Sabtu, 23 November 2019

Gas Bocor di Blok ONWJ, Jonan: Ini Kejadian Ketiga, Lagi Ditangani

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merespons peristiwa gelembung gas di sekitar anjungan Lepas Pantai YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ). Insiden ini terjadi pada 12 Juli 2019 lalu.

Jonan mengatakan, insiden tersebut dalam proses penanganan. Dia terus memantau penanganan insiden tersebut.

"Sejak 12 Juli anjungan lepas pantai offshore gas platform dioperasikan PHE ini miring. Sekarang oil spill sudah ada, gas sudah ada, lagi ditangani. Saya monitor saja sampai mana dan sebagainya," ujarnya dalam Seminar Nasional, Memetakan Makna Risiko Bisnis dan Risiko Kerugian Keuangan Negara di Sektor Minyak dan Gas Bumi, di Kantor BPK Jakarta, Senin (22/7/2019).

"Ini adalah kejadian yang ketiga, anjungan ini adalah salah satu dari anjungan yang dibangun oleh putra-putri Indonesia," tambahnya.

Atas kejadian tersebut Jonan pun meminta pemahaman bersama, teknologi sektor migas tidak hanya semata-mata soal hemat, namun harus mengutamakan keselamatan.

"Ini yang juga mohon ada pemahaman bahwa teknologi yang dipakai di pertambangan, hulu migas, di ekstraktif, bukan technology cost saving, tapi safety 100% terjamin," ujarnya.

Menurut Jonan, jika terjadi kecelakaan maka biaya yang mesti dikeluarkan akan jauh sangat besar.

"Karena kalau ada kecelakaan spend alot money itu gambaran dari saya," tuturnya.

Ini Dampak Terburuk Insiden Kebocoran Gas di Blok ONWJ

Terjadi insiden kebocoran yang menimbulkan gelembung di lapangan migas YYA, Blok Offshore North West Java (ONWJ). Sejak awal kejadian pada 12 Juli 2019, insiden itu masih berlangsung hingga saat ini.

PT Pertamina (Persero) selaku pemilik blok tersebut dan pihak lainnya seperti Kemenhub tengah berupaya mengatasi kejadian tersebut. https://bit.ly/2ODLEVu

Jika insiden itu tak kunjung bisa diatasi, lalu seperti apa dampak terburuknya?

Kondisi munculnya gelembung gas yang muncul di sekitar anjungan Lepas Pantai YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (ONWJ) masih berlangsung. PT Pertamina (Persero) sebagai pengelola pun tengah mengerahkan sumber daya terbaiknya untuk menangani peristiwa tersebut.

Pertamina sebelumnya telah mengirimkan tim tanggap darurat. Kemudian dilanjutkan dengan pengerahan sebanyak 7 tim ahli yang berasal dari berbagai sektor. Tim-tim tersebut dilengkapi dengan lebih dari 20 kapal dan berbagai peralatan yang mendukung seperti oil boom dan puluhan drum dispersant.

VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menjelaskan, pengerahan tim tersebut merupakan bagian dari upaya penanganan gelembung gas yang terjadi di anjungan tersebut.

"Kami terus melakukan upaya terbaik untuk penanganan di lokasi dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan. Kami terus berkordinasi dengan pihak terkait seperti SKK Migas, Ditjen Migas, KLHK, KKKS serta pihak lainnya," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (21/7/2019).

Kejadian ini sendiri terjadi di anjungan yang terletak sekitar 2 km dari pantai Utara Jawa, Karawang, Jawa Barat. PHE ONWJ pun telah mengaktifkan Incident Management Team (IMT) untuk menanggulangi kejadian tersebut.

Perusahaan menegaskan, prioritas utama yang telah dilakukan adalah memastikan keselamatan karyawan yang bekerja sebagai bagian dari team emergency response, masyarakat dan lingkungan sekitar. Selain itu juga memastikan isolasi serta pengamanan di sekitar lokasi kejadian.

Pertamina menekankan akan terus melakukan upaya maksimal untuk penanganan. Peristiwa serupa pernah terjadi dengan skala yang lebih besar seperti di lapangan Macondo, Gulf of Mexico. https://bit.ly/2KJPpr1

Pertamina Terjunkan Tim Khusus Tangani Dampak Gas Bocor di Blok ONWJ

PT (Persero) Pertamina terus berupaya secara intensif dan maksimal untuk mengatasi kebocoran gas yang menimbulkan gelembung udara di sumur YYA-1 Blok Offshore North West Jawa (ONWJ), termasuk mencegah kerusakan lingkungan dengan mengerahkan 27 unit kapal dan alat penangkap tumpahan minyak (oil boom) di Perairan Pantai Utara Jawa, Karawang Jawa Barat.

"Kami juga terbuka dengan bantuan dan peralatan dari SKK Migas maupun dari instansi lain, termasuk dari KKKS. Sekarang semuanya bekerja secara maksimal di lapangan," kata Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman kepada wartawan di Jakarta, Selasa (23/7/2019). https://bit.ly/35rxr4D

Menurut Fajriyah Usman, penanganan bocoran gas di sumur yang dioperatori Pertamina Hulu Energi ONWJ ini dilakukan dengan melibatkan pihak-pihak yang kredibel, kompeten dan memiliki pengalaman yang baik dalam menangani masalah yang sama.

Adapun salah satu imbas kebocoran gas ini, terjadi tumpahan minyak di sekitar lokasi pengeboran. Dalam menangani tumpahan minyak Pertamina dibantu oleh Oil Spill Combat Team (OSCT) Indonesia yang ahli dan spesialis menanganinya.

Selain itu, juga dilibatkan Boot & Coots, perusahaan asal Amerika Serikat yang telah memiliki pengalaman dalam menyelesaikan peristiwa di Gulf Mecixo.

"Seluruh upaya tersebut sebagai komitmen dan keseriusan Pertamina dalam mengatasi peristiwa di sumur migas lepas pantai tersebut baik dari aspek operasional maupun lingkungan hidup,"katanya.

Di bagian lain, Kasubdit Penanggulangan Musibah dan Pekerjaan Bawah Air Direktorat Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Ditjen Hubla Kementerian Perhubungan, Een Nuraini Saidah mengatakan pihaknya sudah mendapatkan laporan terjadinya tumpahan minyak di wilayah kerja PHE ONWJ sejak akhir pecan kemarin.

'Kemenhub sudah melakukan sejumlah langkah-langkah antisipasi guna mempercepat penyelesaian tumpahan minyak tersebut. Koordinasi sudah dilakukan dengan pihak Pertamina," kata Een Nuraini.

Dalam rapat yang digelar di Kementerian Perhubungan, Selasa (22/7/2019) kemarin, juga membahas tentang kemungkinan menaikkan status kejadian tumpahan minyak milik PHE ONWJ tersebut.

Namun hingga Selasa (23/7/2019) hari ini masih ditetapkan dalam level tier 1, karena dianggap masih bisa ditangani Pertamina bersama tim yang dilibatkan.

Een juga mengungkapkan bahwa pihaknya sudah mendapat laporan dari Pertamina bahwa dalam penanggulangan tumpahan minyak di Anjungan Lapas Pantai YY milik PHE ONWJ melibatkan pihak konsultan yakni Oil Spill Combat Team (OSCT) Indonesia untuk strategi penanganan tumpahan minyak agar efektif, karena penanganannya harus cepat dan dalam waktu singkat.

"Kami mendapatkan laporan bahwa OSCT jadi konsultan langsung dari PHE ONWJ dan sudah bekerja di lapangan," kata Een Nuraini. https://bit.ly/35tnJP8