun, Jumat (6/12/2019), Southwest Airlines adalah pesawat berbiaya murah (low-cost), yang punya kebijakan untuk membebaskan tempat duduk penumpang. Penumpang akan ditempatkan pada tempat duduk tertentu, tergantung pada siapa yang datang lebih awal.

Mehdi menjelaskan kalau istrinya meminta penumpang lain dengan sopan untuk bertukar tempat duduk sehingga keluarganya bisa duduk bersama. Akan tetapi hal itu justru mendapatkan respon negatif dari pramugari. Kronologi kejadian itu ia tulis dalam thread twitternya.

"Hey @SouthwestAir : bukan tampilan yang baik dari pramugari Anda di SW5539 ke DC semalam yang dengan keras memberi tahu seorang wanita kulit cokelat berjilbab kalau ia akan 'diantar keluar dari pesawat' karena membuat orang merasa 'tidak nyaman' -karena ia ingin duduk bersama suami & anak-anaknya!".

Dalam tweet itu, Mehdi juga mengatakan kalau pramugari sampai memanggil staf darat untuk naik ke pesawat. Pramugari ini mengeluh tentang wanita Muslim yang meminta seorang pria bertukar tempat duduk dengannya, padahal pria itu tak mempermasalahkan permintaan tersebut.

Mehdi menambahkan bahwa staf darat sampai bertanya-tanya mengapa pramugari itu tidak membiarkan saja hal itu dilakukan sehingga pesawat bisa lepas landas.

Menurut Mehdi, keluarganya juga menerima dukungan dari penumpang lain, termasuk memberi tahu mereka bahwa awak kabin telah memperlakukan Nyonya Hasan 'seperti ular berbisa'.

Kejadian ini seolah membuat Mehdi kapok untuk kembali menggunakan maskapai Southwest Airlines itu. Ia menulis kalau ia sudah bertahun-tahun tidak terbang menggunakan maskapai itu dan ia juga tak berencana untuk kembali menjadi penumpangnya di masa depan.

Tweet Mehdi ini mendapatkan perhatian khalayak. Berdasarkan pantauan detikcom sampai Jumat (6/12/2019) malam, tweet ini telah diretweet 3 ribu pengguna dan disukai hampir 10 ribu pengguna. Beragam komentar dukungan juga disematkan pengguna pada tweet Mehdi tersebut.

Salah satu pengguna twitter berkomentar, "sangat menyesal melihat istrimu diperlakukan seperti ini."

"Apa yang terjadi pada Anda dan keluarga Anda tidak dapat diterima. Petugas ini jelas membutuhkan pelatihan. Semua orang sepakat bahwa seharusnya tidak ada masalah. Saya sedih atas perlakuan yang diterima istri Anda," komentar pengguna lainnya.

Kejadian serupa sebenarnya kerap terjadi dalam penerbangan. Misalnya pada awal tahun ini, keluarga Muslim mengatakan kalau mereka diusir dari penerbangan karena 'terlihat etnik'.

Dikabarkan, pesawat dapat kembali terbang dan istri Mehdi Hasan tetap duduk di tempat semula.

Amannya Kota Dubai, Ponsel Hilang di Taksi Masih Bisa Balik

Cerita turis kehilangan gadget di tempat liburan sudah sering kita dengar. Di Dubai, saya sendiri yang sempat kehilangan ponsel di taksi. Masih bisa balik lho!

Ada banyak cerita yang datang dari Dubai, bagian kecil Uni Emirat Arab. Penampilan kotanya yang glamor membuat sejuta kegiatan di kota ini tampak begitu menggiurkan.

Tapi kali ini saya tidak bercerita tentang kegilaan materi Dubai. Melainkan sisi hangat dan bentuk harga diri yang dijunjung tinggi dalam tiap pekerjaan.

Cerita ini bermula dari keinginan saya, sebagai turis di sana, untuk mencoba transportasi publik di Kota Dubai. Saat semua aktivitas tur telah selesai, saya pulang ke Copthrone Hotel bersama 2 rekan dengan menggunakan taksi.

Saya berada di Dubai Mall saat itu. Untuk mengambil taksi, saya harus menuju menuju basement dan mengikuti papan petunjuk arah yang sudah disediakan.

Antreannya cukup panjang, terlihat banyak turis yang menggunakan taksi sebagai transportasi publik. Sang petugas mengarahkan kami untuk naik taksi yang sudah ditentukan.

Layaknya Indonesia, Dubai punya taksi yang berukuran kecil (mobil sedan) dan berukuran sedang. Tak ada beda harga dari ukuran taksi, yang besar hanya memuat lebih banyak dari mobil kecil.

Di depan kaca supir terdapat sebuah kamera kecil. Rupanya semua aktivitas kerja dipantau oleh perusahaan.

Perjalanan lancar, meski si supir terlihat gelisah saat membawa kendaraan. Saya berpikir sendiri, mungkin supir ini sedang ada masalah.

Tiba di depan hotel, 2 teman berebut untuk membayar. Dengan sigap, saya langsung menyerahkan lembaran uang kertas kepada supir. Saya meminta struk taksi dan menerima kembalian.

Seorang teman mengingatkan untuk kembali mengecek barang bawaan. Saya tak melihat ada barang ketinggalan. Begitu menginjakkan kaki di lobby hotel, saya sadar, hp yang saya pegang tak ada di tangan.

Saya mengecek kembali ke dalam tas, tapi tak ada penampakan hp. Saya ingat betul bahwa di dalam mobil, saya berbincang kepada salah satu teman dengan menunjukkan hp.

Hp tak bisa dihubungi karena saya menggunakan modem WiFi. Saya pun tak punya pilihan selain berbicara kepada resepsionis hotel.

Sang resepsionis bertanya, apakah saya punya receipt dari taksi tersebut. Saya mengeluarkan struk, di sana tertera ID dari supir taksi dan beberapa informasi penting.

Jari-jarinya menari di atas telepon. Dari percakapannya, si resepsionis menjelaskan bahwa saya adalah tamu di hotelnya. Dia memberikan nama saya dan nomor kamar.

Saya agak terkejut, apakah memberikan nomor kamar adalah hal yang wajar? Tapi saya tidak bergeming dari kursi resepsionis.

Percakapan ditelepon berlangsung sekitar 15 menit, tapi rasanya seperti seabad. Telepon akhirnya ditutup.

Resepsionis memberikan secarik kertas yang bertuliskan nomor kasus. Jemari saya bergetar melihat nomor kasus yang mencapai ribuan. Hati-hati, saya bertanya kepada resepsionis.

"Apakah hp saya akan kembali? Kalau tidak, saya tidak akan menunggu," tanya saya pasrah.

Dengan senyum mengembang, si resepsionis membuka hp miliknya. Ia membuka ponsel dan pesan dalam kotak masuknya. Di sana ada banyak pesan dari call center terkait dengan kasus kehilangan seperti yang saya alami.

"Ini terjadi setiap hari nona, hp Anda akan kembali. Pasti," jawabnya lembut.

Seperti mendapat kepastian hidup, saya naik ke kamar untuk packing. Saat itu pukul 21.00 waktu setempat, si resepsionis menjanjikan telepon dalam waktu satu jam.

Jam terus berdetak hingga pukul 22.30 waktu setempat. Tak ada dering telepon. Saya akhirnya turun kembali ke resepsionis untuk memastikan kedatangan supir taksi.

Berjalan pelan ke arah lobby, si resepsionis memanggil saya. Dia memberitahu bahwa sang supir taksi akan datang ke hotel saat jam kerjanya sudah selesai, kira-kira pukul 02.00 waktu setempat.

Besok pagi saya harus checkout dari hotel jam 7 pagi. Masih banyak waktu, saya memberitahu resepsionis untuk keluar sebentar sembari menunggu kedatangan supir taksi.

"Hp nona akan kembali, tapi nanti nona harus bayar sejumlah uang perjalanan sesuai argo. Barang tersebut akan dihitung sebagai penumpang," jelas resepsionis.

Saya setuju dan meminta resepsionis untuk membayar terlebih dahulu jika saya belum kembali.

Waktu menunjukkan pukul 23.30 waktu setempat. Melewati lobby, saya hanya melengos saja tanpa berharap apa-apa. Tapi begitu saat masuk lift, si resepsionis berteriak memanggil saya.

Dari balik meja, si resepsionis melambaikan tangan dengan hp saya.

"Supir taksi anda adalah orang baik, dia datang buru-buru hanya untuk mengembalikan ponsel nona," si resepsionis memberikan hp beserta struk taksi.

Rupanya supir tersebut datang begitu saya keluar dari hotel. Sang supir naik ke kamar saya untuk memberikan langsung ponsel tersebut. Karena tak ada jawaban, ia kembali ke lobby dan melaporkannya kepada resepsionis.