Kamis, 12 Desember 2019

Dubai, Si Kota Mewah yang Dulunya Miskin

Gemerlapnya Dubai membuat siapa pun penasaran dengan kota ini. Siapa sangka, dibalik pendarnya, Dubai hidup melarat di masa lalu.

Pencakar langit menghiasi sudut-sudut New Dubai. Bangunan tinggi, hotel mewah, museum berlapis emas bisa ditemukan dengan mudah di kota ini.

Irama di kota ini terasa kencang seperti mobil-mobil modern yang melaju di jalanan. Dubai tak mau berhenti untuk terus maju dalam inovasi.

Tapi jarang yang mau tahu, bahwa Dubai punya perjuangan panjang untuk sampai ke titik ini. Masa lalu Dubai pahit.

Salah satu destinasi yang bisa jadi tempat melihat masa lalu Dubai adalah Dubai Museum. Berada di kawasan Old Dubai, Dubai Museum memilih sebuah bekas benteng sebagai tempat menyimpan masa lalu, Al Fahidi.

Kegagahan Al Fahidi sebagai bekas benteng terlihat dari meriam-meriam hitam yang masih diletakkan di depan pintu masuk. Gaya bangunan lama sengaja dibiarkan agar menambah kesan nostalgia akan masa lampau Dubai.

Begitu masuk ke museum ini, wisatawan akan dibawa ke area outdoor. Kawasan ini adalah gambaran pemukiman masyarakat Dubai di masa lalu. Rumah dari pelepah pisang dan sumur jadi wajah tradisional dari emirati.

Lewat dari area ini, wisatawan akan diajak untuk masuk ke ruang bawah tanah. Suasana yang gelap membuat pengunjung bertanya, kejutan apakah yang akan diberikan oleh Dubai Museum?

Remang lampu berwarna violet mulai nampak. Dari sini tampak kehidupan nelayan yang dilalui warga emirati saat itu. Diorama ini didukung dengan audio air dan perbincangan para nelayan.

Lewat dari kehidupan nelayan, ada diorama pasar yang ditampilkan. Selain menjadi nelayan, masyarakat Arab di sini juga berdagang rempah-rempah sampai mutiara laut.

Menyambung dari diorama nelayan, masyarakat pesisir juga menyelam untuk mencari mutiara. Mutiara tersebut kemudian dijual ke pasar.

Meski nelayan mutiara, namun kehidupan orang emirati terbilang miskin. Mata uangnya saja pernah berganti menjadi rupee.

Berjalan terus ke ruangan selanjutnya, ada diorama kehidupan pendidikan saat itu. Tak ada pendidikan formal yang di ditempuh masyarakat sampai tahun 1959. Pendidikan yang diberikan hanya lewat pengajian. Sekitar tahun 70an barulah Dubai disentuh dengan pendidikan formal.

Melewati diorama perempuan-perempuan Arab, mereka semua berpakaian panjang dengan penutup wajah atau topeng. Topeng ini digunakan untuk melindungi wanita saat itu.

Masuk ke diorama kehidupan gurun, ruangan dialasi dengan pasir gurun asli. Ruangan ini memberikan pengetahuan tentang Suku Bedouin (Badui) yang mengembara di gurun pasir.

Untuk membantu perburuan di padang gurun, suku ini memakai burung alap-alap atau falcon sebagai mata. Burung falcon akan dilatih untuk berburu kelinci, kemudian hasilnya untuk dimakan oleh suku Bedoiun. Ini mengapa falcon menjadi lambang dari Uni Emirat Arab.

Di ujung pameran ada toko suvenir dan ruangan khusus untuk benda-benda antik. Keluar dari museum ini, wisatawan disambut dengan pameran kapal besar untuk foto-foto.

Mengintip La Mer, Tempat Berbikini di Dubai

Nama Pantai Jumaerah terkenal karena peraturan bebas berbikini untuk turis di Dubai. Rupanya ada satu pantai lagi nih, namanya La Mer.

Bikini, berjemur dan main air jadi aktivitas favorit saat liburan ke pantai. Tak terkecuali pantai-pantai di timur tengah.

Pantai Jumaerah sendiri sudah terkenal dengan peraturan bebas untuk berbikini bagi turis. Dengan peraturan khusus hanya berbikini di area pantai, nama Jumaerah jadi begitu terkenal dikalangan wisatawan dunia.

Tapi rupanya, Dubai masih punya pantai lain yang juga bebas untuk berbikini, namanya La Mer. La Mer sendiri sebenarnya masih masuk dalam garis pantai Jumaerah.

Saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke pantai ini bersama Dubai Tourism Board. Hal pertama yang terlintas di kepala adalah betapa cantiknya pantai ini.

Pantai La Mer berada di alamat 2 A St, Dubai. Konsep Pantai La Mer terbilang sangat baik dibandingkan pantai yang lain.

Berjalan masuk dari puntu masuknya, La Mer dimulai dengan gerai-gerai restoran yang berjajar apik. Tiap gerai tampil instagrammable dan memiliki konsep indoor-outdoor yang menghadap langsung ke pantai.

Memang, pantai ini memperbolehkan turis untuk menggunakan bikini. Namun hanya di area pantai saja. Sambil mengamat-amati, saya melihat perbedaan kontras dibeberapa area.

Di area jalan dan pertokoan, pengunjung yang datang masih memakai baju lengkap. Tapi begitu sampai di area yang berpasir, pemandangan berubah 180 derajat.

Bikini, thong dan baju renang lainnya beredar bebas di area ini. Turis-turis berambut pirang terlihat mendominasi dengan kegiatan berjemur dan membaca buku.

Meski memasuki musim dingin, namun matahari bersinar cerah di Dubai. Yang membuat berbeda adalah hembusan angin dingin yang menjadikan suasana pantai malah jadi sejuk.

Para wisatawan terlihat mengambil tempat di atas pasir. Mereka menggunakan handuk atau kain sebagai alas untuk berjemur. Tak sedikit yang nampaknya ketiduran dengan cuaca seenak ini.

Pengunjung diperbolehkan untuk piknik di pinggir pantai. Tapi jangan coba untuk buang sampah sembarang ya. Nanti kamu bisa kena sanksi.

Pasirnya yang putih dan halus membuat saya betah untuk menikmati birunya laut. Pelampung dan garis batas renang terlihat seperti menari di tengah pantai.

Kalau kamu lupa bawa baju renang, tak usah khawatir. Karena ada kedai-kedai kecil di pinggir pantai yang menjual baju dan peralatan renang.

Di ujung pantainya, ada juga jasa penyewaan floatis dan watersport lainnya. Wih!

Namanya pantai pasti punya fasilitas ruang ganti dan kamar bilas. Ada ruang bilas gratis dan berbayar. Yang gratis berada di pinggir pantai dan terbuka, sedangkan yang berbayar berupa rumah seperti rumah yang diberi cat warna-warni.

Untuk bisa menikmati pantai ini, pengunjung diminta untuk mematuhi beberapa peraturan. Contohnya dilarang untuk membawa peliharaan, tak boleh bermesaraan dan dilarang mendirikan tenda di area pantai.

Memang, La Mer terbilang cantik dari pantai lainnya. Pantai ini mendapat julukan Dubai's most memorable beach. Digadang-gadang sebagai world class beachfront, La Mer nampak siap bersaing dengan pantai-pantai dunia lainnya.