Jumat, 22 November 2019

Komjen Firli Dianggap Melawan Kodrat KPK Jika Tak Mundur dari Polri

 PPP memandang status anggota Polri yang disandang Ketua KPK Terpilih, Komjen Firli Bahuri, tak perlu dipermasalahkan. Pegiat antikorpsi menilai, tak mundurnya Firli dari Polri membuatnya tetap sebagai bawahan Kapolri.

"Jika Pak Firli tetap menjadi polisi aktif maka berdasarkan UU kepolisian dia memiliki atasan yang bernama Kapolri. Menurut UU itu bada kewajiban menaati perintah atasan dan melaporkan seluruh tindakan kepada atasannya. Itu sebabnya bertahan sebagai polisi aktif hanya akan membuat Pak Firli menjadi bawahan Kapolri," kata pegiat antikorupsi dari Universitas Andalas Feri Amsari kepada wartawan, Kamis (21/11/2019) malam.

Jika itu terjadi, Feri menilai Firli melanggar kodrat KPK. Sebab KPK sebagai lembaga independen tak semestinya berada di bawah kendali lembaga lain.

"Tidak mungkin pimpinan lembaga independen seperti KPK menjadi bawahan kepolisian. Bahasa sederhananya, status polisi Pak Firli melanggar kodrat kelembagaan KPK," ucapnya.

"Aturan ini yang harus ditegakkan. Terutama jika melihat UU nomor 28 tahun 1999 tentang penyelenggara negara yang bersih dan bebas KKN," imbuh dia.

Sebelumnya, Sekjen PPP Arsul Sani meminta status keanggotaan Komjen Firli Bahuri yang tak harus mundur dari Polri meski menjabat Ketua KPK tak dipermasalahkan. Arsul membandingkan dengan jabatan Kepala BIN Budi Gunawan dan Kepala BNPT Suhardi Alius yang juga tidak mundur dari Polri saat menjabat di kedua lembaga tersebut.

"Nah sekarang pertanyaannya kenapa sih kok kalau KPK itu selalu dipersoalkan? Kan yang namanya MPK ini juga lembaga penegak hukum untuk kejahatan serius, kejahatan luar biasa. BNPT juga sama, hanya jenisnya saja yang terorisme," kata Arsul di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (21/11/2019).

Menurut Arsul, cara pandang 'cinta mati' kepada suatu lembaga tidak boleh digunakan. Jika Firli dituntur mundur dari Polri, maka menurut Arsul, perwira polisi lain yang mengisi jabatan di luar kepolisian juga harus mundur.

"Jadi cara pandang kita itu harus cara pandang bukan karena cinta mati sebuah lembaga, bukan cara pandang itu. Cara pandangnya harus cara pandang yuridis. Kalau misalnya Ketua KPK yang berasal dari polisi aktif itu dituntut mundur, seharusnya semua dituntut mundur. Lalu TNI dari Kepala BNPB kan kepalanya TNI aktif," ujar Arsul.

PPP Bela Komjen Firli Tak Harus Mundur dari Polri Saat Jabat Ketua KPK

 Sekjen PPP Arsul Sani meminta status keanggotaan Komjen Firli Bahuri yang tak harus mundur dari Polri meski menjabat Ketua KPK tak dipermasalahkan. Arsul membandingkan dengan jabatan Kepala BIN Budi Gunawan dan Kepala BNPT Suhardi Alius yang juga tidak mundur dari Polri saat menjabat di kedua lembaga tersebut.

"Nah sekarang pertanyaannya kenapa sih kok kalau KPK itu selalu dipersoalkan? Kan yang namanya MPK ini juga lembaga penegak hukum untuk kejahatan serius, kejahatan luar biasa. BNPT juga sama, hanya jenisnya saja yang terorisme," kata Arsul di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (21/11/2019). https://bit.ly/2s39sKB

"Kenapa selalu orang meributkannya KPK? Kenapa tidak diributkan ketika misalnya Pak Suhardi Alius diangkat, atau yang sebelum-sebelumnya, atau ketika (Kepala) BNN diangkat?" imbuhnya.

Menurut Arsul, cara pandang 'cinta mati' kepada suatu lembaga tidak boleh digunakan. Jika Firli dituntur mundur dari Polri, maka menurut Arsul, perwira polisi lain yang mengisi jabatan di luar kepolisian juga harus mundur.

"Jadi cara pandang kita itu harus cara pandang bukan karena cinta mati sebuah lembaga, bukan cara pandang itu. Cara pandangnya harus cara pandang yuridis. Kalau misalnya Ketua KPK yang berasal dari polisi aktif itu dituntut mundur, seharusnya semua dituntut mundur. Lalu TNI dari Kepala BNPB kan kepalanya TNI aktif," ujar Arsul.

Arsul juga bicara soal anggapan Komjen Firli selaku Ketua KPK akan menjadi bawahan Kapolri Jenderal Idham Azis. Arsul pun menyinggung soal indepensi dan kepemimpinan.

"Independensi bicara pada satu leadership kepempinan kita. Bukan apakah dia bawahan atau atasan. Ketika Pak Firli menjadi Ketua KPK, dia bukan bawahannya Idham Azia atau Kapolri. Kalau cara berpikirnya seperti itu, seluruh penyidik KPK yang dari Polri disuruh mundur aja, karena mereka kan bawahannya polisi juga," ucapnya.

Arsul pun meminta agar prasangka buruk soal jabatan Firli itu dihindari. Menurut Arsul, pandangan-pandangan miring itu belum tentu terbukti.

"Jadi jangan demikian kita berasumsi, suuzan dengan prasangka tak baik. Apakah suuzannya terbukti apa tidak? Kita lihat lah setahun dulu bagaimana KPK di bawah komisioner yang baru, di bawah Pak Firli berjalan," tutur Arsul. https://bit.ly/2D8nZaa

Pegawai KPK yang Undang Ustaz Abdul Somad Akan Diperiksa

Kehadiran Ustaz Abdul Somad (UAS) untuk mengisi tausiah di KPK rupanya bukan atas undangan resmi KPK. Pegawai yang mengundang Somad untuk berceramah di KPK akan diperiksa.

"Ya itu nanti kepada pegawainya kita periksa," kata Ketua KPK Agus Rahardjo di gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (20/11/2019).

Agus mengatakan sekelompok pegawai yang menyampaikan undangan tausiah kepada Somad bukan dari Wadah Pegawai (WP) KPK. Ada organisasi lain yang disebut Agus sebagai BAIK (Badan Amal Islam) KPK.

"Bukan (WP KPK), ada sekelompok. Di KPK ada organisasi BAIK, badan apa gitu, BAIK itu singkatan. Udah, ya," sambung Agus.

Terkait kegiatan tausiah Somad di KPK, Agus mengaku sudah berupaya untuk mencegahnya. Agus beralasan pencegahannya itu terkait keberpihakan Somad pada Pemilu 2019, bukan secara keilmuan Somad sebagai ustaz.

"Bukan mencegah kapasitas UAS, tapi kan di beberapa waktu lalu pernah ada kontroversi ya mengenai beliau. Kami mengharapkan kalau yang khotbah di KPK itu orang yang inklusif, orang yang tidak berpihak pada aliran tertentu. Harapan kita semuanya begitu," imbuh dia.

Di sisi lain pada hari ini, KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq hadir ke KPK mengisi tausiah. Agus menyebut kehadiran Gus Muwafiq berbeda dengan Ustaz Somad. https://bit.ly/2pGA4QZ

"Kalau yang hari ini itu memang sudah direncanakan pimpinan sejak lama. Jadi beda, yang kemarin ada beberapa orang yang mengundang kajian Zuhur, kemudian sebetulnya tidak disetujui pimpinan. Kalau yang hari ini memang programnya pimpinan," ujar dia.

Ustaz Somad Isi Tausiah di KPK

 Ustaz Abdul Somad (UAS) tiba-tiba keluar dari dalam gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia mengaku baru mengisi tausiah tentang penguatan mental di tubuh lembaga antirasuah itu.

"Kemudian siang ini salat Zuhur di KPK dan ada kajian dalam rangka penguatan mental. Kalau di TNI ada bintal dan di kantor-kantor ada penguatan sesuai agama masing-masing, maka di KPK ada tausiah, ada pengajian menguatkan keyakinan. Apa yang kita lakukan adalah ibadah," kata Ustaz Somad di KPK, Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (19/11/2019).

UAS, yang mengenakan busana muslim dan berkalung sarung, keluar dari gedung KPK sekitar pukul 14.00 WIB. Ia terlihat didampingi sejumlah orang berpakaian busana muslim.

 UAS menjelaskan inti dari tema tausiyahnya tersebut mengenai pentingnya memiliki intergritas. MUAS menjelaskan inti tausiahnya tersebut adalah pentingnya memiliki integritas. (Ibnu/detikcom)

UAS menjelaskan inti tausiahnya tersebut adalah pentingnya memiliki integritas. Menurutnya, Islam mengajarkan, kecurangan sedikit apa pun akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. https://bit.ly/348Sfxy