Sabtu, 23 November 2019

Soal Tumpahan Minyak Pertamina, Menteri LHK Pikir-pikir Beri Sanksi

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) masih pikir-pikir untuk memberi sanksi ke PT Pertamina (Persero) berkaitan tumpahan minyak di lapangan migas offshore north west Java (ONWJ).

Menteri LHK Siti Nurbaya menjelaskan, pihaknya tak mau terlalu buru-buru bicara soal sanksi buat Pertamina. Pihaknya melakukan pendekatan lain.

"Entar dulu dong, masa sudah mau langsung sanksi saja. Makanya supaya jangan apa-apa main disanksi, dari awal dia harus sudah di-guide karena kan pemerintah harus menjaga semua," kata dia di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Senin (5/8/2019).

Siti menjelaskan, begitu terjadi tumpahan minyak, pihaknya langsung menurunkan tim untuk mengecek kondisi di lapangan memandu pihak-pihak terkait.

"Hari kedua Wamen ESDM Arcandra turun, beliau telepon saya, saya bilang anak-anak sudah di lapangan. Saya membentuk tim kecil juga untuk mengikuti secara intern," jelasnya.

Upaya menanggulangi tumpahan minyak ONWJ di lepas pantai utara Jawa pun terus berjalan. Pertamina sebagai penanggung jawab telah mengerahkan 27 kapal dan 800 orang demi mengatasi masalah tumpahan minyak.

Selain itu juga sudah disiapkan 7 lapis penahan tumpahan minyak di tengah laut.

"Kita lakukan penanggulangan minyak sampai 7 lapis agar dampak di hilir minimal. Kita sangat besar effortnya di tengah laut. Lebih dari 27 kapal dikerahkan dan 800 orang hari ini membantu," kata Nicke di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta Pusat, Kamis (1/8/2019). https://bit.ly/2QJC0TW

Langkah Pertamina Agar Tumpahan Minyak di Karawang Tak Melebar

Pertamina Hulu Energi (PHE) terus berupaya untuk menanggulangi insiden gelembung gas yang terjadi di wilayah kerja Offshore Northwest Java (ONWJ) di Karawang, laut utara Jawa.

Terakhir PHE sudah berhasil melakukan tajak pengeboran sumur Relief Well YYA-1RW sebagai upaya menghentikan gelembung gas. Hal ini dilakukan setelah selama satu minggu melakukan survei untuk menentukan titik sumur dan penempatan rig.

Pengeboran sumur telah dimulai jam 14.00 WIB pada Kamis (1/8/2019), atau dua hari lebih cepat dari jadwal semula. Sampai pukul 06.00 WIB pagi ini, Sabtu (3/8/2019), pengeboran sudah mencapai kedalaman 136 meter dan terus dilanjutkan sampai target kedalaman 2765 meter.

"Rig Jack Up Soehanah sudah berada di sekitar lokasi relief well YYA-1RW pada tanggal 27 Juli 2019. Kegiatan mobilisasi rig ini dilakukan bersamaan dengan dilakukannya survei geohazard dan geotechnical, sehingga tidak ada waktu tunggu," kata VP Relations PHE Ifki Sukarya dalam keterangannya, Sabtu (3/8/2019).

"Proses pre load bisa langsung dilakukan begitu Marine survei warranty diperoleh. Sementara itu beberapa pekerjaan persiapan bisa dilakukan secara simultan sehingga dapat mempercepat waktu tajak dua hari dari rencana awal," tambahnya.

PHE ONWJ dalam hal ini juga menggandeng perusahaan berpengalaman di bidang well control yang sukses menangani hal yang sama di Teluk Meksiko. Salah satunya untuk membantu memberikan pandangan dan kajian bersama terkait optimisasi penanganan situasi seperti ini.

Selama proses pengeboran relief well YYA-1RW berlangsung, PHE ONWJ terus memastikan keselamatan tim, masyarakat, serta menyelesaikan permasalahan lingkungan di sekitar lokasi.

PHE ONWJ terus berupaya optimal menahan tumpahan minyak tidak melebar ke perairan yang lebih luas dengan melakukan strategi proteksi berlapis di sekitar anjungan dan mengejar, melokalisir, serta menyedot ceceran minyak yang melewati batas sabuk oil boom di sekitar anjungan. https://bit.ly/2XDk12K

Sumur Sudah Disumbat, Pertamina Lanjutkan Eksplorasi di Laut Karawang

Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java bakal meneruskan eksplorasi di laut Karawang. Sebab masih terdapat banyak cadangan minyak dan gas di sana. Apalagi, kebocoran di sumur YYA-1 dinyatakan telah selesai disumbat.

"Sumur YYA-1 sudah disemen. Sudah aman. Begitupun dengan sumur YYA 2 dan 3 sudah ditutup permanen. Kami akan kaji untuk kembali eksplorasi di sana. Karena cadangan minyak dan gasnya masih besar," kata VP Relations Pertamina Hulu Energi saat ditemui di Kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Karawang, Selasa (19/11/2019).

Untuk mencegah kebocoran terulang, Ifki memastikan lokasi sumur baru tak akan dekat dengan lokasi sumur YYA-1 yang bocor beberapa bulan lalu. Ifki menuturkan Pertamina bakal mencari lokasi yang aman.

"Sumur baru letaknya tak terlalu dekat dengan YYA-1. Jaraknya yang aman saja, sekitar 2 kilometer dari sumur lama yang bocor," ungkap Ifki.

Eksplorasi di sumur baru nanti, kata Ifki, dipastikan positif dilakukan. Sebab di bawah laut Karawang masih tersimpan sumber daya melimpah untuk kebutuhan negara.

"Karena ada cadangan lumayan besar ya. Jumlahnya saya lupa yang jelas sehari bisa diambil empat sampai lima ribu barel minyak dan bisa diambil 25 MMBTU. Kan lumayan itu untuk industri atau PLN," beber Ifki.

Sebelum proyek sumur baru dimulai, kata Ifki, Pertamina sedang fokus memulihkan lingkungan yang rusak akibat pencemaran minyak mentah. Saat ini, Pertamina sedang menggandeng sejumlah ahli dari IPB dan ITB untuk mendata berbagai dampak pencemaran minyak di pesisir Karawang. https://bit.ly/37yioI7

"Kita akan klasifikasi pantai yang rusak. Mana yang terpapar terparah atau sedang. Untuk efektifitas pemulihan," tandasnya.

Ihwal tanggung jawab dampak sosial dari pencemaran tersebut, Pertamina masih mendata secara akurat berbagai kerugian yang dialami masyarakat pesisir Karawang. "Untuk mencegah penggelembungan data, kita hitung secara akurat. Setelah data pasti, kita berikan ganti rugi sesuai aturan," pungkas Ifki.

Produksi Udang BUMN Diprediksi Turun Imbas Tumpahan Minyak Pertamina

Perum Perindo tengah berhitung dampak tumpahan minyak dari anjungan lepas pantai milik Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) di Karawang, Jawa Barat. Di wilayah tersebut, Perindo mengelola 60 hektare (ha) tambak udang vaname.

Direktur Utama Perum Perindo Risyanto Suanda menjelaskan, saat ini pihaknya menyetop pasokan air dari laut untuk mengisi tambak. Langkah ini dilakukan untuk melindungi tambak udang.

"Dampaknya oil spill gimana, oil spill sudah ke mana-mana, termasuk ke tambak kami, kita sistemnya lock system. Jadi tidak lagi memasukkan air dari laut, kami gunakan reservoir persediaan plus air tawar," katanya di Kementerian BUMN, Jakarta Pusat, Senin (16/9/2019).

Dia melanjutkan, tiap hektare tambak diperkirakan bisa memanen udang sebanyak 10 ton. Dengan begitu, dalam 60 ha, ada 600 ton udang yang bisa dipanen.

"Kalau sehektare 10 ton, kalau kita 60 hektar sekali panen 600 ton, cukup besar," ujarnya.

Soal potensi kerugian, ia enggan membeberkan secara rinci. Dia menuturkan, perusahaan saat ini tengah fokus proses mitigasi. Namun bisa dipastikan produksi udang akan menurun.

"Kalau kami lebih hati-hati ya, kita sudah bicara Pertamina. Di lapangan lagi sama-sama mitigasi, saya lebih tertarik pertama produksi sampai panen survive. Kedua mitigasi ke depannya, kita lagi melihat daya dukung lingkungan, kalau operate 6 sub blok 60 ha, ke depan apakah kita kurangi sub blok, apakah kurangi kapasitasnya. Kalau tebar 70 ekor per meter, mungkin reduce 50-40 ekor per meter, kita lagi hitung terus," paparnya. https://bit.ly/2KOz5FD