Sabtu, 23 November 2019

Pria di Probolinggo Tewas Dibacok Saat Hendak Perkosa Istri Orang

 Seorang pria di Kabupaten Probolinggo tewas dibacok saat hendak memperkosa istri orang. Ia dibacok oleh suami dari perempuan tersebut.

Pria yang menjadi korban pembacokan yakni Slamet Widodo (29) warga Desa Gunung Tugel, Kecamatan Bantaran. Sedangkan sang pembacok bernama Nanang Budianto (21). Ia merupakan suami dari Juliana (22), perempuan yang hendak diperkosa oleh Slamet.

Seperti informasi yang dihimpun, kejadian bermula saat Slamet mendatangi rumah Nanang sekitar pukul 09.00 WIB. Ia datang dengan maksud berhubungan badan dengan Juliana.

Namun sebelum aksi pemerkosaan itu dilancarkan, Nanang datang dan memergokinya. Nanang yang sebelumnya telah menyiapkan sebilah celurit langsung membacok tubuh Slamet.

Slamet tersungkur ke lantai. Ia tewas seketika dengan sekitar 4 luka bacokan di tubuhnya. Satreskrim Polres Probolinggo yang datang ke lokasi langsung menggelar olah tempat kejadian peristiwa. Untuk visum, mayat korban dibawa ke kamar jenazah RSUD dr Mohammad Saleh, Kota Probolinggo.

Kasat Reskrim Polres Probolinggo AKP Rizki Santoso mengatakan berdasarkan informasi yang dihimpun, Juliana diketahui telah dua kali diperkosa oleh Slamet. Bahkan pemerkosaan itu telah diceritakan Juliana ke Nanang.

"Dimungkinkan karena tahu jika istrinya pernah disetubuhi, akhirnya pelaku menyiapkan segala sesuatunya guna membunuh korban. Namun kami masih menyelidiki lebih dalam kasus persetubuhan ini," terang Rizki, Sabtu (23/11/2019).

ia menambahkan, Slamet tewas dengan luka bacokan di leher, perut kanan dan kiri serta tangannya. Sementara hubungan antara Slamet dan Julia tak lebih dari sekadar teman. Untuk dugaan perselingkuhan, Rizki mengaku masih dalam pengembangan. https://bit.ly/33fUXQy

"Untuk pelaku sudah kami amankan. Karena tadi pasca kejadian langsung menyerahkan diri," pungkasnya.

Diduga Masalah Asmara, Pria Ini Bersimbah Darah Dibacok 4 Orang

Abdul Halim (27), warga Dusun Raab, Desa Besuk, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo, ditemukan sekarat bersimbah darah di jalan desa. Luka bacokan didapati di sekujur tubuhnya.

Dari informasi yang dihimpun, sebelum ditemukan bersimbah darah, korban berpapasan dengan empat orang berpenutup muka. Mereka lalu terlibat perkelahian.

Korban yang seorang diri akhirnya tumbang setelah dikeroyok. Santer beredar kabar bahwa korban dikeroyok gara-gara masalah asmara.

Korban yang ditemukan bersimbah darah segera dievakuasi ke instalasi gawat darurat RSUD dr Mohammad Saleh, Kota Probolinggo, guna mendapatkan pertolongan medis.

Polisi yang datang ke lokasi kejadian langsung menggelar olah TKP. Selain mengumpulkan bukti, petugas meminta keterangan kepada sejumlah saksi atas pembacokan tersebut.

Kapolsek Bantaran Iptu Djamhari mengatakan, dugaan sementara, pelaku dianiaya oleh lebih dari satu orang. Dan untuk kronologi pastinya, Kapolsek mengaku masih dalam penyelidikan.

"Dimungkinkan pelaku lebih dari satu sesuai keterangan sejumlah saksi. Namun untuk pastinya, kami masih selidiki kasus ini apa penyebabnya. Kami juga masih memburu pelakunya," terang Djamhari.

Akibat pengeroyokan itu, korban mengalami sekitar 10 luka bacokan di sekujur tubuhnya. Korban masih kritis dan dirawat di IGD RSUD dr Mohammad Saleh. https://bit.ly/2DaG1so

Usai Bertemu, Menko Polhukam-Jaksa Agung Sepakat Program TP4 Dibubarkan

Menko Polhukam Mahfud Md telah bertemu dengan Jaksa Agung ST Burhanuddin. Pertemuan mereka berujung kesepakatan pembubaran program TP4D dan TP4P.

"Kalau satu hal yang agak substansi, tadi ada kesepakatan bahwa TP4P dan TP4D akan segera dibubarkan. TP4 itu artinya tim pengawal dan pengamanan pembangunan dan pemerintahan," kata Mahfud usai bertemu dengan Burhanuddin di Kejaksaan Agung di Jalan Sultan Hasanuddin Dalam, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (20/11/2019).

Mahfud menyebut program ini sudah tidak ada mudaratnya di Kejaksaan Agung. Menurutnya program pendampingan seperti TP4D ini tidak difungsikan sebagaimana mestinya.

"Dulu ini (TP4D) dimaksudkan untuk mendampingi para pemerintah daerah membuat program-program agar tidak terlibat dalam korupsi, agar bersih, tetapi kemudian dalam perkembangannya ya ada bagus, tapi ada keluhan kadangkala dijadikan alat oleh oknum-oknum tertentu misalnya untuk ambil keuntungan," jelas Mahfud.

"Ketika kepala daerah ingin membuat program pembantuan, lalu minta semacam persetujuan sehingga seakan-akan sudah bersih, tapi ternyata tidak bersih," imbuhnya. https://bit.ly/2XBPYsq

Menurut Mahfud, memang tidak semua kepala daerah berniat buruk terhadap program itu. Namun, karena sudah terlalu banyak oknum yang bermain bahkan berlindung di TP4D itu, menurut Mahfud, program itu lebih baik dibubarkan.

"Ada juga Pemda yang ingin berlindung dari ketidakbenaran seakan-akan sudah berkonsultasi dengan TP4. Nah hasil-hasil yang bagus ini dirusak oleh yang sedikit dilakukan. Oleh oknum bupati dan jaksa, sehingga pada akhirnya dari pada mudarat, TP4 ini akan segera dibubarkan, akan segera dibubarkan, dan itu tidak menyalahi hukum apa-apa," jelas Mahfud.

Mahfud mengatakan program pendampingan itu tidak harus melalui program seperti TP4. Dia juga menyinggung agar kejaksaan mengembalikan fungsinya yaitu penindakan.

"Karena dulu emang dasarnya presiden minta agar kejaksaan beri pendampingan, tapi pendampingan itu tak harus struktural dalam bentuk TP4 dan sebagainya, bisa berdasarkan kasus konkret. Kedua untuk mengembalikan fungsi kejaksaan adalah untuk penindakan, kalau untuk pencegahan itu fungsinya sudah ada institusi sendiri ada pengawasan lengkap, pengawasan fungsional," pungkasnya

Jaksa Agung Akan Evaluasi Program TP4: Bisa Dibubarkan atau Diganti

Jaksa Agung ST Burhanuddin mengungkapkan akan melakukan evaluasi terhadap program program Tim Pengawal, Pengamanan Pemerintah, dan Pembangunan (TP4). Burhanuddin mengatakan dari evaluasi tersebut TP4 akan dibubarkan atau diganti program lain.

"Ya ini kan nanti dievaluasi nanti apakah kita akan bubarkan, diganti dengan program lain. Yang jelas ini program tadinya kan bener. Kemudian ada oknum-oknum tertentu yang menyalahgunakan. Tentunya itu yang akan kita evaluasi," kata Burhanuddin seusai rapat kerja di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Jakarat, Kamis (7/11/2019).

Ketika ditanyakan adakah hitung-hitungan terkait benar atau tidak program tersebut, Burhanuddin mengatakan tidak ada. Namun Burhanuddin mengatakan masyarakat bisa menilai.

"Kalau hitungannya tidak ada. Tetapi kan gini ya, semuanya merasakannya kok. Anda juga kan merasakannya TP 4 itu bener apa enggak," ujarnya. https://bit.ly/33dMkGi