Sebanyak 18 unit Mercedes-Benz disiapkan untuk tamu negara saat pelantikan Presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin besok. Sekretariat Presiden (Setpres) mengatakan tidak dibebankan biaya sewa dari pihak penyewa, Mercedes Benz Indonesia.
"Khusus penyiapan kendaraan VVIP dan Cadangan VVIP, Sekretariat Presiden telah bekerja sama dengan Mercedes-Benz Indonesia dan mendapatkan dukungan kendaraan tanpa dikenai biaya sewa," ujar Kepala Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden Erlin Suastini dalam keterangan persnya, Sabtu (18/10/2019).
Adapun kendaraan tersebut terdiri dari 11 unit seri S450 dan 1 unit cadangan S450, serta 6 unit seri E300.
Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono sebelumnya mengatakan anggaran mobil untuk tamu negara sekitar Rp 1 miliar. Maksudnya, anggaran tersebut dipakai untuk kendaraan pendukung tamu negara yang berjumlah 66 unit.
"Selain menyiapkan mobil VVIP, Sekretariat Presiden juga menyiapkan 66 unit kendaraan pendukung tamu negara dengan anggaran sebesar Rp 1 miliar," ujar Erlin.
Mobil-mobil Mercy sempat diparkir di halaman Istana Negara. Mobil keluaran Jerman itu akan ditumpangi PM Australia Scott Morrisson, PM Malaysia Mahathir Mohamad hingga Presiden Filipina Rodrigo Duterte.
Orias Petrus Moedak dari Kupang, Freeport Jadi Dirut Inalum
Kementerian BUMN memutuskan menunjuk mantan Wakil Direktur Utama PT Freeport Indonesia (PTFI) Orias Petrus Moedak menjadi Direktur Utama PT Inalum (Persero) atau bos holding pertambangan. Orias menggantikan Budi Gunadi Sadikin yang sebelumnya ditunjuk Presiden Joko Widodo menjadi wakil Menteri BUMN.
Orias sebenarnya bisa dibilang bukan orang baru di Inalum. Sebelum di Freeport Indonesia, pria kelahiran Kupang 26 Agustus 1967 tersebut pernah berkarir di sejumlah perusahaan. https://bit.ly/33ewnzt
Salah satunya di Erns & Young. Di sana, ia bekerja sebagai senior auditor.
Pekerjaan itu ia jalani selama tiga tahun terhitung dari 1991-1994. Selepas dari perusahaan tersebut, ia melanjutkan karirnya di Bahana Securities sebagai keuangan.
Pekerjaan tersebut ia jalani selama tujuh tahun terhitung dari 1994-2001. Pada 2014-2016, ia memutuskan untuk melanjutkan petualangan karirnya menjadi direktur keuangan PT Pelabuhan Indonesia II.
Namun keberadaannya di BUMN tersebut tak lama. Ia kemudian berlabuh menjadi CEO di PT Pelabuhan Indonesia III pada 2016-2017.
Ia hanya bertahan selama satu tahun di perusahaan tersebut. Ia kemudian ditunjuk menjadi direktur utama PT Bukit Asam hingga akhirnya berlabuh menjadi direktur keuangan Inalum.
Tak lama berselang, ia dipercaya menjadi Wakil Direktur Utama PT Freeport Indonesia, hingga kemudian ditunjuk menjadi dirut Inalum. https://bit.ly/37EFFbN