Kamis, 12 Desember 2019

Safari Desert, Memacu Adrenalin di Gurun Dubai

Sebelum hutan beton, Dubai adalah padang gurun. Seperti kembali ke masa lalu, inilah safari desert, wisata adrenalin di Gurun Dubai.

Segala kemewahan Dubai seolah menjadi ikon dari kota Uni Emirat Arab ini. Padahal sebelum hutan beton, Dubai hanyalah padang pasir. Untuk melihat eksotisme Dubai di masa lalu, ada satu atraksi yang bisa dinikmati oleh wisatawan, safari desert. Inilah wisata pacu adrenalin di atas padang pasir.

Kegiatan ini biasanya dilakukan sore hari bertepatan dengan sunset. Dengan menggunakan mobil khusus sekelas Land Cruiser, peserta tur akan dijemput menuju Dubai Desert.

Perjalanan menuju Dubai Desert membutuhkan waktu sekitar 45 menit dari tengah kota. Tepat sebelum memasuki gurun, para peserta tur akan diperbolehkan untuk ke kamar kecil terlebih dahulu.

Setelah semua siap, peserta bisa naik ke mobil. Oiya, ada syarat khusus untuk mengikuti tur ini, mobilnya harus penuh. Satu mobil harus berisi 7 orang termasuk supir.

"Dalam safari desert, mobil tak boleh ada yang kurang dari kuota. Ini berpengaruh pada keseimbangan mobil," ujar Masa, pemandu tur dari Indonesia.

Supir kami yang bernama Mohammed mengempeskan ban mobil sebelum berangkat. Ban mobil memang sengaja dikempeskan agar bisa berjalan di atas pasir. Mohammed mengingatkan kami untuk selalu menggunakan sabuk pengaman.

Apa lagi yang ditunggu?

Ada 2 mobil lain yang beriringan dengan kami. Memasuki padang pasir, mobil mulai bergoyang. Gundukan pasir ditaklukkan dengan gerakan lihai.

Mobil tak hentinya bergoyang. Supaya makin 'panas' Mohammed memutarkan lagu bernuansa padang pasir. Jerit keseruan terdengar riuh rendah di dalam mobil.

Turun dari bukit pasir, perut seperti kena butterfly effect. Peserta tur sontak menjerit sambil pegangan. Debu pasir beterbangan sisi mobil.

Selama satu jam, peserta diajak menikmati tiap sudut gurun pasir Dubai. Keterampilan supir sangat berpengaruh dalam atraksi ini.

Peserta tak hanya mendapatkan pengalaman bergoyang di atas gurun. Saat matahari terbenam, peserta tur akan diminta turun untuk berfoto dan menikmati sunset.

Hamparan padang pasir menjadi batas horizon. Dengan warna keemasan, matahari turun ke singgasananya. Warna coklat pada pasir terlihat menyatu dengan bias jingga matahari di cakrawala.

Sebelum kembali, ban mobil akan diisi kembali. Peserta tur diminta masuk ke mobil untuk melanjutkan perjalanan.

Untuk bisa mengikuti tur ini, peserta akan dikenakan biaya Rp 1,1 juta per orang. Kalau rombonganmu kurang dari 7 orang tak perlu khawatir, karena operatur tur akan membuka sharing trip dengan wisatawan lain.

Amannya Kota Dubai, Ponsel Hilang di Taksi Masih Bisa Balik

Cerita turis kehilangan gadget di tempat liburan sudah sering kita dengar. Di Dubai, saya sendiri yang sempat kehilangan ponsel di taksi. Masih bisa balik lho!

Ada banyak cerita yang datang dari Dubai, bagian kecil Uni Emirat Arab. Penampilan kotanya yang glamor membuat sejuta kegiatan di kota ini tampak begitu menggiurkan.

Tapi kali ini saya tidak bercerita tentang kegilaan materi Dubai. Melainkan sisi hangat dan bentuk harga diri yang dijunjung tinggi dalam tiap pekerjaan.

Cerita ini bermula dari keinginan saya, sebagai turis di sana, untuk mencoba transportasi publik di Kota Dubai. Saat semua aktivitas tur telah selesai, saya pulang ke Copthrone Hotel bersama 2 rekan dengan menggunakan taksi.

Saya berada di Dubai Mall saat itu. Untuk mengambil taksi, saya harus menuju menuju basement dan mengikuti papan petunjuk arah yang sudah disediakan.

Antreannya cukup panjang, terlihat banyak turis yang menggunakan taksi sebagai transportasi publik. Sang petugas mengarahkan kami untuk naik taksi yang sudah ditentukan.

Layaknya Indonesia, Dubai punya taksi yang berukuran kecil (mobil sedan) dan berukuran sedang. Tak ada beda harga dari ukuran taksi, yang besar hanya memuat lebih banyak dari mobil kecil.

Di depan kaca supir terdapat sebuah kamera kecil. Rupanya semua aktivitas kerja dipantau oleh perusahaan.

Perjalanan lancar, meski si supir terlihat gelisah saat membawa kendaraan. Saya berpikir sendiri, mungkin supir ini sedang ada masalah.

Tiba di depan hotel, 2 teman berebut untuk membayar. Dengan sigap, saya langsung menyerahkan lembaran uang kertas kepada supir. Saya meminta struk taksi dan menerima kembalian.

Seorang teman mengingatkan untuk kembali mengecek barang bawaan. Saya tak melihat ada barang ketinggalan. Begitu menginjakkan kaki di lobby hotel, saya sadar, hp yang saya pegang tak ada di tangan.

Saya mengecek kembali ke dalam tas, tapi tak ada penampakan hp. Saya ingat betul bahwa di dalam mobil, saya berbincang kepada salah satu teman dengan menunjukkan hp.

Hp tak bisa dihubungi karena saya menggunakan modem WiFi. Saya pun tak punya pilihan selain berbicara kepada resepsionis hotel.

Dubai, Si Kota Mewah yang Dulunya Miskin

Gemerlapnya Dubai membuat siapa pun penasaran dengan kota ini. Siapa sangka, dibalik pendarnya, Dubai hidup melarat di masa lalu.

Pencakar langit menghiasi sudut-sudut New Dubai. Bangunan tinggi, hotel mewah, museum berlapis emas bisa ditemukan dengan mudah di kota ini.

Irama di kota ini terasa kencang seperti mobil-mobil modern yang melaju di jalanan. Dubai tak mau berhenti untuk terus maju dalam inovasi.

Tapi jarang yang mau tahu, bahwa Dubai punya perjuangan panjang untuk sampai ke titik ini. Masa lalu Dubai pahit.

Salah satu destinasi yang bisa jadi tempat melihat masa lalu Dubai adalah Dubai Museum. Berada di kawasan Old Dubai, Dubai Museum memilih sebuah bekas benteng sebagai tempat menyimpan masa lalu, Al Fahidi.

Kegagahan Al Fahidi sebagai bekas benteng terlihat dari meriam-meriam hitam yang masih diletakkan di depan pintu masuk. Gaya bangunan lama sengaja dibiarkan agar menambah kesan nostalgia akan masa lampau Dubai.

Begitu masuk ke museum ini, wisatawan akan dibawa ke area outdoor. Kawasan ini adalah gambaran pemukiman masyarakat Dubai di masa lalu. Rumah dari pelepah pisang dan sumur jadi wajah tradisional dari emirati.

Lewat dari area ini, wisatawan akan diajak untuk masuk ke ruang bawah tanah. Suasana yang gelap membuat pengunjung bertanya, kejutan apakah yang akan diberikan oleh Dubai Museum?

Remang lampu berwarna violet mulai nampak. Dari sini tampak kehidupan nelayan yang dilalui warga emirati saat itu. Diorama ini didukung dengan audio air dan perbincangan para nelayan.

Lewat dari kehidupan nelayan, ada diorama pasar yang ditampilkan. Selain menjadi nelayan, masyarakat Arab di sini juga berdagang rempah-rempah sampai mutiara laut.

Menyambung dari diorama nelayan, masyarakat pesisir juga menyelam untuk mencari mutiara. Mutiara tersebut kemudian dijual ke pasar.

Meski nelayan mutiara, namun kehidupan orang emirati terbilang miskin. Mata uangnya saja pernah berganti menjadi rupee.

Berjalan terus ke ruangan selanjutnya, ada diorama kehidupan pendidikan saat itu. Tak ada pendidikan formal yang di ditempuh masyarakat sampai tahun 1959. Pendidikan yang diberikan hanya lewat pengajian. Sekitar tahun 70an barulah Dubai disentuh dengan pendidikan formal.

Melewati diorama perempuan-perempuan Arab, mereka semua berpakaian panjang dengan penutup wajah atau topeng. Topeng ini digunakan untuk melindungi wanita saat itu.

Masuk ke diorama kehidupan gurun, ruangan dialasi dengan pasir gurun asli. Ruangan ini memberikan pengetahuan tentang Suku Bedouin (Badui) yang mengembara di gurun pasir.

Untuk membantu perburuan di padang gurun, suku ini memakai burung alap-alap atau falcon sebagai mata. Burung falcon akan dilatih untuk berburu kelinci, kemudian hasilnya untuk dimakan oleh suku Bedoiun. Ini mengapa falcon menjadi lambang dari Uni Emirat Arab.

Di ujung pameran ada toko suvenir dan ruangan khusus untuk benda-benda antik. Keluar dari museum ini, wisatawan disambut dengan pameran kapal besar untuk foto-foto.