Rabu, 11 Desember 2019

Kabar Terkini 6 Kilang yang Dibangun Pertamina

PT Pertamina (Persero) tengah mengebut pembangunan 6 kilang. Dari 6 kilang, 4 di antaranya merupakan perluasan yakni Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Balongan, Cilacap dan Dumai.

Kemudian, dua sisanya merupakan kilang baru yakni Grass Root Refinery (GRR) Tuban dan GRR Bontang. Bagaimana progresnya?

Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Ignatius Tallulembang menjelaskan untuk RDMP Balikpapan saat ini sudah masuk progres konstruksi, di mana telah mencapai 9%. Angka ini lebih tinggi dibanding target Pertamina sebesar 6%.

"Balikpapan sudah konstruksi dan sampai dengan hari ini atau akhir bulan kemarin progres 9% vs 6% plan artinya lebih cepat dari rencana," kata Ignatius dalam acara Media Breafing Proyek Kilang Stretegis di Kantor Pusat Pertamina Jakarta, Rabu (6/11/2019).

Dia mengatakan, proyek ini bakal rampung pertengahan tahun 2023 mendatang. Lanjutnya, untuk memitigasi risiko, pihaknya akan menggandeng partner yang mana akan diumumkan pada 10 Desember 2019 mendatang bertepatan ulang tahun Pertamina.

"Saya belum omongkan di sini siapa. Salah satu kado Pertamina 10 Desember terpilihnya partner untuk Balikpapan," ujarnya.

Kedua, untuk RDMP Balongan saat ini tengah berlangsung lelang kontrak pembangunan. Rencananya, penandatangan kontrak juga akan dilakukan pada Desember mendatang.

"Balongan tahap 1 bisa selesaikan lebih cepat 2022 target bisa diselesaikan," terang Ignatius.

Ketiga, kilang yang sedang dikebut ialah Kilang Cilacap. Dia menjelaskan, saat ini tengah berlangsung proses pengadaan lahan yang hampir 100%.

Lanjutnya, masih ada bidang lahan yang masih menunggu penyelesaian di Mahkamah Agung (MA).

"Saat ini kita sudah menyelesaikan pengadaan lahan sudah 100%. Pengadaan lahan memang ada salah satu pemilik, memang satu dalam proses MA tapi keputusan MA itu menjadi keputusan bersama dan kita akan patuhi. Sehingga 100% yang akan dibangun RDMP bisa eksekusi," terangnya.

Lanjutnya, memang yang tengah menjadi topik hangat ialah mengenai kerja sama antara mitra yakni Saudi Aramco. Dia bilang, kerja sama ini masih dalam pembahasan terkait valuasi aset. Hasil valuasi aset ditargetkan keluar Desember 2019 ini.

"Kesepakatan valuasi tahun ini. Hasil valuasi Desember, itu aja deh bahasanya," katanya.

"Kerja sama Aramco harus karena sudah kesepakatan bahwa ada perubahan-perubahan itu teknis aja," tambahnya.

Keempat, RDMP Dumai rencananya akan dilakukan penandatangan frame work agreement pada 10 Desember mendatang. Kilang ini ditargetkan rampung pada tahun 2027.

"Untuk Dumai sudah lama sejak 2016 kita sudah pre FS. Tetapi waktu itu supaya prioritas tidak sekaligus kita masih simpan dulu, tapi Desember ini kita dorong kita laporkan pemeritah, kita diskusi calon partner dapat respon sangat baik," katanya.

"Target 10 Desember kita kado kelima kita tanda tangan frame work agreement. Kita akan lanjutkan studinya Dumai lebih detail mengenai konfigurasi, engineering sampai eksekusi target 2027 project ini kita selesaikan," ungkapnya.

Kelima, untuk GRR Tuban saat ini dalam tahap pengadaan lahan, di mana pengadaan lahan mencakup penggantian lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Ia menargetkan, kilang ini rampung tahun 2026.

Begitu juga dengan yang terakhir yakni GRR Bontang yang masih fokus pada pengadaan lahan. Kilang ini rencananya rampung tahun 2025.

"Bontang masih frame work agreement. Sekarang ini concern pengadaan lahan, ada LMAN lahan negara 14 ha kita coba tambah lahan masyarakat, izin RT RW sudah. Pekerjaan engineering berlangsung karena 100% dikerjakan partner. Kita mendapat golden share 10% dan Pertamina melakukan oftake poroduk tertentu yang kita butuhkan," tutupnya.

Taiwan dan Arab Minat Kembangkan Kilang Balongan

 Pertamina mendapatkan investasi dari perusahaan Taiwan dan Abu Dhabi, Uni Emirat Arab untuk pengembangan di Kilang Balongan yang berada di Indramayu, Jawa Barat. Proyek itu dimulai awal 2020 dan ditargetkan beroperasi pada 2026.

Hal itu terungkap usia pertemuan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dengan Gubernur Jabar Ridwan Kamil di Gedung Pakuan, Jalan Otto Iskandardinata, Kota Bandung, Rabu (27/11/2019). Pertemuan keduanya berlangsung satu jam.

Nicke mengatakan investasi tersebut untuk pengerjaan proyek Petrokimia yang diintegrasikan dengan Kilang Balongan. Pihaknya melakukan pengembangan dengan memperluas kapasitas kilang dan pabrik petrokimia.

"Ini proyek Petrokimia yang diintegrasikan dengan kilang yang saat ini kilangnya sudah ada eksisting. Namun kilang ini akan kita ekspansi kapasitasnya dan diintegrasikan dengan pabrik petrokimia beserta turunannya. Jadi ini akan jadi integrated refinery and petrochemical plant terbesar dan ini letaknya di Indramayu, Jabar," kata Nicke usai pertemuan.

Kilang Balongan saat ini mampu memproduksi minyak 125.000 barel per hari (bph). Dengan perluasan kapasitas, kata Nicke, Kilang Balongan bisa memproduksi hingga 350.000 bph.

"Kapasitasnya untuk refinery menjadi 350.000 barel per hari dan untuk petrochemical bisa 2,5 juta nafta," ungkap dia.

Ia mengaku sengaja bertemu Gubernur Jabar Ridwan Kamil untuk meminta dukungan terkait perizinan dan penempatan lokasi. Rencananya tahap konstruksi dilakukan awal tahun 2020 dan ditargetkan beroperasi 2026.

"Kami memerlukan perizinan juga penempatan lokasi. Awal operasinya tahun 2026 bertahap. Jadi nanti kebutuhan tenaga kerjanya ada untuk konstruksi dan tahap operasi. Untuk tahap konstruksi dimulai awal tahun (2020) dan untuk masa operasi dimulai 2026," ujar Nicke.

Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan nilai investasi yang masuk dari proyek Pertamina di Kilang Balongan Indramayu mencapai Rp 100 triliun. Pihaknya berkomitmen memudahkan proses investasi tersebut.

"Total yang sudah konkret (investasi) ke Jawa Barat alhamdulillah sekitar US$ 8 miliar atau mendekati Rp 100 triliun. Tugas Pemprov adalah mengamankan tata ruang dan penunjukan lokasi wilayah yang dimintai Pertamina," tutur RK.

Menurutnya keberadaan proyek tersebut akan menyerap 30 hingga 35 ribu tenaga kerja tenaga kerja yang mayoritasnya warga sekitar. Sehingga, berdampak terhadap kesejahteraan warga sekitar.

"Yang paling penting ibu Dirut sudah komit mayoritas pekerja asal Indramayu. Dan ada inovasi menunggu operasi warga Indramayu akan dilatih dulu sehingga pas hari H operasi anak-anak Indramayu sudah punya ilmu tentang industri petrochemical," ujar RK.

Diusulkan Berstatus KEK

Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil mengusulkan Kilang Balongan berstatus KEK (kawasan ekonomi khusus).

"Kami juga mengusulkan upgrade mendapat status KEK (untuk Kilang Balongan) karena lahannya kan di atas 200 hektar," kata RK.

Menurutnya investasi untuk pengembangan Kilang Balongan ini sangat besar sehingga dibutuhkan puluhan ribu tenaga kerja untuk pengerjaan konstruksi yang rencananya dimulai tahun 2020.

"Total yang sudah konkret (investasi) ke Jawa Barat alhamdulillah sekitar US$ 8 miliar atau mendekati Rp 100 triliun. Tugas Pemprov adalah mengamankan tata ruang dan penunjukan lokasi wilayah yang dimintai Pertamina," tutur dia.

"Yang paling penting ibu Dirut sudah komit mayoritas pekerja asal Indramayu. Dan ada inovasi menunggu operasi warga Indramayu akan dilatih dulu sehingga pas hari H (2026) operasi, anak-anak Indramayu sudah punya ilmu tentang industri petrochemical," menambahkan.

Nicke berharap Kilang Balongan nantinya berstatus KEK. Dengan begitu, proyek pengembangan di lokasi tersebut bisa mendapat banyak kemudahan.

"Kami sangat berharap kemudian statusnya bisa jadi KEK karena akan mendapat beberapa kemudahan jadi kami berharap dukungan dari Pak Gubernur (Jabar)," ucap dia.

Ia menuturkan proyek yang dikerjakan Pertamina di kawasan tersebut yakin pabrik Petrokimia yang diintegrasikan dengan Kilang Balongan. Pihaknya melakukan perluasan kapasitas kilang dan pabrik petrokimia.

"Ini proyek Petrokimia yang diintegrasikan dengan kilang yang saat ini kilangnya sudah ada eksisting. Namun kilang ini akan kita ekspansi kapasitasnya dan diintegrasikan dengan pabrik petrokimia beserta turunannya. Jadi ini akan jadi integrated refinery and petrochemical plant terbesar dan ini letaknya di Indramayu, Jabar," jelas dia.