Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) masih pikir-pikir untuk memberi sanksi ke PT Pertamina (Persero) berkaitan tumpahan minyak di lapangan migas offshore north west Java (ONWJ).
Menteri LHK Siti Nurbaya menjelaskan, pihaknya tak mau terlalu buru-buru bicara soal sanksi buat Pertamina. Pihaknya melakukan pendekatan lain.
"Entar dulu dong, masa sudah mau langsung sanksi saja. Makanya supaya jangan apa-apa main disanksi, dari awal dia harus sudah di-guide karena kan pemerintah harus menjaga semua," kata dia di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Senin (5/8/2019).
Siti menjelaskan, begitu terjadi tumpahan minyak, pihaknya langsung menurunkan tim untuk mengecek kondisi di lapangan memandu pihak-pihak terkait.
"Hari kedua Wamen ESDM Arcandra turun, beliau telepon saya, saya bilang anak-anak sudah di lapangan. Saya membentuk tim kecil juga untuk mengikuti secara intern," jelasnya.
Upaya menanggulangi tumpahan minyak ONWJ di lepas pantai utara Jawa pun terus berjalan. Pertamina sebagai penanggung jawab telah mengerahkan 27 kapal dan 800 orang demi mengatasi masalah tumpahan minyak.
Selain itu juga sudah disiapkan 7 lapis penahan tumpahan minyak di tengah laut.
"Kita lakukan penanggulangan minyak sampai 7 lapis agar dampak di hilir minimal. Kita sangat besar effortnya di tengah laut. Lebih dari 27 kapal dikerahkan dan 800 orang hari ini membantu," kata Nicke di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta Pusat, Kamis (1/8/2019). https://bit.ly/2QJC0TW
Langkah Pertamina Agar Tumpahan Minyak di Karawang Tak Melebar
Pertamina Hulu Energi (PHE) terus berupaya untuk menanggulangi insiden gelembung gas yang terjadi di wilayah kerja Offshore Northwest Java (ONWJ) di Karawang, laut utara Jawa.
Terakhir PHE sudah berhasil melakukan tajak pengeboran sumur Relief Well YYA-1RW sebagai upaya menghentikan gelembung gas. Hal ini dilakukan setelah selama satu minggu melakukan survei untuk menentukan titik sumur dan penempatan rig.
Pengeboran sumur telah dimulai jam 14.00 WIB pada Kamis (1/8/2019), atau dua hari lebih cepat dari jadwal semula. Sampai pukul 06.00 WIB pagi ini, Sabtu (3/8/2019), pengeboran sudah mencapai kedalaman 136 meter dan terus dilanjutkan sampai target kedalaman 2765 meter.
"Rig Jack Up Soehanah sudah berada di sekitar lokasi relief well YYA-1RW pada tanggal 27 Juli 2019. Kegiatan mobilisasi rig ini dilakukan bersamaan dengan dilakukannya survei geohazard dan geotechnical, sehingga tidak ada waktu tunggu," kata VP Relations PHE Ifki Sukarya dalam keterangannya, Sabtu (3/8/2019).
"Proses pre load bisa langsung dilakukan begitu Marine survei warranty diperoleh. Sementara itu beberapa pekerjaan persiapan bisa dilakukan secara simultan sehingga dapat mempercepat waktu tajak dua hari dari rencana awal," tambahnya.
PHE ONWJ dalam hal ini juga menggandeng perusahaan berpengalaman di bidang well control yang sukses menangani hal yang sama di Teluk Meksiko. Salah satunya untuk membantu memberikan pandangan dan kajian bersama terkait optimisasi penanganan situasi seperti ini.
Selama proses pengeboran relief well YYA-1RW berlangsung, PHE ONWJ terus memastikan keselamatan tim, masyarakat, serta menyelesaikan permasalahan lingkungan di sekitar lokasi.
PHE ONWJ terus berupaya optimal menahan tumpahan minyak tidak melebar ke perairan yang lebih luas dengan melakukan strategi proteksi berlapis di sekitar anjungan dan mengejar, melokalisir, serta menyedot ceceran minyak yang melewati batas sabuk oil boom di sekitar anjungan. https://bit.ly/2XDk12K