Sabtu, 23 November 2019

Ekonom Waspadai Transisi Masif di Sektor Energi

 Sejumlah ekonom memprediksi akan terjadi sebuah transisi masif di sektor energi. Salah satunya Senior Director BCG Center for Energy Impact Jamie Webster yang mengatakan adanya kondisi yang serba tidak pasti saat ini baik di negara berkembang maupun yang sudah mapan.

"Industri energi saat ini sudah makin tidak terprediksi baik untuk negara yang berkembang secara ekonomi maupun yang mapan. Ketidakpastian sekarang 2,5 kali lebih tinggi, baik dalam hal kebijakan, ekonomi, geopolitik, teknologi, dan masa depan energi," ujar Jamie dalam keterangan tertulis, Rabu (20/11/2019).

Hal tersebut disampaikannya dalam forum Pertamina-BCG Economist Forum 2019 di Jakarta, Selasa (19/11/2019). Menurut Jamie, dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi, maka para pelaku di sektor energi juga harus bersiap untuk beberapa hal. https://bit.ly/2L23tg3

Pertama, kata James, persiapkan diri untuk menghadapi perubahan yang tidak terprediksi. Kedua, bersiap bahwa harga bisa naik turun tanpa bisa diprediksi. Ketiga, persiapkan perusahaan untuk bisa mengikuti perubahan secara konstan dan berkomitmen untuk investasi di teknologi baru. Keempat, bersiap bahwa akan ada transisi energi yang cukup besar.

Sebagai informasi, Pertamina-BCG Economist Forum 2019 merupakan rangkaian dari forum energi terbesar di Indonesia, yaitu Pertamina Energy Forum yang akan dilaksanakan pada 26-27 November 2019 di Hotel Raffles Jakarta.

Menurut SVP Corporate Strategic Planning & Development Pertamina Daniel S Purba, melalui kegiatan ini Pertamina melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) dengan sejumlah ekonom dari 15 institusi ekonomi yang ada di Indonesia untuk melihat sejauh mana perkembangan energi secara global dan relevansinya dengan Indonesia.

"Sebagai pelaku di sektor energi, Pertamina tentu terus mengamati perkembangan yang terjadi di bidang ekonomi dan energi baik secara global, regional maupun nasional. Karena kami sangat berkepentingan untuk mengetahui apa yang terjadi," katanya.

Sementara itu, VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menjelaskan, Pertamina Energy Forum yang akan digelar minggu depan akan menghadirkan 18 narasumber yang merupakan para ahli di bidangnya baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

"Para narasumber tersebut akan mengisi lima panel besar yang dilaksanakan selama dua hari. Mereka akan memaparkan perkembangan terbaru dari industrinya masing-masing dan pengaruhnya terhadap sektor energi di Indonesia," ujarnya.

Beberapa narasumber tersebut adalah Nick Sharma selaku Managing Director Upstream, IHS Markit, Eagle Zhao selaku Managing Director of BYD Malaysia/Indonesia, Megawaty Khie selaku Country Director Google Cloud Indonesia, Hans Patuwo selaku Chief Operating Officer GOJEK dan Sandeep Biswas dari AT Kearney.

"Mereka adalah top rank di bidangnya dan kami mengundang para stakeholder di bidang energi untuk berdiskusi aktif dalam Pertamina Energy Forum 2019," tambahnya.

Acara ini terbuka untuk dihadiri oleh umum dengan melakukan pendaftaran melalui aplikasi Pertamina Energi Forum 2019 yang dapat didownload melalui Google Play maupun App Store. Untuk informasi selengkapnya, calon peserta dapat mengetahuinya melalui link www.pertamina.com/pef2019 https://bit.ly/2OAFVjf

Pertamina Mulai Uji Coba Bahan Bakar B30 di Jateng

Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Boyolali melakukan ujicoba penggunaan B30 pada produk gasoil mulai hari ini. Per hari ini produk biosolar di SPBU, terutama yang baru melakukan pengisian BBM jenis biosolar, sudah menggunakan produk B30.

General Manager Marketing Operation Region (MOR) IV PT Pertamina (Persero), Iin Febrian, mengatakan TBBM Rewulu dan TBBM Boyolali terpilih menjadi dua dari tiga TBBM Pertamina yang menjadi pilot project ujicoba B30. Uji coba akan berlangsung mulai hari ini hingga 31 Desember 2019.

Pihaknya menyatakan, MOR IV wilayah Jawa Tengah dan D.I Yogyakarta siap untuk melaksanakan kebijakan pemerintah terkait mandatori penggunaan B30 pada produk Gasoil.

"Kebijakan ujicoba penggunaan 30% FAME (Fatty Acid Methyl Ester) pada bahan bakar gasoil, diterapkan pada produk Dexlite dan Biosolar, mengikuti arahan dari Kepmen ESDM No. 227 Tahun 2019," ujar Iin Febrian, dalam pers rilisnya Kamis (21/11/2019).

Terkait dengan harganya, jelas Iin, seperti penggunaan komposisi B20 sebelumnya, penggunaan B30 ini tidak akan mempengaruhi harga Dexlite saat ini.

"Sesuai dengan Perpres nomor 24 tahun 2016 tentang Penghimpunan dan Penggunaan dana Perkebunan Kelapa Sawit yang menjelaskan bahwa patokan harga Biodiesel tetap akan mengacu pada indeks pasar minyak solar," kata Iin. https://bit.ly/35ynK4F

Penggunaan B30 tidak terbatas pada bahan bakar kendaraan saja. Tetapi juga pada solar industri. Menurut Iin, secara teknis pemberian 30% FAME kepada Dexlite dan Biosolar tidak akan mempengaruhi kualitas produk atau tidak mengurangi standar CN (Cetane Number) pada produk.

Sebagai informasi, FAME diklaim memiliki 'soap effect' yaitu dapat membersihkan saluran pembakaran dengan mengangkat endapan sisa pembakaran di saluran pembakaran kendaraan. Sehingga memiliki karakter pembakaran yang relatif bersih atau ramah lingkungan.

Lebih lanjut dikatakan Iin, produk B0 atau produk dengan komposisi solar murni nantinya akan digunakan hanya pada produk Pertamina Dex. Namun demikian ada beberapa pengecualian seperti pada pembangkit listrik yang menggunakan turbine aeroderivative, Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista), tetap digunakan B0 atau solar murni.

Uji coba bahan bakar B30 tersebut, mulai hari ini juga sudah disalurkan ke setiap SPBU. Terutama yang baru melakukan pengisian BBM jenis Biosolar sudah produk B30.

Unit Manager Communication & CSR MOR IV, Anna Yudhiastuti, menambahkan jika mendapati kendala dalam uji coba B30 ini, konsumen bisa mengadu ke call center Pertamina maupun layanan call center Biodiesel Kementerian ESDM.

"Apabila konsumen mendapati kendala dalam uji coba implementasi B30 dapat menghubungi call center Pertamina 135 dan layanan call center Biodiesel Kementerian ESDM yaitu 14036," kata Anna Yudhiastuti.

Ekonom Waspadai Transisi Masif di Sektor Energi

Sejumlah ekonom memprediksi akan terjadi sebuah transisi masif di sektor energi. Salah satunya Senior Director BCG Center for Energy Impact Jamie Webster yang mengatakan adanya kondisi yang serba tidak pasti saat ini baik di negara berkembang maupun yang sudah mapan.

"Industri energi saat ini sudah makin tidak terprediksi baik untuk negara yang berkembang secara ekonomi maupun yang mapan. Ketidakpastian sekarang 2,5 kali lebih tinggi, baik dalam hal kebijakan, ekonomi, geopolitik, teknologi, dan masa depan energi," ujar Jamie dalam keterangan tertulis, Rabu (20/11/2019).

Hal tersebut disampaikannya dalam forum Pertamina-BCG Economist Forum 2019 di Jakarta, Selasa (19/11/2019). Menurut Jamie, dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi, maka para pelaku di sektor energi juga harus bersiap untuk beberapa hal. https://bit.ly/2D8q8Tx