Sabtu, 23 November 2019

Pertamina Terjunkan Tim Khusus Tangani Dampak Gas Bocor di Blok ONWJ

PT (Persero) Pertamina terus berupaya secara intensif dan maksimal untuk mengatasi kebocoran gas yang menimbulkan gelembung udara di sumur YYA-1 Blok Offshore North West Jawa (ONWJ), termasuk mencegah kerusakan lingkungan dengan mengerahkan 27 unit kapal dan alat penangkap tumpahan minyak (oil boom) di Perairan Pantai Utara Jawa, Karawang Jawa Barat.

"Kami juga terbuka dengan bantuan dan peralatan dari SKK Migas maupun dari instansi lain, termasuk dari KKKS. Sekarang semuanya bekerja secara maksimal di lapangan," kata Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman kepada wartawan di Jakarta, Selasa (23/7/2019). https://bit.ly/35rxr4D

Menurut Fajriyah Usman, penanganan bocoran gas di sumur yang dioperatori Pertamina Hulu Energi ONWJ ini dilakukan dengan melibatkan pihak-pihak yang kredibel, kompeten dan memiliki pengalaman yang baik dalam menangani masalah yang sama.

Adapun salah satu imbas kebocoran gas ini, terjadi tumpahan minyak di sekitar lokasi pengeboran. Dalam menangani tumpahan minyak Pertamina dibantu oleh Oil Spill Combat Team (OSCT) Indonesia yang ahli dan spesialis menanganinya.

Selain itu, juga dilibatkan Boot & Coots, perusahaan asal Amerika Serikat yang telah memiliki pengalaman dalam menyelesaikan peristiwa di Gulf Mecixo.

"Seluruh upaya tersebut sebagai komitmen dan keseriusan Pertamina dalam mengatasi peristiwa di sumur migas lepas pantai tersebut baik dari aspek operasional maupun lingkungan hidup,"katanya.

Di bagian lain, Kasubdit Penanggulangan Musibah dan Pekerjaan Bawah Air Direktorat Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Ditjen Hubla Kementerian Perhubungan, Een Nuraini Saidah mengatakan pihaknya sudah mendapatkan laporan terjadinya tumpahan minyak di wilayah kerja PHE ONWJ sejak akhir pecan kemarin.

'Kemenhub sudah melakukan sejumlah langkah-langkah antisipasi guna mempercepat penyelesaian tumpahan minyak tersebut. Koordinasi sudah dilakukan dengan pihak Pertamina," kata Een Nuraini.

Dalam rapat yang digelar di Kementerian Perhubungan, Selasa (22/7/2019) kemarin, juga membahas tentang kemungkinan menaikkan status kejadian tumpahan minyak milik PHE ONWJ tersebut.

Namun hingga Selasa (23/7/2019) hari ini masih ditetapkan dalam level tier 1, karena dianggap masih bisa ditangani Pertamina bersama tim yang dilibatkan.

Een juga mengungkapkan bahwa pihaknya sudah mendapat laporan dari Pertamina bahwa dalam penanggulangan tumpahan minyak di Anjungan Lapas Pantai YY milik PHE ONWJ melibatkan pihak konsultan yakni Oil Spill Combat Team (OSCT) Indonesia untuk strategi penanganan tumpahan minyak agar efektif, karena penanganannya harus cepat dan dalam waktu singkat.

"Kami mendapatkan laporan bahwa OSCT jadi konsultan langsung dari PHE ONWJ dan sudah bekerja di lapangan," kata Een Nuraini. https://bit.ly/35tnJP8

Agar Insiden di Sumur Blok ONWJ Tak Terulang, Ini Jurus Pertamina

PT Pertamina (Persero) sedang investigasi penyebab munculnya gelembung gas dan minyak pada sumur YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ). Hasil investigasi ini akan menjadi pijakan dalam operasi Pertamina agar insiden serupa tak terulang.

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, hal itu bukan berarti kinerja Pertamina tidak sesuai standar.

"Bahwa memang kami lakukan investigasi yang mendalam terhadap penyebab peristiwa ini, lalu memastikan lesson learned diterapkan dalam sistem pengelolaan operasional. Maksudnya, bukan berarti saat ini kinerja dan standar kami tidak sesuai dengan best practice ya," ujarnya di Jakarta, Kamis (25/7/2019).

"Namun sesuai yang saya sampaikan, bahwa industri migas memang high risk, dinamika-dinamika alam pasti ada," tambahnya.

Dia bilang, risiko alam dalam produksi migas salah satunya seperti anomali tekanan, gelembung gas dan lain sebagainya.

"Dari puluhan ribu sumur yang kita kelola, kan minor ya yang tiba-tiba jadi masalah, bukannya menyalahkan alam, namun itu sebabnya dibilang high risk," jelasnya.

Meski demikian, dia bilang, peringatan dini telah diterapkan Pertamina, sehingga penanganan untuk bencana bisa dilakukan secara cepat.

"Early warning system sudah ada, karenanya kami bisa cepat menanganinya, evakuasi pekerja juga cepat dan sebagainya," tutupnya. https://bit.ly/2QJmEi9

Gandeng Perusahaan AS, Pertamina Tutup Sumur Gas di Blok ONWJ

PT Pertamina (Persero) menggandeng perusahaan asal Amerika Serikat (AS) Boots and Coots untuk mengatasi gelembung gas dan minyak di sumur YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ). Nantinya, sumur itu akan ditutup dan tidak digunakan lagi.

Direktur Hulu Pertamina Dharmawan Samsu mengatakan, waktu yang dibutuhkan untuk menghentikan sumber gas dan minyak sekitar 8 minggu hingga 10 minggu sejak ditetapkan kondisi darurat.

"Diperkirakan akan memakan 8 minggu atau 10 minggu sejak dinyatakan kondisi darurat," katanya di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Kamis (25/7/2019).

Alasan Pertamina menggandeng perusahaan asal AS karena punya jam terbang mengatasi hal serupa. Bahkan, skalanya lebih besar.

Salah satu yang pernah diatasi Boots and Coots adalah insiden Teluk Meksiko.

" Dan untuk kegiatan penanggulangan sumur YY-1 Pertamina telah melibatkan sebuah perusahaan Boots and Coots perusahaan dari AS yang telah memiliki pengalaman dalam menangani kasus serupa termasuk skala yang lebih besar," jelasnya.

Menurutnya, untuk mengatasi gelembung ini akan dilakukan proses penyemenan. Dia bilang, sumur minyak ini tak akan digunakan lagi.

"Dengan teknologi cukup advance dan canggih.Setelah dilakukan penetrasi YY-1 itu kemudian dilakukan pemompaan semen untuk menutupnya," jelasnya.

"Artinya apa, sumur ini setelah dipermanenkan ditutup tidak untuk digunakan kembali," ujarnya. https://bit.ly/2Dafg7G