Sabtu, 23 November 2019

Pertamina Gratiskan Layanan Antar BBM dan LPG di Bandung

 PT Pertamina (Persero) baru meluncurkan layanan jemput bola pembelian BBM dan LPG melalui Pertamina Delivery Service (PDS) di Jawa Barat. Terhitung hari ini hingga akhir bulan, Pertamina menggratiskan biaya layanan PDS ini.

"Dari besok sampai akhir bulan pengiriman (BBM) masih gratis. Nanti setelah masuk Desember biaya pengiriman dikenai biaya Rp 20.000. Untuk harga BBM sesuai dengan di SPBU," ucap General Manager Pertamina MOR III Tengku Fernanda saat peluncuran PDS di SPBU Coco Dago, Jalan Ir H Djuanda, Kota Bandung, Jumat (22/11/2019).

Melalui layanan ini masyarakat atau konsumen bisa memesan BBM dan LPG Bright Gas untuk diantar ke rumah atau ke lokasi yang diinginkan. Tengku mengatakan, masyarakat yang ingin memesan BBM Pertamax Turbo atau Pertamina DEX tinggal menghubungi call center dengan nomor 135.

Tengku menjelaskan, untuk mendapat layanan PDS para konsumen diberi batasan minimal pemesanan. Dalam setiap pemesanan konsumen minimal memesan 10 liter dan maksimal 30 liter.

"Konsumen Pertamax Turbo itu konsumen khusus kita. Konsumen khusus harus dilayani dengan khusus juga. Kita ingin memudahkan konsumen khusus tadi," ucapnya.

Kendaraan yang digunakan untuk proses pengiriman BBM adalah sepeda motor. Pihaknya juga telah melatih para driver agar selalu memprhatikan keselamatan apalagi membawa bahan bakar.

"Delivery man-nya kita latih dari sisi safety. Kita latih dulu jadi tidak sembarang orang mengirim. Jadi utamakan keselamatan dan pelayanan," ujarnya.

Kata Tengku, layanan PDS ini sebelumnya sempat diujicobakan di Jakarta sejak Agustus lalu. Saat ini layanan tersebut sudah bisa juga dinikmati oleh masyarakat di beberapa daerah di Jabar. Seperti Kota Bandung ada tiga titik yakni di SPBU Laswi, Dago dan Suryasumantri. Kemudian ada juga satu SPBU di Tasikmalaya dan Kabupaten Bandung Barat.

Tengku menjelaskan, melalui layanan PDS para konsumen bisa memesan khususnya BBM jenis Pertamax Turbo dan Pertamina DEX. Dua jenis BBM tersebut dibutuhkan oleh para pengguna mobil super car dan lainnya.

"Kita perkenalkan satu bentuk layanan baru yang diberi nama Pertamina Delivery Service khusus bahan bakar Pertamax Turbo atau Pertamina DEX untuk mobil diesel," katanya. https://bit.ly/35uaPR7

Pertamina Perluas Layanan Jemput Bola di Jabar

PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region (MOR) III memperluas layanan jemput bola pembelian BBM dan LPG melalui Pertamina Delivery Service (PDS). Sebelumnya PDS sudah diujicobakan di 10 SPBU wilayah Jakarta sejak Agustus 2019.

General Manager Pertamina MOR III Tengku Fernanda mengatakan setelah diawali dengan uji coba di Jakarta, kini layanan PDS dikenalkan kepada konsumen di Jawa Barat, yakni Bandung dan sekitarnya. Menurutnya, layanan ini merupakan solusi berkendara dengan nyaman karena bahan bakarnya telah terisi penuh dari rumah.

"Konsumen hanya perlu menghubungi call center Pertamina 135 dan layanan dari Pertamina akan segera meluncur ke lokasi Anda. Adapun produk BBM yang bisa dipesan adalah Pertamax Turbo dan Pertamina Dex, serta LPG Bright Gas," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (22/11/2019).

Dalam acara Market Introduction Pertamina Delivery Service di SPBU Coco Dago, Tengku mengungkapkan, untuk wilayah Bandung dan sekitarnya terdapat 5 SPBU yang akan melayani pembelian melalui PDS, di mana 3 SPBU di kota Bandung, dan 1 SPBU di Kabupaten Bandung Barat serta 1 SPBU di Kota Tasikmalaya.

"Ke depan akan ada 45 SPBU di wilayah MOR III (Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat) yang akan memberikan layanan PDS," terangnya.

Adapun harga BBM yang dijual sama dengan harga di SPBU dengan tambahan biaya antar Rp 20 ribu per tujuan. Minimum order adalah 10 liter dengan maksimal 30 liter, sesuai dengan kapasitas motor pengantar BBM.

"Layanan PDS tetap memperhatikan unsur safety di mana operator yang bertugas mengantar BBM sampai tujuan sudah menerapkan aspek keselamatan dan keamanan sesuai standar di Pertamina," jelasnya. https://bit.ly/37smH89

Gas Bocor di Blok ONWJ, Jonan: Ini Kejadian Ketiga, Lagi Ditangani

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merespons peristiwa gelembung gas di sekitar anjungan Lepas Pantai YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ). Insiden ini terjadi pada 12 Juli 2019 lalu.

Jonan mengatakan, insiden tersebut dalam proses penanganan. Dia terus memantau penanganan insiden tersebut.

"Sejak 12 Juli anjungan lepas pantai offshore gas platform dioperasikan PHE ini miring. Sekarang oil spill sudah ada, gas sudah ada, lagi ditangani. Saya monitor saja sampai mana dan sebagainya," ujarnya dalam Seminar Nasional, Memetakan Makna Risiko Bisnis dan Risiko Kerugian Keuangan Negara di Sektor Minyak dan Gas Bumi, di Kantor BPK Jakarta, Senin (22/7/2019).

"Ini adalah kejadian yang ketiga, anjungan ini adalah salah satu dari anjungan yang dibangun oleh putra-putri Indonesia," tambahnya.

Atas kejadian tersebut Jonan pun meminta pemahaman bersama, teknologi sektor migas tidak hanya semata-mata soal hemat, namun harus mengutamakan keselamatan.

"Ini yang juga mohon ada pemahaman bahwa teknologi yang dipakai di pertambangan, hulu migas, di ekstraktif, bukan technology cost saving, tapi safety 100% terjamin," ujarnya.

Menurut Jonan, jika terjadi kecelakaan maka biaya yang mesti dikeluarkan akan jauh sangat besar.

"Karena kalau ada kecelakaan spend alot money itu gambaran dari saya," tuturnya.

Ini Dampak Terburuk Insiden Kebocoran Gas di Blok ONWJ

Terjadi insiden kebocoran yang menimbulkan gelembung di lapangan migas YYA, Blok Offshore North West Java (ONWJ). Sejak awal kejadian pada 12 Juli 2019, insiden itu masih berlangsung hingga saat ini.

PT Pertamina (Persero) selaku pemilik blok tersebut dan pihak lainnya seperti Kemenhub tengah berupaya mengatasi kejadian tersebut. https://bit.ly/2ODLEVu

Jika insiden itu tak kunjung bisa diatasi, lalu seperti apa dampak terburuknya?

Kondisi munculnya gelembung gas yang muncul di sekitar anjungan Lepas Pantai YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (ONWJ) masih berlangsung. PT Pertamina (Persero) sebagai pengelola pun tengah mengerahkan sumber daya terbaiknya untuk menangani peristiwa tersebut.

Pertamina sebelumnya telah mengirimkan tim tanggap darurat. Kemudian dilanjutkan dengan pengerahan sebanyak 7 tim ahli yang berasal dari berbagai sektor. Tim-tim tersebut dilengkapi dengan lebih dari 20 kapal dan berbagai peralatan yang mendukung seperti oil boom dan puluhan drum dispersant.

VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menjelaskan, pengerahan tim tersebut merupakan bagian dari upaya penanganan gelembung gas yang terjadi di anjungan tersebut.

"Kami terus melakukan upaya terbaik untuk penanganan di lokasi dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan. Kami terus berkordinasi dengan pihak terkait seperti SKK Migas, Ditjen Migas, KLHK, KKKS serta pihak lainnya," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (21/7/2019).

Kejadian ini sendiri terjadi di anjungan yang terletak sekitar 2 km dari pantai Utara Jawa, Karawang, Jawa Barat. PHE ONWJ pun telah mengaktifkan Incident Management Team (IMT) untuk menanggulangi kejadian tersebut.

Perusahaan menegaskan, prioritas utama yang telah dilakukan adalah memastikan keselamatan karyawan yang bekerja sebagai bagian dari team emergency response, masyarakat dan lingkungan sekitar. Selain itu juga memastikan isolasi serta pengamanan di sekitar lokasi kejadian.

Pertamina menekankan akan terus melakukan upaya maksimal untuk penanganan. Peristiwa serupa pernah terjadi dengan skala yang lebih besar seperti di lapangan Macondo, Gulf of Mexico. https://bit.ly/2KJPpr1